36 Jam Pariaman-Bandung (The Journey of Prahum)

48

Penulis : Adi, perjalanan Pariaman-Bandung (5 s.d 7 November 2021) dengan Bus ANS

Rahasia

Ada banyak rahasia yang semestinya tetap menjadi rahasia. Banyak pula skandal yang harus segera diungkap. Walau itu sebuah aib yang tak layak dipublish. Namun ketika beban sudah terasa makin menyesakkan dada, mau tidak mau semua harus dibuka agar semuanya terang benderang.

Problematika dan skandal hidup jangan dibiarkan berlarut-larut agar tak menjadi beban belenggu dan bumerang yang bisa menjadi batu sandungan penjegal indahnya masa depan.

Tak ada waktu untuk berdiam diri dan bukan saatnya hanya menjadi pengembira. Dunia ini hanyalah panggung sandiwara, wajib berperan aktif dalam lakonnya masing-masing atau akan tertinggal dan tergilas selamanya.

Banyak jalan untuk menuju pulau impian, ada lebih dari 1001 cara untuk kesana. Intuisi, kolaborasi, variasi dan harmonisasi tentu diperlukan agar tujuan hidup makin hidup. Mulai sekarang, mulai dari diri sendiri dan mulai dari hal yang kecil saat ini juga sesuai kemampuan.

^^^
Pagi itu pagi Jum’at, hujan turun dengan lebatnya. Sesekali terdengar dentuman suara petir yang menyambar. Langit pagi terlihat hitam, terhalang awan tebal yang berarak. Seluruh bumi seakan mewakili perasaan hati seorang pembuat berita yang sedang melaju diatas motor tua Yamaha Hitam type 1FDC dengan plat nomor BA 3926 WT.

Waktu pada jam tangan menunjukkan pukul 06. 30 WIB, namun keadaan hari seperti menjelang maghrib. Perubahan alam yang dramatis tak sedikitpun menyurutkan tekadnya yang masih mengenakan sarung sepulang dari Masjid Annur Zainul untuk memacu kuda hitam besi kesayangannya menuju terminal Jati Pariman untuk menjeput Tiket Bus ANS yang telah dipesannya semalam melalui agen resmi.

“Aku seorang lelaki beranak tiga yang berumur 35 tahun. Hari ini dan seterusnya harus jadi panutan dan pengayom keluarga. Mereka harus bangga padaku yang telah berani berbuat dan bertanggungjawab.” Ujar pengendara motor itu kembali membajakan tekadnya.

Selain diposisi seorang ayah, diriku juga anak sulung dari dua bersaudara yang jaraknya 15 tahun. Aku dilahirkan di Matur 2 Juli 1986 sedangkan adikku Chandra dilahirkan 29 Oktober 2000 dalam hitungan Masehi.

“Tak boleh lagi ada kesedihan karena diriku tidak berbuat apa-apa. Detik ini juga semua harus dimulai walaupun dalam kondisi yang serba minim atau tidak sama sekali!” lanjutnya dengan tatapan mata elangnya.

Setelah kembali dari Terminal Bus type A, lelaki itu berbelok sekian derajat memotong jalan kesisi samping kiri, dia menutup seluruh kepala dan wajahnya dengan helm full face, terus menarik gas motornya menuju sebuah rumah di jalan soekarno-hatta no 110 lapai cimparuh pariaman, yang tak lain adalah rumah mertuanya tempat ia memadu kasih bersama istri dan 3 anaknya.

Sekarang mertuanya sedang berada dirumah kakak iparnya di Bengkulu yang berprofesi sebagai Dosen di Universitas Negeri Bengkulu, yang baru saja menyelesaikan pendidikan Doktornya di Universitas Tokyo Jepang. Sebuah Universitas riset bergengsi yang didirikan tahun 1970-an terkenal dengan studi Humaniora serta ilmu alam dan sosial.

“Abi, pukul berapa berangkat ke Bandung?” tanya istrinya yang wajah cantiknya dibingkai kerundung hitam. Melengkapi anggun dengan wajah keibuan. Dia berbicara sambil menyiapkan pakaian dan keperluan suaminya untuk kebutuhan selama sepekan.

“Pukul 08.30 WIB dengan Bus ANS dengan tempat duduk nomor 19,” jawabnya pada istrinya sambil berlalu.
Tanpa menunda waktu, dengan sigap dan gerak cepat (gercep) lelaki itu telah menyelesaikan segala kepeluannya dengan sedikit terburu-buru didesak cahaya langit mendung dan semakin hitam.

