Heboh soal Dukhan di Pertengahan Ramadhan, Ini Jawaban Buya Gusrizal Gazahar

466
https://i1.wp.com/www.hidayatullah.com/files/2018/03/Ketua-MUI-Sumbar-Gusrizal-Gazahar-by-Ahmad-Damanik-DSC09483-edit.jpg?resize=630%2C&ssl=1
Buya Gusrizal Gazahar. Sumber Foto : Hidayatullah.com

Moslemtoday.com : Soal Dukhan (bahasa Arab: kabut/asap tebal) yang belakangan ini viral di media sosial sebagai pertanda hari akhir yang disebut-sebut akan terjadi pada 15 Ramadhan 1441 H, bertepatan dengan Jumat, (8/5/2020), merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dibenarkan.

Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa menjelaskan bahwa tanda-tanda hari kiamat memang telah diperingatkan oleh Nabi, yang bisa ditemukan dalam berbagai riwayat.

“Kategori riwayatnya ada yang shahih dan ada yang dha’if (red-lemah), bahkan ada yang maudhu’ (red-palsu).  Adapun terkait dengan ada dukhan sebagai tanda dekatnya kiamat, memang pendapat mayoritas ulama. Hanya saja penentuan tanggal dan bulan seperti yang sekarang tersebar, itu merujuk kepada riwayat yang tidak ada ashalnya dari Nabi sallallahu ‘alayhi wassalam,” kata Buya Gusrizal, seperti dilansir dari SumbarFokus, Kamis, (7/5/2020).

Buya Gusrizal menjelaskan bahwa di antara riwayat tersebut ada yang disandarkan kepada Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah. Riwayat itu sebenarnya terkait dengan shai’hah (red-gemuruh) yang terjadi di bulan Ramadan. Itulah yang menjadi rujukan cerita ini. Padahal riwayat tentang shaihah itupun telah lama diperingatkan oleh para ulama, seperti al ‘Uqailiy dan Ibnul Jauziy bahwa hadits-hadits itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang dicap pendusta, munkar, dan haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.

“Perlu diingat bahwa tentang peristiwa yang akan datang adalah suatu yang ghaib dan masuk dalam ranah keimanan. Kaidah beriman dengan yang ghaib harus bersandar kepada berita yang shahih,” tegas Buya Gusrizal.

“Kalau dalilnya saja sudah tidak shahih, tentu itu bukanlah bagian yang harus diimani. Kehadiran dukhannya, iya. Tapi, memastikan tanggalnya dan bulannya, itu dakwaan dan dugaan semata yang tidak patut dilakukan oleh seorang yang berilmu,” ungkap Buya Gusrizal.

Dicontohkan, Rasulullah dalam hadits shahih, ketika ditanya oleh Jibril tentang kapan kiamat, Beliau malah menjawab ‘yang ditanya, tidak lebih tahu dari yang menanya.’

Buya Gusrizal menerangkan bahwa memperingatkan umat agar senantiasa bersiap diri dengan amal shalih dalam menghadapi kematian dan kiamat adalah suatu hal yang baik asal jangan berlebihan sehingga jatuh kepada dugaan-dugaan yang tidak berdasar.

“Kita semua harus bersiap diri menghadapi ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala di dunia ini. Kalau bukan kiamat besar, kiamat kecil (kematian) pasti akan kita temui. Wallahu a’lam,” ujar Buya Gusrizal. (DH/SF)

Sumber : SumbarFokus | Editor : Hermanto Deli

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here