Halloween dan Maulid Nabi di Arab Saudi: Harakah Tasywiyah dan Framing Media

444

Berita yang ramai di-blow up media di Tanah Air dan netizen “pemerhati” kabar Arab Saudi satu hari ini adalah “Perayaan Halloween di Riyadh.” Adapula yang menambahkan untuk memancing di air yang keruh “Arab Saudi Sambut Halloween, Tapi Larang Maulid Nabi.”

Benarkah para pemuda Saudi yang tampil dengan kostum menakutkan itu sedang berniat merayakan mengikuti kebiasaan kafir di negeri Barat?

Arabnews menulis “Halloween revelers experience glory and gore on Riyadh Boulevard.” Judulnya sebenarnya menggiring pembaca agar yang tampak di 2 malam di Boulevard Riyadh tersebut celebrating Halloween in the country.

Padahal orang yang diwawancarai, Abdulrahman mengatakan “It’s a great celebration, honestly, and there’s a spirit of joy… In terms of haram or halal, I don’t know about it. We celebrate it just for the fun of it and nothing else. We don’t believe in anything.”

Lantas arabnews memaksakan dan menggiring pembacanya dengan menframing Abdulrahman merayakan Hallowen! Dan di awal artikel jelas dikatakan Boulevard diubah menjadi “pesta kostum” di saat “Scary Weekend”, yang berlangsung pada hari Kamis dan Jumat.

 

Ya, “Scary Weekend” dengan “pesta kostum”, sebagai promo dari penyelenggara Riyadh Season bagi yang mengikuti acara ini akan dapat tiket gratis masuk boulevard Riyadh selama 27 dan 28 Oktober.

Jadi, jelas niatnya bersenang-senang dalam “pesta kostum” agar diberi akses masuk gratis ke boulevard dengan syarat mereka mengenakan kostum menakutkan.

Menariknya lagi, dalam laporan arabnews, salah satu pengunjung acara yang dikutip, Khaled Alharbi, mengatakan: “Setiap perbuatan didasarkan pada niat. Aku di sini hanya untuk bersenang-senang.”

Jadi lantas, sekali lagi, mengapa digiring untuk merayakan Halloween? Apakah karena waktunya berdekatan dengan 31 Oktober?

Ada pula netizen yang mengaitkannya denga video “The Biggest Costume Party in Riyadh,” padahal jelas dari judulnya “pesta kostum,” bukan Halloween. Dan di video tersebut juga ada kostum anime Jepang yang populer. Jadi mengapa harus tetap dipaksakan Halloween?

Dan kalau mau dicari ciri dan sifatnya jelas berbeda, tidak ada permen dan labu yang menjadi identik “peringatan hantu orang mati kembali ke bumi” tersebut.

Tapi seperti itulah cara media mendistorsi Saudi, sebagaimana yang diistilahkan oleh pengamat media sosial di Timur Tengah sebagai “Harakah Tasywiyah.”

Oleh karenanya, pertanyaan penting harus dijawab tentang perayaan Halloween, siapa yang membolehkannya? Adakah keterangan resmi dari piahk yang berwenang di Arab Saudi? Atau minimal, media lokal Saudi mana yang menuliskan serupa?

Logikanya, jika memang dilegalkan, mengapa hanya di Boulevard Riyadh? Mana perayaan serupa di kota-kota besar yang serupa dengan Riyadh? Tidak ada. Karena memang “pesta kostum” di atas adalah cara Riyadh Season menarik pengunjung, bukan untuk merayakan Halloween.

Dan perlu diketahui juga bahwa di Riyadh Season juga terdapat “rumah hantu” (haunted house) sebagaimana Taman Hiburan Dunia Fantasi (Dufan) di Ancol Jakarta.

Framing lebih kental lagi ketika media di Indonesia mengaitkannya dengan “larangan Maulid” di Arab Saudi. Padahal sebelumnya seorang da’i kondang, sudah mengabarkan bahwa Arab saudi membolehkan Maulid Nabi.

Jadi, media atau ustadz tersebut yang sedang memutarbalikkan fakta?

Apakah sebenarnya dilarang? siapa yang melarangnya? Adakah keterangan resminya dari pemerintah Arab Saudi?

Padahal yang merayakan Maulid di Arab Saudi banyak sekali di setiap kota Arab Saudi. Hampir setiap malam Jum’at di bulan Rabiul Awwal undangan tersebar untuk menghadiri Maulid Nabi.

Ya, mereka yang menyelenggarakan komunitas-komunitas masyarakat dari Arab, India, hingga Indonesia. Mereka mengadakan maulid di rumah-rumah bahkan menyewa istiraha (villa) untuk perayaan ini.

Berbagai komunitas masyarakat Indonesia menyelenggarakan maulid di beberapa kota Arab Saudi dengan aman

Tapi ternyata tidak dibubarkan? Tidak dilarang? Karena ini ranah privat, agama, yang mayoritas muslim di Arab Saudi tidak merayakannya karena menganggapnya bid’ah. Kemudian media yang mengatakan maulid dilarang oleh siapa? Agama Islam yang lahir di tanah Arab atau pemerintah Saudi?

Kemudian ada yang berdalih jika media-media nasional seperti Republika, Kompas, Sindo, Kumparan, Detik, maka harus taken fo granted, sudah pasti benar beritanya dan bukan hoax. Silahkan buktikan betapa seringnya media mainstream menulis hoax seperti di tautan berikut ini:

Dan masih banyak lagi artikel serupa di atas bisa ditemukan dan membuktikan bahwa media bermodal besar bukan jaminan menyajikan fakta berita dan profesional.[]

Sumber : Saudinesia.id

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here