Tampaknya alam semakin membasahi Kota Pariaman yang terletak dipinggir pantai yang membuat warganya terhalang untuk keluar dipagi ini.

Kalau Jodoh Tak Kan Kemana

Setelah batal pulang bersama ANS 31 Royal Class aka Alika Januari 2021 lalu, ketika mengikuti Ujian Penyesuaian (Impassing) Jabatan Fungsional Pranata Humas, Akhirnya sekarang menikmati goyangan Mercedes Benz 1626 Air Suspensions dari Pariaman menuju Bandung dalam kegiatan Workshop Pengembangan Kompetensi Jabatan Fungsional Pranata Humas di Puteri Hotel Lembang Bandung Jawa Barat, dari tanggal 8 s.d 10 November 2021.

Dari Sumatera Barat, aku mengikuti pelatihan dengan 3 orang lainnya yang berasal dari Kantor Kementerian Agama di Sumatera Barat, aku sendiri Supriadi dari Kankemenag Kota Padang Panjang, Zulhapendi dari Kankemenag Kabupaten Solok, Harnina dari Kankemenag Kabupaten Limapuluh Kota dan Risna Yanti dari Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat yang berlokasi di Jalan Kuini Nomor 79B Ujung Gurun Kecamatan Padang Barat Kota Padang Sumatera Barat.

Sambil menunggu kereberangkatan dengan BUS ANS dari Pariaman, Jum’at (05/11/2021) pagi, aku pun selalu saling bertukar informasi dengan 3 orang teman lainnya via WhatsApp sembari ditemani istri tercinta. Aku dengan mantap mengatakan, akan mencoba lewat darat via tol Trans Sumatera seperti yang diceritakan Abak Fendi (panggilan Zulhapendi dari Kankemenag Kabupaten Solok).

Tak lama menunggu, ANS 31 Royal Class aka Alika Mercedes Benz 1626 Air Suspensions mendarat dan aku pun dengan sigap menaiki mobil munuju kursi nomor 19 sesuai yang tertulis ditiket. Dilepas oleh pelukan hangat yang istri tercinta dengan mata yang berkaca-kaca.

“Abi pergi untuk kembali, Insyaallah sayangku,” ucapku sambil mengecup keningnya.

Sampai di Padang Panjang, Kota Hujan Bumi Serambi Mekah Minangkabau pukul 11.03 WIB, ANS 31 Royal Class aka Alika transit di Terminal Bukit Surungan (Busur), aku segera turun mencari toilet umum untuk menuntaskan hajat yang tertahan dalam suasana dingin Full AC.

Setelah menyelesai hajat buang air kecil, aku pun berkata pelan, “selamat tinggal bumi serambi mekah kota padang panjang, diriku pergi ntuk menunaikan tugas demi mewujudkan marwah lembaga Kementerian Agama yang bermartabat,” ujarku pelan sambil merekam Kota Padang Panjang dari dalam Bus yang sedang melaju.

Sesekali aku bercerita dengan Bapak yang diduduk disampingku yang katanya turun di Pelabuhan Merak Banten, membahas rute jalan lintas Sumatera, termasuk jalur yang dilalui semenjak dari Lintas Timur hingga memilih jalur Lintas Tengah sampai ke Pelabuhan Bakauheni Lampung.

Kata Abak Pendi (Pranata Humas Ahli Muda), “memilih bus ANS Royal Class merupakan armada terbaru dari perusahaan “rang Bukik Tinggi” ini. Selain kelas tertinggi dalam pelayanan, armadanya ditopang oleh Mercedes Benz type 1626 Air Suspension,” Ujarnya.

Sabtu (06/11/2021) pukul 13.39 WIB ANS 31 Royal Class aka Alika BA 7123 QU sampai di Pelabuhan Bakauheni Lampung. Semua penumpang Bus diminta untuk mengumpulkan KTP guna melakukan Swab Antigen sebagai aturan perjalanan dari Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19 yang belum mereda.

Sepanjang jalan, komunikasi terus terjalin dengan rekan-rekan Pranata Humas yang juga berangkat dari Sumatera Barat, dengan harapan bisa bertemu untuk bersama-sama menuju tempat tujuan. Namun karena keterbatasan waktu dan tidak samanya Armada Bus dan alat Transportasi yang dinaiki, jadilah hanya bisa komunikasi lewat dunia maya melalui Chat WhatsApp.

Kisah selanjutnya tayang dalam episode berikutnya, mari tunggu kelanjutan 36 Jam Pariaman-Bandung (The Journey of Prahum)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here