Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA – Syarh Kitab At-Tauhid – BAB 1 : Tauhid

72

Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA – Syarh Kitab At-Tauhid – BAB 1 : Tauhid

Tauhid berasal dari bahasa arab yaitu dari kata وحد – يوحد – توحيدا yang artinya mengesakan, sendirian, satu, menjadikan satu. Secara syariat, tauhid adalah mengesakan Allah di dalam hal yang merupakan kekhususan bagi Allah baik itu di dalam masalah rububiyah, uluhiyah serta kesempurnaan nama dan sifat-sifatnya (asma wa shifat).

  1. Tauhid Rububiyah
    Tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya bahwasanya hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang telah menciptakan, Allah yang memberi rezki, Allah yang menghidupkan dan mematikan, Allah yang mengatur dan menguasai segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, tidak ada satupun yang ikut serta dalam perbuatan Allah. Allah-lah yang menciptakan jagat raya ini sendirian dan tidak ada yang ikut campur dalam penciptaannya.
    Tauhid jenis ini juga diakui oleh orang kafir di zaman Rasulullah, namun kalau pengakuan hanya sebatas ini saja, maka tidaklah dapat memasukkan mereka ke dalam Islam karena mereka tidak mengesakan ibadah hanya kepada Allah.
  2. Tauhid Asma wa Sifat
    Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dengan mengimani setiap nama dan sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri maupun yang telah ditetapkan Rasullullah tanpa melakukan tahrif (mentakwil), ta’thil (menolak), takyif (menggambarkan) ataupun tamtsil (memisalkan/menyerupakan) terhadap nama dan sifat-sifat Allah. Allah menetapkan bahwa Dia memiliki sifat, maka kita menetapkan demikian. Allah menetapkan sifat mendengar, maka kita meyakini Allah mendengar. Samakah pendengaran manusia dengan pendengaran Allah? Tidak. Allah menetapkan sifat tangan, maka kita meyakini bahwa Allah memiliki tangan. Serupakah tangan Allah dengan tangan makhluk? Jawabannya : Tidak. Allah berfirman : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura:11)
  3. Tauhid Uluhiyah
    Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan penghambaan diri hanya kepada-Nya serta tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, bahwa yang kita tuju di dalam ibadah itu baik lahir maupun bathin hanya Allah semata. Semua ibadah kita seperti : shalat, do’a. puasa, bernadzar, haji, umrah, sedekah dan lainnya harus kita tujukan semata-mata hanya untuk Allah. Dan jenis tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para nabi dan rasul.

Kenapa orang-orang kafir Quraisy tidak mau mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah”?
Sesungguhnya mereka apabila dikatakan kepada mereka untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mereka menyombongkan diri dan berkata : “Apakah sungguh kami harus meninggalkan Tuhan-tuhan kami?” Mereka tidak mau meninggalkan patung-patung (sesembahan-sesembahan) di sekitar Ka’bah, yang telah menjadi warisan dari nenek moyang mereka.

Kenapa Abu Thalib tidak masuk Islam, padahal dia tahu akan kebenaran Islam :
1. Karena kokoh memegang adat istiadat/tradisi
2. Popularitas karena saat itu Abu Thalib menjadi orang yang ditokohkan
3. Menjaga gengsi (orang yang menjaga gengsi susah mendapatkan hidayah)

Maka orang yang bertauhid, harus memiliki dan mengamalkan ketiga jenis tauhid tadi.

Tauhid sangat penting sekali untuk diwujudkan, kenapa :

  1. Mewujudkan tauhid berarti kita telah mewujudkan visi/tujuan penciptaan manusia
  2. Mewujudkan tauhid berarti kita telah mewujudkan tujuan diutusnya para Rasul
  3. Karena seluruh amalan kita mulai dari shalat, zakat, puasa, haji dan seluruh ibadah kita, tidak bisa diterima kecuali dengan mewujudkan tauhid, apapun ibadah yang kita lakukan. (QS. Al An’am)
  4. Karena tauhid adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan kepada mayat di alam kubur : Man Rabbuka? Maa dinuka? Wa Nabiyuka? Yang akan menjawab nanti di dalam kubur itu adalah amalan bukan hafalan. Makna dari Man Rabbuka adalah siapa yang kamu ibadati. Kalau dia tidak mewujudkan tauhid di dunia, dia tidak akan bisa menjawab pertanyaan tersebut.
  5. Karena Al-Quran semuanya mengajak kepada Tauhid. Di dalam AlQuran terdapat cerita tentang azab di neraka dan kenikmatan surga, maka Surga adalah balasan bagi orang yang mewujudkan Tauhid dan Neraka balasan bagi orang yang tidak bertauhid. Di dalam Alquran terdapat kisah-kisah, sperti : Ashabul Kahfi, Ashabul Ukhdud kisah-kisah tersebut berbicara tentang tauhid.

Allah berfirman : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada ku.”

Hikmah penciptaan jin dan manusia :

  1. Mengesakan Allah dalam ibadah
  2. Menetapkan keberadaan jin tapi dia adalah makhlus halus
  3. Allah maha sempurna dan maha kaya dan tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluknya.

Thagut adalah setiap yang disembah selain Allah dan rela atas persembahan tersebut, baik itu : manusia, benda, hewan, pohon, bebatuan dan sebagainya.

Faedah pada bagian ini :

  1. Bahwasanya Allah setelah menciptakan manusia tidak dilepas begitu saja, namun Allah berikan bimbingan, perhatian dengan mengutus pada setiap umat seorang Rasul.
  2. Keumuman misi/risalah semua Rasul yaitu mentauhidkan Allah
  3. Tugas para Rasul adalah mengajak menibadati Allah dan mengingkari selain Nya
  4. Bahwasanya hidayat taufik hanya milik Allah semata
  5. Anjuran untuk berjalan dengan tujuan untuk mencari i’tibar bukan untuk tamasya

Sesi Tanya Jawab :
– bolehkah membatalkan puasa sunat ketika ada tamu datang?
– ikan larangan?
– kapan menggerakkan jari telunjuk saat tasyahud?
– berobat dengan unsur syirik apakah membatalkan tauhid?
– hukum ganjaran bagi pelaku syirik adalah haram baginya surga dan neraka tempat kembalinya kekal di dalamnya
– bolehkah belanja di toko yang memajang foto angku shalih?
– bolehkah memakai jasa tukang urut yang membaca mantra?

Sabtu, 3 Agustus 2019 | 2 Dzulhijjah 1440 H, Pukul 13.30 WIB s.d Selesai, Masjid Nurul Huda Batu Basa Aur Melintang, Kab. Padang Pariaman, Prov. Sumatera Barat

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here