Inilah Alasan Arab Saudi dan Koalisi Teluk Minta Al Jazeera Ditutup

2555

Moslemtoday.com : Arab Saudi dan Koalisi Negara Teluk memberikan “Daftar 13 Poin Persyaratan” untuk mengakhiri krisis diplomatik dan embargo ekonomi dengan Qatar yang sudah berjalan sejak tiga pekan lalu, Senin, (5/6/2017). Negara-negara yang memberikan syarat kepada Qatar itu terdiri dari Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Dalam tuntutan tersebut, salah satu poin tuntutan adalah meminta Qatar untuk menutup Kantor Berita Al Jazeera. (Baca juga : Inilah “13 Daftar Tuntutan” Arab Saudi dan Koalisi Negara Teluk Sebagai Syarat Untuk Mengakhiri Krisis Diplomatik dengan Qatar)

Pemerintah Qatar menanam investasi di sektor media dengan didirikannya jaringan media Aljazeera. Media internasional ini dibentuk tahun 2006 atas instruksi langsung dari emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. Aljazeera didirikan dengan menguras dana pertama sebesar 150 juta dolar dalam lima tahun, dan kemudian setiap tahunnya menghabiskan 30 juta dolar. Demikian sebagaimana dilansir dari Parstoday, Senin, (26/6/2017)

Sebagian analis media menilai Aljazeera sebagai media baru yang diperhitungkan di kancah internasional. Sebab, Aljazeera bukan hanya menjadi televisi pertama dunia Arab yang tayang 24 jam penuh, tapi juga menghadirkan para analis dan bintang tamu yang hadir dengan pandangan yang beragam, termasuk berani mengkritik pada penguasa Arab. Sebelum Aljazeera berdiri, media kawasan tidak diperbolehkan untuk mengkritik penguasa-penguasa Arab, dan masalah ini menjadi sebuah prinsip bagi media Arab hingga kini, sebagaimana yang diadopsi oleh Al-Arabiya.

Berkaitan dengan kinerja Aljazeera di dunia Arab, Thomas Friedman di tahun 2001 mengatakan, Aljazeera bukan hanya peristiwa terbesar bagi media dunia Arab, tapi juga peristiwa politik. Sebagian analis media seperti Lawrence Pintak menilai bahwa revolusi Arab dimulai dari Aljazeera. Sebab, tanpa liputan media Aljazeera, masyarakat Arab tidak akan menyetujui penggantian penguasa, yang memegang kendali kekuasaan selama beberapa dekade.

Sebagian lainnya seperti Wadah Khanfar, mantan direktur utama Aljazeera, dan Nabeel Rihani, reporter Aljazeera di Tunisia, berkeyakinan bahwa Aljazeera bukan alat revolusi, dan tidak membuat revolusi, tapi Aljazeera menjadi pusat perubahan, ketika perubahan mulai terjadi di negara-negara Arab. Jika perubahan menjadi hal yang sulit dilakukan di dunia Arab, Aljazeera dengan kinerja dan liputan medianya berperan memudahkan perubahan tersebut.

Nabeel Rihani memberikan penjelasan menggunakan analisis determinisme Marxian dengan mengatakan, “Ketika Marx berbicara tentang peran manusia dalam sejarah, ia menjelaskan dengan perumpamaan kondisi seorang wanita yang mengandung dan harus melahirkan bayinya. Tapi kehadiran seorang bidan akan memudahkan kelahirannya. Dunia Arab seperti wanita yang mengandung yang memiliki potensi untuk revolusi yang dalam dan radikal. Aljazeera memainkan peran sebagai bidan untuk memudahkan perubahan tersebut.” (DH/MTD)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here