KH. Said Aqil Siradj Sebut 20 Pesantren di Indonesia Sebarkan Paham Radikalisme

3248

Moslemtoday.com : Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj kembali menuding 20 Pondok Pesantren di Indonesia menyebarkan paham Radikalisme. Kali ini pada saat acara penandatanganan “Memorandum of Understanding” (MoU) atau nota kesepahaman antara Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), bertempat di Gedung Serbaguna Mahameru Polda Jatim, Jalan Ahmad Yani Surabaya, Kamis (1/9) kemarin.

Sebanyak 20 pesantren di Indonesia disebut menjadi penyebar paham radikalisme. Data pesantren itu disampaikan oleh Ketua umum PBNU Said Aqil Siradj. Paham ini selangkah lagi menjadi gerakan terorisme yang mengancam NKRI. Oleh karena itu, kiai yang sempat mengenyam pendidikan agama di Timur Tengah selama 13 tahun ini meminta kepada pihak kepolisian untuk memantau 20 pesantren tersebut. Demikian sebagaimana dilansir dari Okezone.com, Sabtu, (3/9/2016).

“Wahabi memang bukan teroris, tapi ajarannya ekstrem, selangkah lagi menjadi teroris. Saya minta kepada Pak Kapolri untuk memantau 20 pesantren yang menyebarkan paham wahabi,” kata Said Aqil saat acara penandatangan Nota Kesepahaman serta Seminar Nasional ‘Penanganan Konflik Sosial dan Ujaran Kebencian atau Hate Speech’, di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Kamis (1/9/2016).

Said Aqil menjelaskan, hal yang dimaksud paham ekstrem adalah menyebut golongan lain di luar golongan tersebut bid’ah bahkan musyrik. “Mereka menyebut Maulid Nabi bid’ah, ziarah kubur syirik, perayaan haul syirik, semuanya masuk neraka. Kalau sudah begini boleh membunuh orang NU kan kerjanya syirik semua,” tambahnya.

Ia menyebut beberapa fakta bahwa paham tersebut memicu terjadinya tindakan terorisme. Hal ini terungkap dari beberapa pelaku bom bunuh diri berasal dari pesantren paham wahabi. Contohnya, pelaku bom bunuh diri di Polresta Cirebon pelakunya adalah Saifuddin alumni dari Pesantren Assunnah di Desa Kali Tanjung, Kecamatan Graksan, Cirebon Selatan. Direktur pesantren itu bernama Salim Bajri Yusuf Ba’itsa. Syarifufin dari Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa barat juga pelaku bom Hotell Ritz Carlton.

“Kemudian Ahmad Yusuf dari Cirebon Timur pelaku bom Gereja Bethel di Solo adalah keluaran pesantren wahabi,” katanya.

Said Aqil juga menjelaskan, semua pelaku bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, beberapa waktu adalah alumni dari pesantren beraliran wahabi seperti Afifi dari Subang, Dian Ali dari Tegal, Muazzam dari Desa Kedung Wungu, Kecamatan Karang Ampel, Indramayu. Ada lagi Abu Wardah, Santoso, Ali Gufron, dan Umar Patek yang mertuanya bernama Hisyam Bawazir, pemilik salah satu pom bensin di Pemalang, Jawa Tengah.

Di hadapan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, ia menyebut sejumlah pesantren yang beraliran wahabi dan penyebar paham radikalisme. “Selain Pesantren Assunnah, juga ada Pesantren Al Faruq di Jalan Danau Toba, Jember, Jawa Timur, yang Ketuanya bernama Amin Rojab, Pesantren Al Fitroh di Jalan Arif Rahman Hakim, Surabaya, yang direkturnya bernama Ainul Harist,” ungkapnya.

Selain itu ada Pesantren Umar bin Khattab di Mataram; Pesantren Assoffah di Lenteng Agung, Jakarta, yang diketuai oleh Maman Abdurahman dan pernah terlibat dalam pengeboman Hotel Atrium, akibatnya pernah dipenjara 1 tahun. Kemudian ada lagi Pesantren Ulil Albab di Bandar Lampung.

“Kami minta kepolisian mengawasi pesantren-pesantren itu karena menyebarkan paham wahabi di Indonesia,” pungkasnya.

Baca juga : (Yayasan As-sunah Cirebon Bantah Tudingan KH. Said Aqil Siradj)

Video Dokumentasi :

Sumber : Okezone

comments

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here