Islam Menjamin Perempuan Nyaman dalam Menyatakan Pendapat

1247

Moslemtoday.com : Perempuan adalah perhiasan dunia”, begitu istilah yang sering terdengar mengenai perempuan, tentunya sudah familiar di telinga kita entah itu dari bacaan seperti buku, artikel, slogan maupun dari mulut ke mulut.

Namun dibalik itu terkadang ada perempuan yang merasa rendah diri karena sebagian pandangan yang menganggap bahwa perempuan lebih lemah daripada laki laki, hal ini dikarenakan perempuan mudah merasa sedih dan menangis atau dalam istilah sekarangnya baperan (bawa perasaan).

Maka dengan adanya asumsi yang menyudutkan perempuan pada kelemahan kerap kali menjadi pembatas bagi perempuan untuk mengekspresikan gagasannya, ataupun langkahnya dalam mengekspresikan perasaan.

Dengan demikian bukan berarti perempuan selalu didentikan dengan “kerapuhan”, dan mudah emosi, akan tetapi justru ini merupakan keunikan yang dimiliki seorang perempuan yang harus kita pahami, dan juga menghargai setiap gagasan gagasan yang  dikemukakan.

Pada masa Nabi Muhammad saw banyak sekali perempuan yang cerdas, tangguh, dan memiliki peran serta dalam kegiatan Nabi seperti yang telah termasyhur yaitu istri baginda nabi Muhammad saw, sayyidati  Aisyah. Beliau dijuluki sebagai ummul mukminin, sebagai orang yang faqih dan yang paling banyak meriwayatkan hadis, bahkan beliaupun pernah ikut dalam berperang bersama nabi.

Selain Aisyah juga ada Khodijah yakni istri pertama Rasul yang sangat dicintai, beliau sangat setia kepada rasul bahkan ia juga membantu dakwah nabi Muhammad saat menerima wahyu pertama. Ia sangat diagungkan oleh Allah dan Malaikatnya. Halimatussa’diyah  yakni seorang perempuan sekaligus ibu bagi nabi yang menggatikan ibunya dalam menyusui. Dan masih banyak lagi.

Dengan begitu jelas bahwasannya perempuan memiliki peran yang sangat penting bukan hanya laki laki. Maka dari itu perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki laki dalam berpendapat. Hal ini sesuai dengan hadis nabi dari riwayat Bukhori. 

سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ، قَالَ: اسْتَأْذَنَ عُمَرُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعِنْدَهُ نِسَاءٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُكَلِّمْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ، فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ قُمْنَ يَبْتَدِرْنَ الْحِجَابَ، فَأَذِنَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ وَرَسُولُ اللَّهِ يَضْحَكُ، فَقَالَ: عُمَرُ أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ، قَالَ عُمَرُ: فَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ يَهَبْنَ ثُمَّ قَالَ: أَيْ عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ أَتَهَبْنَنِي، وَلَا تَهَبْنَ رَسُولَ اللَّهِ قُلْنَ: نَعَمْ أَنْتَ أَفَظُّ وَأَغْلَظُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ  (رواه البخاري) 

Artinya : ”Saad bin Abi Waqqash Ra. menuturkan bahwa suatu saat, Umar bin Khottob Ra. pernah meminta izin menemui Rasulullah saw. Saat itu, didekat beliau ada wanita wanita dari suku Quraisy yang sedang berbicara panjang lebar dan bertanya kepada beliau. Suara mereka melebihi suara nabi Muhammad Saw. 

Ketika Umar minta izin masuk, wanita wanita dari kaum Quraisy itu segera masuk menutup diri (dibalik tabir). Lalu, Rasulullah Saw mempersilahkan Umar Ra untuk masuk, Rasulullah tertawa ringan sehingga umar bertanya :”demi Ayah dan Ibuku, apakah gerangan yang membuat tertawa, wahai Rasulullah ? 

“aku heran dengan mereka yang tadi berada di sampingku, ketika mendengar suaramu datang, mereka langsung bergegas menutup diri” jawab Rasulullah.

“Seharusnya engkaulah yang lebih patut disegani mereka, wahai rasulullah,” jawab Umar. 

Langsung, Umar menghadap kearah para perempuan itu, dan berkata, “hai perempuan yang tak tau diri, bagaimana mungkin kamu bisa takut kepadaku, tetapitidak takut kepada rasulullah Saw.?”

“Karena engkau memang lebih keras dan kaku daripada rasulullah Saw.,” jawab para perempuan itu. (Shahih al-Bukhari)

Dalam kisah tersebut sudah jelas dikatakan bahwasannya nabi saw memberikan kesempatan pada perempuan untuk berbicara, meskipun dengan nada yang tinggi dan lantang tanpa menghardik, melecehkan ataupun merendahkan. Beliau tetap lemah lembut, tenang dan menghadapinya dengan tersenyum. Ketika banyak suami yang menundukkan istrinya dengan surge dan menakutinya denganneraka, nabi membiarkan dirinya dituntut oleh perempun dengan suara yang lantang. 

 Tentu saja kisah ini menjadi teladan bagi kita terutama kaum laki laki untuk membuat nyaman bagi perempuan dalam menyatakan pendapat. Seperti halnya diatas diakatakan bahwasannya perempuan yang berada disamping nabi Muhammad merasa nyaman ketika menyampaikan kepada beliau bahkan dengan suara lantang sekalipun. Kenyamanan semacam ini yang dilakukan oleh nabi dalam rangka mengapresiasi peran perempuan, memberi penghargaan dan penghormatan terhadap pendapat yang diajukan oleh seorang perempuan. Wallahua’lam.

Penulis : Lilik Mushlihah

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here