Moslemtoday.com : Asosiasi Radio dan Televisi Islam Indonesia (ARTVISI) menyelenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS) ARTVISI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jakarta. Musyawarah ini akan berlangsung selama 3 hari, yaitu Hari Jumat hingga Ahad (03-05 Rajab 1438 H / 31 Maret-02 April 2017 M). Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Radio dan Televisi Islam se-Indonesia.

Hari Kedua Musyawarah Nasional (MUNAS), ARTVISI menghadirkan Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA, sebagai pembicara. Dr. Arifin Badri saat ini merupakan Kepala STDI Imam Asy-Syafii, Jember, Jawa Timur, Perguruan Tinggi Islam di Jawa Timur yang mengadopsi kurikulum Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Arifin Badri menyampaikan pentingnya peran media dakwah di tengah masyarakat. Media radio dan televisi tidak lagi dinikmati oleh masyarakat dalam jangkau sempit, namun sudah dinikmati oleh seluruh kalangan. Baik kota maupun desa, kaya miskin, tua muda maupun anak-anak semuanya sudah mendapatkan informasi melalui media. Oleh sebab itu, penggiat dakwah melalui media harus memperhatikan kondisi ini, bahwa objek dakwah kita tidak lagi daerah kita saja. Tetapi sudah menjangkau seluruh seantero nusantara bahkan dunia.

“Media Islam bukan komersial, marketing, ataupun bisnis, akan tetapi media Islam tujuannya adalah dakwah. Sedangkan dakwah sendiri ada dua, yakni dakwah bil hal dan dakwah bil maqal, nah kita adalah dakwah bil maqal. Maka syaratnya ialah ahsan (kebaikan).” ujar alumnus Universitas Islam Madinah ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat [41]: 33)

Inilah hakikat dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bagaimana beliau berdakwah dengan tujuan ahsan (kebaikan). Oleh karena itu, media Islam harus memperhatikan sasaran dakwahnya.

Ustadz Arifin Badri memberikan permisalan, bagaimana sikap sahabat yang ditegur oleh nabi ketika melihat ada orang kencing di masjid. “Beliau tidak menegur orang tersebut, tetapi beliau menyuruh sahabat untuk mengambil air dan menyiramnya. Sesdudah itu baru mengajarkan orang terasebut. Artinya, Nabi memahami bahwa orang tersebut belum memahami ilmunya, bahwa dilarang kencing di masjid.” jelasnya.

Dalam keadaan yang lain Nabi pernah menegur Muadz bin Jabal yang memanjangkan bacaannya saat shalat Isya. “Padahal shalat isya itu kan sunnah dipanjangkan bacaannya. Tetapi kenapa Nabi menegur Muadz bin Jabal, padahal waktu itu sudah di Madinah. Ternyata masih ada waktu itu orang Anshar yang tidak sanggup berdiri terlalu lama.” pungkas beliau.

Begitulah di antara ahsannya dakwah rasulullah yang mencerdaskan umat Islam. Oleh sebab itu, saatnyalah media Islam baik Radio maupun Televisi dapat mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui syiar dakwah. (Pausil/DH/MTD)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here