Difitnah Penyebar Radikalisme di Jayapura Tapi Tidak Terbukti, Ini Penjelasan Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah

1942

Moslemtoday.comJAYAPURA– Pembina Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah Ustaz Hasbi Khair akhirnya membuka suara terkait adanya isu aktifitas ISIS, terorisme dan radikal yang tujukan kepada Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah yang beralamat di Perum Pemda 1 Entrop Jayapura. Bahkan telah beredar di media sosial telah terjadi penangkapan 6 orang terkait dengan ISIS di tempat tersebut.

Ia mengatakan setelah kabar ini mencuat, media cetak, elektronik dan online, ramai-ramai memberitakan hal tersebut tanpa ada konfirmasi ke pihak yayasan, hingga akhirnya dilakukan penggeledahan di kantor yayasan, Kamis (17/5/2017) sekitar pukul 23.15 WIT sampai pukul 01.15 WIT, yang disaksikan oleh pengurus mesjid, Ketua RT dan RW.

“dua jam lebih polisi geledah kantor kami, tapi terbukti tidak ada secuilpun barang bukti yang mengarah pada aktifitas yang di tuduhkan ke kami, namun sayangnya, hingga kini hasil penggeledahan tidak pernah di publikasikan, sudah ada penghakiman publik terhadap kami selama ini, media yang beritakan tidak ada yang klarifikasi ataupun konfirmasi ke kami sebelumnya”, kata Ustad Hasbi Khair kepada Lingkar Papua dalam releasenya, Rabu (30/5/2018).

Menurutnya tuduhan adanya aktifitas radikal di Yayasan bermula ketika mereka melakukan acara buka puasa bersama di salah satu teras masjid di lingkungan perumahan Pemda I Entrop, dimana dalam pemberitaan media di sebutkan bahwa mereka tidak mendapatkan izin pengurus masjid, karena penampilan beberapa peserta buka puasa bersama berbusana muslim, dan ada yang bercadar.

“itu tidak benar, kita sudah minta izin secara lisan ke pengurus masjid dan ada saksinya Pak Anas, warga sekitar masjid”, kata Ustad Hasbi.

Dan tuduhan bahwa adanya aktifitas radikalisme di Yayasannya berawal dari seruan bernada provokasi melalui pengeras suara (toa) yang dilakukan salah seorang pengurus masjid.

“Akibat seruan itu, sekitar 50-60 orang warga datang, bukan muslim saja, non muslim juga, bahkan ada yang dalam pengaruh miras, dan kami di teriaki sebagai teroris, radikal, penjahat dan tuduhan tak berdasar lainnya, bahkan ada yang melempari atap kantor yayasan”, kata Ustad Hasbi.

Menurutnya ketika itu suasana yayasan mencekam, ibu – ibu dan anak – anak menangis karena panik dan ketakutan, sehingga seorang ibu yang tengah hamil mengalami pendarahan karena saking takutnya di kepung warga sekitar.

“Kami bersyukur, kepolisian Sektor Jayapura Selatan, hadir tepat waktu dan berhasil mengendalikan situasi, sehingga tidak timbul hal-hal yang tidak diinginkan.” kata Ustaz Hasbi Khair dalam pers realesenya, Rabu, (30/5/2018).

Menurutnya, Yayasan Mutiara Ilmu Sunnah yang bergerak di bidang keagamaan dan sosial, sesuai Akta Notaris: Ilham Morawa, SH, M.KN nomor 8, tanggal 3 Mei 2017 telah mengantongi ijin dari Kementrian Hukum dan Ham, ijin Kesbangpol Kota Jayapura dan Kementrian Agama Kota Jayapura.

“Yayasan kami bergerak dibidang keagamaan, kita membuka Taman Pengajian Al-quran (TPA), melalui TPA ini, kami menanamkan prinsip-prinsip akidah Ahlu Sunnah wal Jamaah sejak dini kepada generasi muda Islam sesuai yang dipaham salafussoleh, sehingga kelak mereka tumbuh diatas jalan yang hak, sehingga terhindar dari pemahaman yang meyimpang dari agama”, kata Ustad Hasbi Khair.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa selama ini ada pemahaman yang keliru soal aktifitas mereka, menurutnya Ahlus Sunnah artinya orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, dan sunnah itu sendiri artinya petunjuk yang Nabi dan para sahabatnya kerjakan, dimana setiap muslim berkewajiaban mengikuti petunjuk Nabi dan para sahabtnya dalam beragama, karena dengan kata lain Sunnah artinya islam itu sendiri.

