Hukum Air Kencing Bayi

588

Dari Ummu Qais bintu Mihshan Al-Asadiyah :

أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيْرٍ لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ، فَأَجْلَسَهُ رَسُوْلُ اللهِ فِي حِجْرِهِ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

“Ummu Qais pernah membawa bayi laki-lakinya yang masih kecil dan belum makan makanan kepada Rasulullah, lalu Rasulullah mendudukkan anak itu di pangkuan beliau. Kemudian anak itu kencing di baju beliau, maka beliau pun meminta dibawakan air, lalu beliau memerciki pakaian beliau (yang terkena air kencing, pent.) dan tidak mencucinya.” (HR. Al­-Bukhari no. 223 dan Muslim no. 287)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud makanan di sini adalah segala makanan kecuali air susu yang dia minum, atau kurma yang digunakan untuk mentahniknya, ataupun madu yang diberikan untuk pengobatan dan yang lainnya, sehingga yang diinginkan di sini si anak belum diberi makan apapun kecuali air susu semata-mata.” (Fathul Bari, 1/425).

FAIDAH DARI HADITS DI ATAS

  1. Kata Ibn dalam bahasa arab maknanya anak laki-laki. Berbeda dengan kata walad maknanya anak laki-laki dan perempuan.
  2. Kata Tho’am maknanya semua jenis makanan selain yang disebutkan Ibnu Hajar di atas.
  3. Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa Air kencing anak laki-laki dan anak perempuan hukumnya najis. Hanya saja berbeda dalam membersihkannya. (Al-I’lam bi Fawaaid Umdatul Ahmkam, I/684)
  4. Cara membersihkan air kencing anak laki-laki cukup dengan memercikan air kebagian yang terkena air kencing. Adapun cara membersihkan bekas air kencing anak perempuan dengan mencuci semua bagian pakaian.
  5. Imam Syafi’I pernah ditanya hikmah dari perbedaan cara mencuci air kencing anak laki-laki dan peremuan. Beliau berkata : “Air kecing anak laki-laki bersumber dari air dan tanah, sedangkan air kencing anak perempuan bersumbur dari dari dading dan darah”. (Sunan Ibni Mâjah, 1/175).
  6. Adapun pendapat dari Syaikh Taqiyuddin dalam kitab Ihkamul Ahkam beliau berpendapat bahwa perbedaan cara mencuci air kencing anak laki-laki dan anak perempuan karena air kencing anak laki-laki terpusat di satu tempat, sedangkan air kencing anak perempuan menyebar ke semua bagian.
  7. Dianjurkan untuk membawa anak-anak kepada orang-orang yang shaleh.
  8. Kencing bayi perempuan lebih berat dan baunya lebih menyengat dari kencing bayi lelaki. Sebabnya adalah panasnya lelaki dan lembabnya perempuan. Panas meringankan bau kencing dan menghilangkan darinya yang tidak terjadi dengan kelembaban.
  9. Imam Ibnu al-Qayyim berkata, “Pembedaan antara kencing bayi lelaki dan perempuan termasuk kemuliaan syariat dan kesempurnaan hikmah dan maslahatnya.
  10. Syeikh Abdullah al Bassâm berkata: Ini adalah hikmah yang disampaikan para Ulama dalam perbedaan antara kencing bayi lelaki dengan kencing bayi perempuan. Apabila benar maka ia adalah hikmah yang dapat dicerna akal. Apabila tidak benar maka hikmah adalah hukum Allah; kita mengetahui secara yakin bahwa syariat Allah adalah hikmah. Syariat tidak membedakan antara dua hal yang serupa kecuali adanya hikmah yang menuntut adanya pembedaan. Syariat juga tidak akan menyatukan keduanya kecuali ada hikmah yang menuntut penyatuan; karena hukum-hukum Allah tidak ada kecuali sesuai maslahat, namun kadang tampak dan kadang tidak tampak. (Taudhîh al-Ahkâm, 1/186).
  11. Para ulama sepakat bahwa jika anak laki-laki atau perempuan sudah makan selain dari ASI maka wajib mencuci pakaian yang terkena najis.
  12. Hendaknya orang dewasa untuk bermuamalah dengan lemah lembut kepada bayi.

Referensi :

  1. Umdatul Ahkam.
  2. al-I’lam bi Fawaid Umdatul Ahkam.
  3. Fathul Baari.
  4. Taudhihul Ahkam.
  5. Ihkamul Ahkam

Oleh : Ustadz Endang Abu Rufaydah, Lc. MA Hafidhohullah

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here