Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?

1413
*Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?*

بسم الله الرحمن الرحيم
الســـلام عليــكم ورحــمة اﻟلّـہ وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَ نَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نَبِيَّ بَعْدَهُ

Ketika menjawab pertanyaan demikian, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab :
“Membuktikan bahwa kita itu bertauhid dengan benar yaitu dengan ikhlas kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Yaitu bahwa ibadah yang dilakukan hanya untuk Allah Ta’ala semata, bukan karena riya dan bukan karena ingin disukai orang. Namun beribadah dengan ikhlas kepada Allah. Ini dalam hal ibadah.

Demikian juga dalam hal rububiyah, yaitu dengan tidak bergantung kecuali kepada Allah, dan tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah.

Nabi Shallallahu ’alaihi Wa sallam bersabda kepada sepupunya, Abdullah bin Abbas radhiallahu ’anhuma :
“wahai anak muda, aku akan mengajarimu beberapa kata: jagalah Allah, niscaya ia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu, jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.

Ketahuilah, jika sebuah kaum berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kecuali apa yang telah Allah tuliskan bagimu. Dan jika sebuah kaum berkumpul untuk memberimu bahaya, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu”.

Dengan demikian, hendaknya senantiasa meminta kepada Allah agar ditetapkan pada kebenaran dan pada tauhid yang benar. Karena banyak orang yang mereka memiliki kadar minimal dari tauhid, dan mereka juga melakukan hal-hal yang mengikis tauhid.

Saya beri contoh yang banyak di sepelekan di antara manusia : mereka bergantung pada sebab-sebab. Memang benar telah kita ketahui bersama bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan sebab￾sebab untuk terjadinya sesuatu. Bagi orang sakit, Allah telah menetapkan adanya sebab-sebab yang membuat ia sembuh. Orang yang bodoh, Allah telah menetapkan adanya sebab-sebab yang bisa menghilangkan kebodohannya. Bagi yang menginginkan anak, Allah juga telah menetapkan adanya sebab-sebab agar bisa terlahir anak.

Demikianlah segala sesuatu berjalan. Namun sebagian orang menggatungkan diri pada sebab-sebab. Sehingga ketika sakit, mereka bergantung secara total pada rumah sakit dan dokter. Sehingga seolah-olah ia menganggap kesembuhan ada di tangan rumah sakit dan dokter. Ia lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang telah menjadikan rumah sakit dan dokter sebagai sebab yang bisa memberikan manfaat pada orang sakit, dan terkadang tidak bisa memberikan manfaat.

Jika rumah sakit dan dokter bisa memberikan manfaat, maka itu sesungguhnya merupakan karunia dari Allah dan terjadi atas takdir yang Allah tetapkan. Dan jika tidak bisa memberikan manfaat, maka itu merupakan ketetapan Allah yang adil dan takdir yang Allah putuskan.
Maka tidak sepatutnya, bahkan tidak diperbolehkan seseorang lupa kepada pencipta sebab dan malah mengingat-ingat sebab. Memang, kita tidak mengingkari bahwa sebab-sebab itu memiliki pengaruh
kepada hasil. Namun hasil ini terjadi karena izin Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala tentang sihir:

فَيَتَعَلَمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِقُونَ بِهِ بَيَْ الَْرْءِ وَزَوْجِهِ

“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya” (QS. Al Baqarah: 102)

lalu Allah berfirman:

وَمَا هُمْ بِضَارِينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَ بِإِذْنِ اللَهِ

“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah” (QS. Al Baqarah: 102).

Maka intinya, membuktikan bahwa kita itu bertauhid dengan benar yaitu dengan mengaitkan hati kita

kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam keadaan takut maupun dalam keadaan penuh harap, serta
mengkhususkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah semata.

Sumber: Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 1/2, Asy Syamila
Wallaahu A’lam
Wallaahu Waliyyut Taufiq

Semoga bermanfaat bagi Penulis dan bagi Para Pembaca Yang Budiman. Baarokallaahu Fiikum. Hadanallaahu Wa Iyyaakum Jamii’an. Yassarallaahu Lanal Khairo Haitsuma Kunna…

¤¤ AD-DIINU AN-NASHIIHAH ¤¤

Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an AL-WAFA’ AL-ISLAMY BIMA-NTB.
Selasa, 8 November 2016
============================

Contak Person :
HP/WA : 085253777143
BBM : 5FCB6D17
LINE : أبو حاصف ألبيماوى
FB : Ad-Diinu An-Nashiihah
TELEGRAM : Abu Hashif Wahyudin Al-Bimawi

Silakan SHARE pada yang lain yang belum mengetahui, agar Anda pun bisa dapat bagian pahala

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here