Berbuat Baik Kepada Keluarga Merupakan Akhlak Terpuji yang Sangat Dicintai Allah dan Rasulnya

842

Berbuat Baik Kepada Keluarga Merupakan Akhlak Terpuji yang Sangat Dicintai Allah dan Rasulnya

Islam mengajarkan kepada kita, tentang arti berbuat baik kepada sesama manusia. Mulai dari lingkungan keluarga, sanak saudara, tetangga atau orang-orang yang ada disekitarnya, bahkan sampai orang-orang yang berbeda agama pula, kita wajib berbuat baik padanya. Saling menyayangi, mengasihi, memberi, menghormati, menjunjung tinggi dan masih banyak yang lainya.

Hal ini merupakan tabia’at manusia yang memang harus ada dalam jiwa setiap dirinya. Karena pada kenyataanya, kita hidup di dunia ini tidak hanya sendirian (individualisme), melainkan tidak terlepas dari kehidupan orang lain (sosialisme). Karena kita juga manusia biasa, yang masih butuh dengan yang lainya. Tidak dipungkiri pula, ketika suatu saat kita mengalami kecelakaan, lantas tidak ada campur tangan yang lainya? Mungkin kita bisa mati seketika bukan?, atau apa jadinya ketika kita mengadakan sebuah hajatan lantas tidak ada yang membantunya?.

Kita hidup di dunia ini tidak terlepas dari yang lainya, semuanya merupakan bagian terpenting dalam kehidupanya. Tidak boleh saling menyakiti, menghina, menghakimi atau bahkan saling menjatuhkan satu sama yang lainnya. Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maidah: 8)

Ayat ini menjelaskan kepada kita, tentang larangan untuk membenci dan perintah untuk berbuat adil kepada sesama manusia, terkhusus untuk para kaum wanita yang selama ini dianggap hina oleh kaum pria. Banyak orang yang salah menafsirkan atau menggunakan terkait kata bahwa, seorang istri atau perempuan harus patuh dan taat kepada sang suaminya, karena ia merupakan bagian darinya, sehingga apa yang ia mau, harus di turutinya atau bahkan sampai menganiyayanya.

Namun pada dasarnya tidaklah demikian, perempuan juga manusia biasa seperti halnya kita semua. Meskipun ia bagian darinya, Ia juga harus memenuhi hak-haknya dirinya untuk menompang kehidunya. Butuh yang namanya tidur, makan, istirahat, kasih sayang, kebahagian dan lain sebagainya. Jadi wajar saja ketika suatu saat ia menolak apa yang ia (suami) inginkanya. Dan hal ini tidaklah mengurangi eksistensinya ia sebagai seorang istri, melainkan memang ini merupakan tanggung jawab bersama, baik bagi si suami maupun sitri dalam menjalin hubungan keluarganya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

(1937)- [2018]حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خِرَاشٍ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ، حَدَّثَنَا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ رَبِّهِ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ:” إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ. (رواه الترمذي)

Telah menceritakan kepada kami, Ahmad ibn Hasan ibn Khirasy al-Baghdady, telah menceritakan kepada kami Habban ibn Hilal, telah menceritakan kepada kami Mubarrak ibn Fadhalah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdu Rabbih ibn Sa’id, dari Muhammad bin Mungkadir, dari Jabir bin Abdillahberkata: Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang paling saya cintai dan paling dekat dengan tempat saya dihari kiamat adalah mereka yang memiliki akhlak mulia. Sementara orang yang paling saya benci dan tempatnya paling jauh dari saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang keras dan rakus, suka menghina dan sombong”. (HR. Turmudzi).[1]

Dalam hadis lain dijelaskan bahwa, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

(40)- [43 ] أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدَةَ، أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبُوشَنْجِيُّ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا فُضَيْلٌ يَعْنِي ابْنَ عِيَاضٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَوْرٍ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ: ” إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ مَعَالِي الأَخْلاقِ وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا “. (رواه املى ابي سعد)

Telah menceritakan kepda kami, Abu Hasan Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim bin Abdah. Telah menceritakan kepada kami, Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim al-Busanji. Telah menceritakan kepada kami, Ahmad bin Yunus. Telah menceritakan kepada kami, Fadhail ya’ni bin Ibnu ‘Iyadh, dari Muhammad bin Tsaur, dari Ma’mar, dari Abi Hazim, dari sahl bin Sa’d berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang buruk”.(HR. Amali Abi Sa’id).[2]

Dalam Al-Qur’an pula dijelaskan bahwa, Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong”. (Qs. Al-Isra: 37)

