Inilah Nasehat Emas Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin Terkait Penggalan Ceramah Sepotong Dua Potong yang Ramai di Medsos

5599

DAKWAH MEDIA “GOKIL”

Dakwah media makin semarak, membuat para da’i mengeluarkan statemen makin norak, untuk membuat jamaah makin bersorak sehingga juru dakwah girang suara sampai serak.

Bila dakwah media demi reting dan jam tayang maka muncul banyak ceramah panjang dipenggal-penggal hanya cari sensasi pemersa dan unggahan sosmed yang tak lagi mempertimbangkan aqidah dan manhaj yang lurus.

Demi sensasi, ceramah biasa diberi judul-judul panas dan heboh untuk menarik masa dan kejar oplah tayang dan jam terbang. Hingga muncul istilah “GOKIL”.

Hingga para da’i bagaikan ikan lauhan, dikejar dan dicari hanya menarik tampangnya atau ibarat burung perkutut yang diminati karena merdu suaranya atau ibarat jangkrik yang dikenal kencang suaranya di antara jangkrik-jangkrik yang terselip di gelapnya kampung yang tidak pernah mengenal Medsos.

Tidak aneh muncul tema-tema yang aneh-aneh pula, bukan membuat jamaah tambah ilmu dan tambah paham. Namun jamaah hadir tambah membludak dan penasaran. Sehingga standar da’i pun bukan dalamnya ilmu, bagusnya pemahaman dan lurusnya aqidah maupun manhaj tapi diburu oleh jamaah terutama ibu-ibu karena sering tampil di Medsos.

Lebih lucu lagi ada juru dakwah tidak mau menghadiri undangan yang jamaahnya sedikit bangga banget kalau jumlah jamaah banyak. Padahal Nabi Nuh tetap bersyukur dengan pengikutnya yang hanya empat orang. Sehingga Allah memujinya,

“SESUNGGUHNYA DIA SEORANG HAMBA YANG BERSYUKUR”

Malah lebih parah lagi panitia kajian tidak mau mengundang Ustd yang tidak tenar dan kurang menyedot jamaah, sehingga diperlakukan seperti mesin sedot tandas makin lancar menyedotnya makin sering dapat panggilan.

Zaman sekarang sudah jungkir balik “tontonan menjadi tuntunan sedangkan tuntunan menjadi tontonan” Sehingga ceramah yang menjadi sarana hidayah berubah menjadi tontonan yang hanya dinikmati cuplikan dan penggalannya saja.

Memang standar mengaji kalangan awam bermacam-macam, ada yang datang karena penasaran lucunya ceramah, ada yang datang karena ganteng dan imut sang Ustd, namun ada yang datang karena ingin reuni dengan teman lama yang sudah mengaji, tetapi ada juga yang hadir karena ingin lihat asli Ustd karena selama ini hanya melihat di Medsos. Kasihan yang tidak pernah tampil di yu tube cuma tampil di rumah yu Ni.

Dakwah media kadang kehilangan visi dan misi dakwah yang sebenarnya yaitu menanamkan aqidah dan manhaj kepada umat. Parahnya setiap kali judul dakwah yang terkait dengan aqidah dan manhaj diunggah maka sepi dari pemirsa dan kurang diminati jamaah kecuali judul-judul yang sensasi seperti Maulid dan tahlil serta yasinan. Itupun hanya penasaran ingin membalas dan menyerang balik.

Berhati-hatilah wahai para juru dakwah dengan penggalan ceramahnya sering diunggah terhadap bahaya media karena dari situ seorang da’i bisa terpeleset akhirnya menjadi momok dakwah.

Betapa sering sekarang bola panas liar menerjang dakwah salaf gara-gara cuplikan video sepotong dua potong yang tidak bisa mengenyangkan akal lalu diracik oleh orang-orang awam menjadi masakan yang kurang sedap karena sang ustadz tidak seperti yang dibayangkan sebelumya…

Kadang penggalan ceramah tidak banyak menghasilkan ilmu namun malah menjadi serangan balik buat dakwah dan menjadi malapetaka bagi kelanggsungan dakwah di tengah umat, namun di sisi lain kadang ada Ustd hanya mengikuti kecenderungan mayoritas takut jam tayangnya berkurang.

Sudah menjadi Sunatullah yang berlaku pada media bahwa siapapun yang dibesarkan oleh Medsos maka suatu ketika terjatuh tertimpa tangga Medsos juga.

Bukti kesuksesan seorang da’i bukan diukur oleh banyaknya reting ceramah dan jam tayang media tapi sejauh mana ilmu itu bermanfaat dan mampu diserap jamaah yang akhirnya melahirkan pemahaman Islam yang benar dan diamalkan dalam kehidupan.

Pahamilah bahwa bila dakwah hanya mengantarkan seorang da’i tenar di Medsos, bangga dengan jam terbang, unggahan dan tayangan bahkan ketenaran dan keunggulan duniawi maka tanda ilmu tersebut tidak bermanfaat sebagaimana pernyataan Ibnu Rajab AL-Hambali;

وعلامة هذا العلم الذي لا ينفع أن يكسب صاحبه الزهو والفخر والخيلاء وطلب العلو والرفعة في الدنيا، والمنافسة فيها، وطلب مباهاة العلماء، ومماراة السفهاء، وصرف وجوه الناس إليه، وقد ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم : إن من طلب العلم لذلك فالنار
النار.

Diantara tanda ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan pada pemiliknya sikap bangga diri, congkak, sombong, cari ketenaran, ketinggian duniawi, dan keunggulan, bersanding dengan ulama serta berbangga diri di hadapan orang bodoh dan memalingkan perhatian kalangan awam maka berdasarkan hadits bahwa siapa yang mencari dan memburu ilmu dengan tujuan demikian maka yang didapat hanyalah Neraka! Neraka!.

Kembalikanlah umat kepada majelis ilmu yang penuh berkah, ketenangan, rahmat dan malaikat. Utamakan majelis dzikir sebagai taman surga yang bertabur bunga kebaikan meskipun tampak jamaah sedikit tapi bergelimang pahala dan berhias kemuliaan.

Oleh : Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here