Iran, Turki dan Saudi Arabia : Antara Persaingan Ideologi, Politik dan Kekuasaan (Tulisan 1)

2526

PERSAINGAN…

Ada 3 negara yang bersaing di kawasan Timur Tengah, yang berebut pengaruh: Iran, Turki, dan Saudi Arabia. Selain itu, terdapat kekuatan non negara (non-state power) yang turut berperan yaitu Ikhwanul Muslimin (IM). Buku-buku daras politik Timur Tengah menjelaskan hal ini.

Iran membawa ideologi Syiah Safawi yang mencuat sejak revolusi Iran tahun 1979 yang dipimpin Khomeini. Turki sendiri muncul dengan imajinasi Neo Ottoman yang dibawa Erdogan. Erdogan ingin membawa Turki memegang kontrol terhadap Syam dan Irak. Kata Erdogan, “Dulu sebelum perjanjian (Lausanne), luas Turki sebesar 2,5 juta km². Sesudah perjanjian hanya 800 km². Ini tidak adil bagi sejarah Turki… “

Saudi sendiri mewarisi pengaruh didunia Islam sebagai pusat peribadatan. Hubungan dengan negara lain berlangsung biasa saja. Ekspansi Syiahlah yang memunculkan ancaman yang kemudian direspon Saudi dengan menguatkan aliansi dengan negara lain.

Menurut Prof. Abdullah An-Nafisi, Iran memainkan strategi dominasi (haymanah), sedang Saudi Arabia dengaj strategi kontrol (saytharah). Haymanah berarti membangun kekuatan melalui milisi yang menyaingi pemerintah resmi, sedang Saytharah berarti membangun pengaruh melalui jaringan di pemerintahan. saytharah sifatnya mensupport rezim yang berkuasa.

Contohnya di Lebanon. Iran membangun milisi Hizbullat, Saudi mendukung keluarga Hariri menjadi perdana mentri. Di Yaman, Iran mensupport Houtsi, Saudi mendukung pemerintahan Ali Abdullah Saleh.

Strategi Iran jelas merusak karena akan membelah negara hingga perang saudara. Sedang strategi Saudi sangat tergantung situasi politik suatu negara. Terkadang, Saudi terkesan mendukung rezim yang zalim. Padahal ada pertimbangan lain menyangkut keseimbangan politik kawasan.

Next: Turki…

Oleh : Ibnu Rajab (Pengamat Timur Tengah)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here