“dakwah Salafiyah adalah istilah yang maknanya sama dengan ahlus sunnah, dimana dakwah Salaf artinya dakwah yang menyeru kepada pemahaman salaf, dan salaf yang dimaksud adalah generasi awal dari umat ini dari kalangan para sahabat, para tabi’iin (generasi setelah sahabat) dan seterusnya, mereka tiga generasi yang di rekomendasi oleh Nabi Muhammad SAW sebagai generasi terbaik”, jelas Ustad Hasbi.

Menurutnya dakwah salaf artinya dakwah yang menyerukan agar beragama sesuai dengan pemahaman salaf (para sahabat) baik dalam aqidah, ibadah, berinteraksi sosial dan dalam seluruh aspek kehidupannya.

“sehingga orang yang mengikuti salaf disebut salafi, untuk itu, salafi bukan sebuah jamaah tersendiri, kelompok, organisasi dalam Islam, tetapi salafi hanya nisbat kepada salaf dalam beragama baik masalah akidah, manhaj, dan ahlak”, terangnya.

Secara umum inti dari dakwah ahlus sunnah atau dakwah salaf adalah sebagai berikut, (1) mengajak manusia agar hanya beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. (2) menyeru manusia agar beragama sesuai dengan tuntunan Nabi dan para sahabatnya baik dalam beraqidah, beribadah, berdakwah, bermuamalah dan dalam seluruh aspek kehidupannya, sekaligus melarang manusia berbuat sesuatu yang di ada adakan dalam agama. (3) menyeru manusia agar beragama berdasarkan dalil dari Al Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih, (4) menyeru manusia agar mentaati para pemimpin (pemerintah) selama tidak memerintahkan kemaksiatan (dosa). Dan mengharamkan segala bentuk khuruj (pemberontakan) kepada penguasa baik secara lisan di mimbar – mimbar menghasut umat untuk membenci pemerintahnya, ataupun dalam bentuk mengangkat senjata.

“Prinsip paling penting adalah penyeru agar umat islam tidak berpecah belah dengan membuat golongan – golongan atau kelompok – kelompok dengan pemahaman yang menyimpang dari petunjuk Rasul dan Para Sahabatnya , seperti kelompok khowarij (kaum yang memberontak kepada penguasa serta mengkafirkan saudaranya yang muslim karena tidak sepaham dengan mereka), atau kelompok yang meyakini bahwa membunuh dan merusak serta melakukan aksi bom bunuh diri menganggapnya sebagai bentuk jihad dijalan Allah. Padahal pemikiran itu menyimpang atau sesat”, tegas Ustad Hasbi Khair menjelaskan visi dan misi yayasannya.

Menurutnya justru kehadiran yayasan salah satu untuk menangkal pemahaman yang menyimpang dalam agama seperti Khowarij (saat ini ISIS) dan meluruskan pemahaman yang menyimpang lainya.

“kalau pemerintah ingin memberantas pemahaman rakdikal, maka kami berdiri tegak dibelakangnya. jika aparat keamanan, ingin menumpas teroris, maka kami siap membantu dengan tenaga dan pikiran, sebab, untuk menangkal teroris tidak cukup dengan memenjarakan mereka, tidak cukup menembak mereka, tapi yang harus tumpas itu adalah pemikirannya”, kata Ustad Hasbi menyayangkan tuduhan dan fitnah yang di alamatkan kepada yayasannya selama ini.

Ia berharap agar masyarakat dapat berpikir cerdas, jangan sampai menilai seseorang dari penampilannya saja. Sehingga, ketika melihat seseorang berpenampilan sama dengan pelaku kejahatan. Orang lainpun dicap sama sebagai penjahat.

“jangan nilai orang dari penampilan, busana atau tampilan sama belum tentu kelakuan juga serupa toh, tidak baik kita menggeneralisir orang dari tampilan saja”, kata Ustad Hasbi Khair.

Sumber : Lingkarpapua.com, Radio Suara Qolbu Jayapura

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here