Dari keduanya juga menegaskan kepada kita bahwa, melakukan perbuatan kekerasan, rakus, suka menghina, dan sombong merupakan suatu sikap yang sangat tidak di sukai oleh Nabi atau bahkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala sendiri. Begitu juga sebaliknya, apabila kita melakukan kebaikan (berakhlak mulia), maka Allah Subhanahu Wa Taala dan Rasulnya sangat mencintainya. Karena memang, semua sikap yang telah disebutkan di atas ini (kecuali kebaikan), merupakan suatu sikap yang dapat menghancurkan kehidupan kita, baik dalam lingkungan keluarga atau yang lainya. Sehingga dengan adanya demikianlah, Allah Subhanahu Wa Taala dan Rasulnya melarangnya. Akan tetapi apabila ketika melakukan sebuah kebaikan, maka Allah akan memberikan kebaikan (ganjaran atau pahala) bagi mereka yang melakukanya, bahkan Allah sendiri akan membangun rumah di tepi sungai surga dan akan meringankan timbangan amal perbuatanya kelak di hari akhir nanti. Sebagaimana Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

4169)- [4800] حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الدِّمَشْقِيُّ أَبُو الْجَمَاهِرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو كَعْبٍ أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيُّ، حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيُّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص:أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ، وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ، وَإِنْ كَانَ[ ج  2 : ص  809 ]مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ “. (رواه ابو داوود)

Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Utsman Al-Dimsyaqi abu Jamahir, berkata: telah menceritakan kepada kami, Abu Ka’ab Ayub bin Muhammad Al-Sa’diyu. Telah menceritakan kepada kaami, Sulaiman bin Habib Al-Muharibi dari Abi Amamah, berkata: Rasukullah Saw. bersabda: “Saya menjamin sebuah rumah tepi surga bagi orang meninggalkan debat sekalipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang tidak berbohong sekalipun hanya bergurau, dan rumah di atas surga bagi orang yang mulia akhlaknya”. (Hr. Abu Daud).[3]

Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

(1922)- [2003] حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ اللَّيْثِ الْكُوفِيُّ، عَنْ مُطَرِّفٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ يَقُولُ: ” مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ “، قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي)

Telah menceritakan kepada kami, Abu Karaib. Telah menceritakan kepada kami, Qabishah bin Laits al-Kaufi dari Mutraf, dari Atha, dari Umi Darda, dari Abi Darada, berkata: saya mendengar Nabi bersabda: “Tidak ada sesuatu yang diletakkan pada timbangan hari kiamatyang lebih berat daripada akhlak yang mulia, dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat”. (HR.Tirmidzi).[4]

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa, berbuat baik kepada sesama manusia, baik dalam lingkungan keluarga maupun yang lainya, merupakan perilaku akhlak terpuji yang sangat di cintai Allah dan Rasulnya. Bahkan Allah Subhanahu Wa Taala sendiri akan memberikan ganjaran yang luar biasa bagi mereka yang melakuaknya atau mengamalkanya.

Oleh : Agus Damawi

[1]Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Sunananya yaitu, hadis ke-1937 dengan status hadis hasan. Dalam hadis lain pula, di jelaskan dalam kitabnya hadis ke-2103 dan 2150.  Salin itu, hadis ini pula diriwayatkan oleh Imam Bukhari hadis ke-6104, Imam Muslim hadis ke- 6177, dan Imam Ahmad ibn Hanbal hadis ke-. 6615, 6963, 8944, 10160, 10204, 10375.

[2]Hadis ini diriwayatkan oleh ImamAmali Abi Sa’id dalam kitabnya Amali Abi S’id Al-Bashrawi, hadis ke-40 dengan status hadis hasan. Hadis lain pula terdapat dalam kitab Al-Arba’un fi Syuyuh Al-Syufiyah lilmalaini, hadis ke-53. Atsani min Qawaid Abi Utsman Al-Bakhiri, hadis ke-25. Dan Al-Mustadrak Ala Shahihaini, hadis ke-140.

[3]Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud  dalam kitabnya, Sunan Abi Daud. Hadis ke-4169 dengan status hadis hasan. Hadis ini pula diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, dalam kitabnya Sunan Al-qubra Lil Baihaqi, hadis ke-19507. Imam Tabrani dalam kitabnya, Al-Mu’jam Kabir  Li Tabrani,  hadis ke-7361, 7548, 7668. Dan Musnad Asyaamiyaini Li Tabrani, hadis ke-1207 dan 1576.

[4]Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-tirmidzi  dalam kitabnya,  Sunan At-timidzi, hadis ke-1921dan 1922  dengan status hadis hasan. Hadis ini pula diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dalam kitabnya Sunan Abi Daud, hadis ke-4168. Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya, Musnad  Ahmad bin Hanbal,  hadis ke-26845. 26866, 26877. Dan 26896.

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here