Alih-Alih Sejahtera, ABK WNI Diperbudak Kapal China

165

Moslemtoday.com : Sebuah video yang menunjukkan jenazah ABK WNI di buang ke laut menjadi viral setelah diberitakan oleh media Korea Selatan, MBC News. Jenazah itu kemudian diketahui adalah seorang anak buah kapal (ABK) berkebangsaan Indonesia, Ari berusia 24 tahun.

Kasus membuang mayat ternyata tidak sekali. Sebelumnya, sudah ada 2 ABK yang dibuang ke laut, mereka Alphata (19) dan Sepri (24). Ketiga ABK yang dibuang ke laut itu bekerja di kapal berbendera China bersama 15 ABK Indonesia lainnya.

Para ke 18 ABK Indonesia itu bekerja berpindah-pindah. Kadang bekerja di kapal Long Xing 629, Long Xing 802, Long Xing 605 dan Tian Yu 08. Keempat kapal tersebut milik perusahaan Dalian Ocean Fishing Co., Ltd asal China.

Salah seorang ABK Indonesia yang bekerja di kapal itu kepada BBC mengatakan, bahwa dia tidak kuat bekerja di kapal Long Xing 629. BR, inisial ABK Indonesia itu tak kuat bekerja jam kerja di luar batas.

“Bekerja terus, buat makan (hanya dapat waktu) sekitar 10 menit dan 15 menit. Kami bekerja mulai jam 11 siang sampai jam 4 dan 5 pagi. Setiap hari begitu,” ujarnya yang sudah bekerja selama sekitar 14 bulan di kapal Long Xing 629, seperti dilansir dari Okezone.com.

MY, 20 tahun mengatakan bahwa dia kerap tidur hanya 3 jam. Sisanya membanting tulang mencari ikan. “Kalau kita ngeburu kerjaan (mencari ikan), kadang kita tidur cuma tiga jam,” ungkap Pria lulusan SMK di Kepulauan Natuna, Riau kepada BBC.

Mereka mengatakan kapten kapal mengharuskan pada ABK Indonesia mencapai “target” ikan dalam jumlah tertentu setiap harinya. “Mau protes, susah sekali, kita di tengah laut,” kata BR.

Sejumlah ABK mengatakan kontrak kerjanya tidak mengatur soal jam kerja. RV, 27 tahun asal Ambon, Maluku, adalah salah satunya. “Tidak tertulis soal jam kerja, jadi baru diatur oleh kapten kapal saat di laut,” ujar RV.

Meski bekerja membanting tulang, sejumlah ABK itu mengaku gaji mereka belum dibayar.

Sementara itu, Menlu Retno menjelaskan bahwa Pemerintah RI meminta klarifikasi dan informasi valid dari Dubes RRT mengenai apakah pelarungan, atau penguburan di laut atas tiga ABK WNI yang meninggal di kapal China sudah sesuai dengan standar Organisasi Buruh Internasional (ILO).

“Kita juga meminta agar Pemerintah Tiongkok membantu Pemerintah Indonesia untuk meminta tanggung jawab perusahaan agar hak gaji awak kapal kita dipenuhi dan kondisi kerjanya ditingkatkan jadi lebih baik,” jelas Menlu Retno.

“Kita  mengutuk  perlakuan  yang  tidak manusiawi yang dialami para ABK kita selama bekerja di  kapal-kapal  milik  perusahaan  RRT.  Berdasarkan informasi  atau  keterangan  dari  para  ABK,  maka perlakuan ini  telah mencederai  Hak-Hak Asasi Manusia,” ungkat Menlu Retno.

Sumber : Okezone.com, Kemlu.go.id

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here