Dibalik Kedekatan Riyadh-Washington dan Konfrontasi Iran

789

Moslemtoday.com : Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada 20 Maret mendatang. Pertemuan tersebut merupakan salah satu agenda dari kunjungan Putra Mahkota MBS ke Amerika Serikat bulan ini.

Menjelang kunjungan tersebut, berbagai isu terus menghantam Putra Mahkota MBS bahkan isu sangat cepat berkembang dari Uni Eropa. Eropa dikenal selama ini begitu terbuka dengan Iran, yang berbeda jauh dengan sikap Amerika Serikat.

Dipecatnya Rex Tillerson dari Departemen Luar Negeri AS, dan kedatangan Putra Mahkota MBS ke Washington meningkatkan ketakutan orang-orang Eropa bahwa Washington bermaksud untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran yang mungkin mengarah pada kesepakatan untuk mengakhiri perjanjian nuklir.

Kesepakatan JCPOA, yang ditandatangani pada tahun 2015 oleh kelompok P5 + 1 dengan Iran dan Eropa, adalah alasan di balik kekacauan yang terjadi sekarang. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Teheran mendapatkan momentum karena dicabutnya sanksi internasional atas Iran.

Itulah sebabnya aktivitas militer Iran terus meningkat di kawasan Timur Tengah dan disaat bersamaan Iran terus mengembangkan sistem rudal balistik yang memiliki kapasitas untuk membawa dan meluncurkan senjata nuklir. Beberapa rudal balistik buatan Iran telah diselundupkan kepada pemberontak Houthi Yaman yang menargetkan Arab Saudi beberapa waktu lalu.

Sejak saat itu, kesepakatan JCPOA telah menyebabkan lebih banyak kekacauan, perang dan meningkatkan keberanian rezim dan penguasanya di dalam dan di luar negeri Iran. Dan ternyata fakta ini bertentangan dengan apa yang diyakini Eropa: “Bahwa dengan adanya kesepakatan tersebut, Teheran akan meninggalkan kebijakan agresifnya dan akan beralih ke perdamaian dan pembangunan.”

Sejak Trump menjadi presiden AS, dan dilantiknya Pangeran MBS menjadi Putra Mahkota Arab Saudi, Riyadh dan Washington sepakat akan menghadapi Iran secara bersama karena konfrontasi Iran di kawasan terus meningkat.

Sementara Eropa, menghindari konfrontasi dan tidak peduli dengan apa yang ditimbulkan dari bahaya tersebut. Semua yang terlibat dari para pemimpin Garda Revolusi Iran, tentara, dan intelijen bahkan bekerja di Eropa dan tidak terpengaruh oleh sanksi apapun.

Tuntutan yang diajukan Riyadh dan Washington adalah menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Iran dan Hizbullah namun tuntutan tersebut ditolak oleh Uni Eropa.

Trump dan Pangeran MBS bertujuan untuk memberlakukan sanksi tersebut. Mereka berniat untuk mengakhiri 40 tahun kekacauan dan pembiayaan milisi bersenjata di wilayah tersebut oleh Iran. Dengan demikian, kesepakatan tersebut tidak terbatas pada pengendalian bagian pengayaan nuklir, namun untuk menghentikan penyebaran kekerasan dan kekacauan dan mengakhiri perang di wilayah ini. (DH/MTD)

Sumber : Al Arabiya | Redaktur : Hermanto Deli
Copyright © 1439 Hjr. (2018) – Moslemtoday.com

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here