Hukum Menjamak Shalat Bagi Pengantin Ketika Resepsi Pernikahan

462
Syarh Shahih Muslim : BAB – Bolehnya Menjamak Shalat Bagi Orang yang Mukim
Narasumber : Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA (Anggota Komisi Fatwa MUI Sumatera Barat, Alumnus Universitas Islam Madinah Arab Saudi)
Selasa, 30 Juli 2019 M | 27 Dzul Qa’dah 1440 H, 05.40 WIB (Ba’da Subuh) s.d Selesai
Masjid Al-Hakim, Jl. Gajah Mada Gg. BPKP II Nanggalo, Kota Padang

Dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah pernah mengerjakan shalat zuhur dan ashar dijamak dan shalat maghrib dengan isya dijamak pada keadaan tidak ada perang, dan tidak pula bepergian (safar).

Pada hadits berikutnya, masih dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah mengerjakan semuanya di jamak di Madinah pada keadaan tidak ada perang, dan tidak ada perjalanan.

Pada hadits pertama disebutkan keadaannya namun tidak disebutkan tempat Nabi melakukan. Sedangkan pada Hadits kedua disebutkan tempatnya, yakni di Kota Madinah.

Lalu Abu Zubair bertanya kepada Said bin Jubair, Kenapa Nabi melakukan demikian? Lalu Said menjawab : Hal itu sudah kutanyakan kepada Ibnu Abbas, lalu Ibnu Abbas menjawab bahwa : Nabi tidak ingin membebankan seorangpun dari umatnya.

Pada hadits berikutnya, dengan sanadnya masih dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah menjamak shalat zuhur dengan ashar, dan maghrib dengan isya di Madinah pada keadaan tidak ada perang dan tidak pula ada hujan. Perbedaan dengan riwayat sebelumnya tanpa perang, tanpa safar. Sedangkan pada hadits ini, disebutkan tanpa ada hujan.

Faedah Hadits :

Jadi kalau kita lihat hadits ini, tidak ada sebab, sebab secara bolehnya menjamak shalat, keadaan takut tidak ada, perang tidak ada, bepergian juga tidak, hujanpun tidak ada, Nabi tetap di Madinah dan menjamak shalatnya.

Sedangkan ketika ditanya kenapa Nabi melakukan ini, Ibnu Abbas menjawab : Nabi tidak ingin memberatkan umatnya.

Bagaimana memahami hadits ini, Apakah kita boleh menjamak shalat tanpa ada penyebabnya??

Melihat judul yang dibuat oleh Imam Nawawi, “Bolehnya menjamak shalat bagi orang yang mukim.” Di dalam hadits-hadits yang dimunculkan oleh Imam Muslim sebagaimana yang sedang kita pelajari, para ulama memiliki perbedaan pendapat : Imam Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama belum sepakat untuk mengamalkannya, karena pada umumnya ulama mengatakan harus ada sebab baru dibolehkannya menjamak shalat, seperti adanya hujan, bepergian atau kondisi perang.

Walhasil, apa yang dilakukan oleh Ibnu Abbas juga sama dengan apa yang diakui oleh Abu Hurairah bahwa diperbolehkan menjamak shalat tanpa adanya sebab.

Sebagian ulama mengatakan bahwa bolehnya menjamak shalat bagi orang yang tidak safar karena adanya kebutuhan, adanya beban, adanya kesusahan, adanya uzur seperti sakit. Namun madzhab Syafi’i memandang tidak boleh menjamak shalat karena sakit. Sedangkan Hanabilah memandang bagi orang yang sakit boleh dijamak namun tidak diqashar.

Sebagian ulama lagi mengatakan bahwa bolehnya menjamak shalat karena adanya kebutuhan namun bukan untuk dijadikan sebagai kebiasaan. Contoh :

  1. Macet di jalan yang tidak ada kesempatan untuk melakukan shalat dan macetnya memakan dua waktu shalat secara bersamaan, maka dia boleh menjamak shalatnya, misal : mengakhirkan maghribnya kepada isya (Jamak Ta’khir)
  2. Seorang dokter atau pasien yang melakukan operasi, membutuhkan waktu lama dan memakan waktu shalat, maka dia bisa menjamak ta’khir
  3. Orang yang bekerja di tower penerbengan (ATC) yang bertugas sendirian dan tidak ada yang menggantikannya.

Walhasil, shalat jamak bisa dilakukan jika adanya kebutuhan pada saat itu.

Lalu bagaimana dengan penganten??

Kalau dia safar, tidak masalah. Sekarang masalahnya dia mukim (Misal : Orang Padang baralek di Padang), karena tidak ada hajat yang memberatkannya seperti dandan. Dandan bukan termasuk yang memberatkan, walhasil mereka tidak boleh menjamak shalatnya.

Simak kajiannya dalam video berikut ini :

LIVE SURAU TVSelasa, 30 Juli 2019 M | 27 Dzul Qa'dah 1440 H, 05.40 WIB (Ba'da Subuh) s.d Selesai*Kajian Ilmiyah bersama Buya Muhamamd Elvi Syam, Lc. MA dalam pembahasan Kitab Shahih Muslim : BAB – Shalat Jamak & Qashar Bagi Musafir*Langsung dari : Masjid Al-Hakim, Jl. Gajah Mada Gg. BPKP II, Kec. Nanggalo – Kota Padang📺 Saksikan hanya di Surau TV

Posted by Surau TV on Monday, July 29, 2019

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here