Ketakwaan Melalui Keseimbangan Hidup Dalam Teladan Nabi Muhammad

75

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan panutan atau suri tauladan bagi  kita semua sebagai umatnya, yang mana sebagai umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tentu saja kita  harus mengikuti apa yang telah beliau contohkan kepada kita semua. Dan barang siapa yang tidak suka sunnah Nabi Muhammad maka bukan termasuk golongan Ku.

Perempuan bukanlah penghalang bagi Laki-laki dalam beribadah mendekatkan diri Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,  dan bukan karena perempuan juga yang menjauhkan laki-laki dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala hal ini sebagaimana yang di contohkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau ini sangat dekat dengan perempuan yaitu beliau sangat dekat dengan cucu perempuannya,  beliau menunjukkan kedekatan beliau dengan cucu perempuannya pada saat beliau menimami shalat, beliau juga pernah shalat sedangkan di hadapan istrinya yang sedang berbaring (dalam keadan tidur).

 Rasullah juga melarang umatnya menganggap kecil ibadah mereka sendiri  sebagaimana yang di jelaskan dalam Hadis Shahih Al-Bukhari: 5118 

أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ ، فَقَالَ: ” أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (رواه البخار)

Artinya: 

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Suatu saat ada tiga orang yang datang mengunjungi keluarga Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka bertanya mengenai ibadah Nabi saw. Ketika diperoleh jawaban, mereka menganggap kecil ibadah mereka sendiri:

“Bagaimana dengan kami, (Duh, Nabi sangat rajin ibadah), padahal sudah dimaafkan segala dosa-dosanya”. Salah satu dari mereka kemudian berjanji: “ saya akan selalu shalat sepanjang mala”. Yang lain berikrar: “ saya akan berpuasa sepanjang tahun”, dan yang lain menimpali “ saya akan menjauhi dari peremouan, saya tidak akan menikah seumur hidup”. Mendadak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam datang dan menyahut: “ Kamu yang berkata ini dan itu, demi Allah saya orang yang paling segan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan  dan paling dekat diantara kalian kepada-Nya, tetapi saya berpuasa di hari tertentu dan tidak berpuasa di hari lain, saya shalat dan saya juga tidur begitupun saya menikahi perempuan. Barangsiapa yang menjauh dari kebiasaan saya seperti ini, maka ia bukan dari bagian saya” ( Sahih Bukhari, no hadis :5118)

Penjelasan singkat

Ini  rekaman peristiwa pada masa Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  mengenai bagaimana banyak orang masih menganggap bahwa mendekati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara menjauhi perempuan. Atau meninggalkan pernikahan dan keluarga. Dan anggapan ini, sebagaimana sudah ditegaskan, dikritik Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, baik dengan pernyataan tegas  dan dengan teladan nyata. 

Dalam berbagai teks Hadis, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan kemanusiaan  perempuan yang tidak boleh dikaitkan oleh seseorang sebagai faktor kejauhan dia dari Tuhan. 

  1. Ada teks yang menyatakan bahwa meninggalkan pernikahan untuk ibadah adalah bukan teladan  (sunnah) Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sama sekali.
  2. Teks yang menceritakan bagaimana wahyu turun pada saat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  bersamaan dengan Aisyah. 
  3. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  sendiri menunjukkan kedekatannya dengan sang cucu perempuan pada saat shalat, bahkan tidak mempermasalahkan  perempuan (istri) berbaring dihadapannya ketika shalat. 

Bukan hanya  terjadi pada zaman  Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai bagaimana  banyak orang masih menganggap bahwa mendekati Allah SWT dengan cara menjauhi perempuan. Atau meninggalkan pernikahan dan keluarga.

Oleh : Nurul Qomariah (Mahasiswi Jurusan Hadits IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here