Dauroh-19 Batu, Malang : Persatuan Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah Sesuai Jalan Salafush Shalih

498

PEMBUKAAN SYAIKH SULAIMAN BIN SALIMULLAH AR-RUHAILI -hafizhahullaah-

[MUQADDIMAH]

Orang yang melihat realita zaman sekarang; maka ia akan menyaksikan banyaknya fitnah (ujian), berpecah belahnya orang-orang yang (tadinya) saling mencintai, dan banyaknya orang yang sibuk dengan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat untuk dirinya, dan juga tidak bermanfaat untuk orang lain.

Dan JALAN KELUAR (SOLUSI) dari realita semacam itu adalah: dengan minta tolong kepada Allah, mengakui kekurangan, dan bertaubat dari kesalahan, serta MEMPRAKTEKKAN PRINSIP-PRINSIP SYAR’I BERIKUT INI:

PRINSIP PERTAMA: ilmu.

Dan ilmu merupakan cahaya yang dengannya seseorang bisa melihat (kebenaran); jika ilmu tersebut (1)diambil dari sumbernya (Al-Qur’an & As-Sunnah), dan (2)dipelajari dari ahli ilmu, (3)dibarengi dengan hati yang baik. Inilah ilmu yang bermanfaat.

Maka, ilmu (semacam itu) harus ada, karena ilmu lah yang akan menjadikan perkataan, perbuatan, bahkan tujuan: menjadi benar.

Adapun keutaaman ilmu: sangatlah banyak -sebagaimana kalian ketahui-.

Dan seorang harus berhias dengan tawadhu’ (merendahkan diri) dalam menuntut ilmu dan harus selamat dari kibr (kesombongan), karena kibr merupakan penghalang terbesar dalam mendapatkan ilmu.

Penuntut ilmu sangat butuh kepada sikap tawadhu’ (merendahkan diri). Dan penuntut ilmu semakin bertambah ilmunya; maka ia semakin bertambah kehinaannya di hadapan Allah dan semakin bertambah sikap tawadhu’nya di hadapan hamba-hamba Allah. Dan semakin meningkat ilmunya; maka ia semakin mengetahui bahwa dirinya adalah bodoh, sehingga semakin bertambah keinginannya untuk menambah ilmunya.

Barangsiapa yang menyangka bahwa dirinya telah mencapai puncak dalam ilmu; maka ia adalah orang bodoh. Dan seorang (penuntut ilmu) senantiasa berada dalam kebaikan; selama ia tidak menganggap dirinya adalah seorang syaikh yang tidak butuh lagi kepada ilmu. Ketika ia mencapai tingkatan ini; maka ia telah mencapai puncak kebodohan. Dan (anggapan semacam) ini merupakan pertanda kebodohannya.

PRINSIP KEDUA: bersatu dengan persatuan yang dibanguan di atas 3 (tiga) prinsip:

1. Bersatu di atas agama dan bersatu untuk menegakkan agama. Allah -‘Azza Wa Jalla- berfirman:

{…أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ…}

“…tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya…” (QS. Asy-Syuuraa: 13)

Dalam ayat ini Allah mendahulukan perintah untuk menegakkan agama, atas larangan dari berpecah belah.

Maka persatuan tidak akan benar dan tidak akan bermanfaat; kecuali jika didasari agama dan tegak di atas agama.

2. Bersatu dengan dilandasi Al-Qur’an, bukan di atas sikap basa basi, bukan pula di atas hizbiyyah, maupun organisasi. Akan tetapi bersatu di atas tali Allah, didasari Al-Qur’an. Oleh karena itulah Allah berfirman:

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ …}

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,…” (QS. Ali ‘Imraan: 103)

Allah mendahulukan (perintah untuk) berpegang dengan tali Allah, atas larangan dari berpecah belah.

3. Di atas Sunnah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dan jalan As-Salafush Shalih; yakni: para Shahabat -radhiyallaahu ‘anhum-, dan orang-orang yang mengikuti mereka. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا}

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (para Shahabat), Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)

Maka, orang-orang mukmin pada zaman itu (zaman Rasul) adalah: para Shahabat.

Dan ketika terjadi perselisihan; Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah menunjukkan jalan untuk bersatu, yakni: dengan berpegang pada Sunnah, dengan pemahaman para Shahabat. Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((…فَإِنَّهُ مَنْ يَـعِـشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ؛ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِـيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِـيْ وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّــيْـنَ الـرَّاشِدِيْنَ، تَـمَسَّكُوْا بِـهَا، وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،…))

“…Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku; niscaya ia akan melihat banyak perselisihan, maka WAJIB ATAS KALIAN UNTUK BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH-KU DAN SUNNAH KHULAFA-UR RASYIDIN yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham…”

PRINSIP KETIGA: Ar-Rifqu (berlemah lembut).

Kita harus saling berlemah lembut, dan selalu mengedepankannya. Karena sungguh, Ar-Rifqu adalah asas kebaikan.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ))

“Sungguh, Ar-Rifq (sikap lemah lembut) tidaklah terdapat dalam sesuatu; melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu; melainkan akan memburukkannya.”

Dan termasuk dari sikap Ar-Rifq (lemah lembut) adalah: memberikan nasehat. Yakni: jika engkau melihat saudaramu berada dalam kesalahan; maka nasehatilah ia, dan do’akan kebaikan untuknya, serta jelaskan bahwa dirinya berada di atas kesalahan.

PRINSIP KEEMPAT: Ar-Rahmah (kasih sayang). Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ؛ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ))

“Sayangilah yang ada di bumi; niscaya (Allah) yang ada di (atas) langit akan menyayangimu.”

Maka, kita harus saling menyayangi, dan melihat satu sama lain dengan pandangan kasih sayang.

Ditulis dengan ringkas oleh: Ustadz Ahmad Hendrix Eskanto

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here