Ini Penyebab Aung San Suu Kyi Tak Bisa Mencegah Militer Myanmar Membantai Rohingya

1719
Akses lebih mudah… Download Web Apps Moslemtoday.com via Google Play Store: Klikhttps://play.google.com

Ini Penyebab Aung San Suu Kyi Tak Bisa Mencegah Militer Myanmar Membantai Rohingya

Moslemtoday.com : Aung San Suu Kyi, Pemimpin de Facto Myanmar dan pemenang Nobel Perdamaian menjadi fokus kritik dan kecaman dunia Internasional atas pembantaian terhadap etnis Muslim Rohingya oleh pasukan militer Myanmar di negara bagian Rakhine State. Suu Kyi dianggap paling bertanggung jawab atas apa yang disebut oleh Lembaga HAM PBB sebagai “Genosida terhadap Etnis Rohingya”.

Namun para analis mengatakan bahwa pemerintahan Aung San Suu Kyi tidak dapat berbuat banyak di Myanmar karena ia hanya memiliki sedikit kendali atas kekuatan militer negara tersebut sehingga ia hanya diam melihat kebrutalan militer Myanmar membantai etnis Rohingya.

Beberapa hari sebelum pemerintah Aung San Suu Kyi mulai menjabat pada bulan Maret 2016, para pasukan militer Myanmar mengangkat senapan mereka yang dipasangi bayonet sebagai tanda hormat mereka kepada Jenderal Min Aung Hlaing, panglima tertinggi militer angkatan bersenjata Myanmar, dalam sebuah upacara untuk memperingati Angkatan Bersenjata ke-71.

Junta militer, yang memerintah negara tersebut dengan tangan besi sejak tahun 1962 sampai 2011 – pernah menangkap pendukung demokrasi termasuk Aung San Suu Kyi sendiri. Junta militer memberlakukan darurat militer dan membunuh para pemrotes dan mengendalikan pasukan keamanan, dan menjadi kunci kabinet di pemerintahan. Dan tidak ada yang bisa dilakukan Suu Kyi tentang hal itu.

“Di bawah konstitusi Myanmar, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Myanmar adalah atasan Suu Kyi sendiri, dia tidak melapor kepada Aung San Suu Kyi. Dia tidak dapat dipecat,” ungkap Aaron Connelly, seorang peneliti di Program Asia Timur di Lowy Institute, Sydney, seperti dilansir dari CNN, Ahad, (24/9/2017).

“Jika pasukan militer harus memilih antara kontrol panglima tertinggi dan rasa hormat terhadap dunia internasional, mereka akan memilih kontrol panglimanya. Ini adalah pertanyaan seberapa banyak mereka bersedia menyerah. Kami belum melihat banyak bukti bahwa mereka bersedia melepaskan apa pun selain kepada panglima mereka,” ungkap Aaron. (DH/MTD)

Sumber : CNN

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here