Antara Muqtada Sadr, Hegemoni Iran dan Sejarah Panjang Muslim Sunni di Irak

1418

Moslemtoday.com : Kunjungan Muqtada Al-Sadr (Tokoh Syi’ah yang paling berpengaruh di Irak) ke Arab Saudi dan UEA menuai pro dan kontra. Muqtada Sadr walau sesama beraliran Syi’ah, Ia dikenal sebagai tokoh Syiah yang anti Iran dan Amerika. Dia memiliki pengikut besar di Baghdad dan kota-kota selatan Irak.

Kunjungannya ke Arab Saudi dan UEA telah membuka beberapa tabir dan membuat publik tersentak. Bagaimana mungkin seorang Sadr yang mengunjungi Saudi dan UEA yang mayoritas berpemahaman Sunni? Apakah Sadr telah melunak? Apakah ada agenda terselubung? atau tengah ber-taqiyyah?

Dua minggu setelah mengunjungi Jeddah, dan bertemu dengan Pangeran Mahkota Saudi Muhammad bin Salman. Muqtada al-Sadr kemudian mengunjungi UEA dan bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Di Abu Dhabi, pemimpin Syiah yang populer dengan sorban hitamnya itu bertemu dengan Ulama Sunni Irak terkemuka, Sheikh Ahmed al-Qubaisi yang mengenakan Kufiyah merahnya. Kedua pemimpin tersebut mengatakan bahwa mereka ingin mencari kebaikan bersama di Irak, antara Syiah dan Sunni.

Menurut kantor berita UEA, yang merilis kata-kata Sheikh Mohammed bin Zayed, kepada Muqtada al-Sadr, mengatakan: “Pengalaman masa lalu kita mengajarkan kita untuk selalu menyerukan apa yang bisa membuat orang Arab dan Muslim bersatu, dan menolak segala bentuk perpecahan”.

Pertemuan ini telah mempengaruhi sejumlah besar pengikut Al-Sadr di Irak. Sangat mengagumkan, bukan karena dia berusaha mendekati Arab Saudi atau UEA. Namun karena dia ingin negaranya Irak memiliki masa depan yang aman dan makmur dan terlepas dari pengaruh Teheran di Baghdad. Maka mendekati Arab Saudi dan UEA yang lantang terhadap Iran, ini merupakan langkah penting Al-Sadr yang berusaha untuk menghapuskan pergumulan sekterian antara Sunni dan Syiah di Irak dan membendung hegemoni Iran di Irak.

Proses Konsiliasi

Proses rekonsiliasi Irak sangat penting meskipun sudah terlambat. Namun bagi Arab Saudi, memulai proses konsiliasi ini akan memperbaiki hubungan antara Riyadh dengan Baghdad dan menyelamatkan warga Sunni Irak. Pada bulan Juni lalu, Arab Saudi sepakat membentuk Dewan Koordinasi Bersama antara Riyadh dengan Baghdad menindaklanjuti kunjungan Menlu Saudi, Sheikh Adel Al-Jubeir pada bulan Februari lalu ke Baghdad.

Bagi Arab Saudi, Kesejahteraan Irak mencerminkan semua orang Arab dan Muslim pada umumnya karena Irak adalah tempat di mana semua sekte dan sejarah Islam lahir. Pertempuran Khawarij pertama, Pertempuran Nahrawan, Bentrokan antara Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, Pertempuran Siffin, Tragedi Karbala, semuanya terjadi di medan perang Irak.

Simbol Mu’tazilah pertama, Washil bin Atta. Imamul Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal. dan Imam Syiah, Syekh At-Tusi yang terkemuka, adalah semua orang Irak. Oleh karena itu, Irak dan rakyatnya menjadi tempat penting dan bersejarah dalam benak umat Islam.

Langkah-langkah Muqtada al-Sadr mungkin tampak kecil pada beberapa sisi. Namun pada dalam menghadang hegemoni Iran, langkah ini menjadi peluang besar untuk orang Arab dan nasib Muslim Sunni di Irak.

Pada bulan April lalu, Al-Sadr menjadi pemimpin Syiah pertama yang mendesak Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk lengser dan menunjukkan ketidaksetujuannya dengan Iran dan Garda Revolusi Iran yang ikut campur mendukung pemerintah Suriah.

*Disadur dari tulisan Sheikh Mashari Althaydi, yang dipublikasikan di Al Arabiya News Channel, Rabu, 16 Agustus 2017, dengan judul “Muqtada Sadr and the great sectarian tussle”. Alih Bahasa : Deli Abdullah (Redaktur Moslemtoday.com Official)

Sumber : Al Arabiya News Channel

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here