Kenali Empat Tingkatan Status Gunung Api di Indonesia

160

Dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan definisi bencana sebagai berikut:
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Salah satu bentuk bencana alam ialah Letusan gunung api. Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar.

Beberapa waktu yang lalu, gunung api Anak Krakatau mengalami erupsi yang menyebabkan Tsunami. Tsunami menerjang wilayah pantai di Selat Sunda, Banten, pada Sabtu, pukul 21.27 WIB. Akibat peristiwa ini, sebanyak 222 orang meninggal dunia dan 28 lainnya dinyatakan hilang.

Untuk meningkatkan kewaspadaan kita terhadap erupsi gunung api, mari kenali tingkatan status gunung api di indonesia, karena Setiap negara memiliki sistem atau status peringatan yang berbeda-beda dalam menganalisa aktivitas vulkanik gunung api. Rusia menggunakan sistem peringatan berupa warna, sementara Indonesia menggunakan sistem peringatan dari aktif normal hingga awas seperti status Gunung api Anak Krakatau saat ini.

Berikut empat status peringatan tersebut seperti dilansir dari cnnindonesia.com Kamis (27/12/2018).

1. Aktif Normal
Status aktif normal artinya pada gunung api yang diamati tidak ada perubahan aktivitas secara visual, seismik, dan kejadian vulkanik. Ini menunjukan tidak ada letusan hingga kurun waktu tertentu.

2. Waspada
Status Waspada menunjukkan mulai meningkatnya aktivitas seismik dan mulai muncul kejadian vulkanik. Pada status ini juga mulai terlihat perubahan visual di sekitar kawah. Mulai terjadi gangguan magmatik, tektonik, atau hidrotermal, namun diperkirakan tak terjadi erupsi dalam jangka waktu tertentu.

3. Siaga 
Pada status Siaga ada peningkatan seismik yang didukung dengan pemantauan vulkanik lainnya, serta terlihat jelas perubahan baik secara visual maupun perubahan aktivitas kawah. Berdasarkan analisis data observasi, kondisi itu akan diikuti dengan letusan utama. Artinya, jika peningkatan kegiatan gunung api terus berlanjut, kemungkinan erupsi besar mungkin terjadi dalam kurun dua pekan.

4. Awas 
Status Awas adalah kondisi paling memungkinkan terjadinya erupsi. Status Awas merujuk letusan utama yang dilanjutkan dengan letusan awal, diikuti semburan abu dan uap. Setelah itu akan diikuti dengan erupsi besar. Dalam kondisi ini, kemungkinan erupsi besar akan berlangsung dalam kurun 24 jam.

Di Rusia dan Alaska, sistem peringatan aktivitas vulkanik gunung api menggunakan warna yang terdiri dari warna hijau, kuning, oranye, dan merah.

Warna Hijau menunjukan tidak ada aktivitas vulkanik pada gunung api yang diamati. Kemudian warna Kuning menunjukan tanda-tanda kegiatan vulkanik gunung api.

Setelah itu level Oranye menunjukkan kegiatan yang meningkat dan berpotensi terjadinya letusan dengan rentang waktu yang tidak pasti.

Level tertinggi yaitu Merah, menunjukkan bahwa waktu letusan sudah mendekat dengan emisi abu vulkanik yang signifikan.

Sumber : bnpb.go.id  cnnindonesia.com  idntimes.com | Redaktur : Fairuz syaugi
Copyright © 1439 Hjr. (2018) – Moslemtoday.com

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here