Kisah Aku Mengenal Sunnah di 2007 dan Ayahku di 1978

1486

– Tahun 1978 –

Bapak saya (rahimahullah) bersungut-sungut hendak mengundurkan diri sebagai bentuk protes pada pimpinannya di Pos & Giro karena memindahkan beliau ke kantor cabang yang lebih kecil atas tuntutan seorang senior yang dengki.

Sang pimpinan menyambut dengan senyum menenangkan, “Saya paham perasaan sampean dik, tapi sabarlah sebentar. InsyaAllah kelak sampean akan berterimakasih ke saya seperti orang-orang sebelumnya.”

Memang benarlah firman Allah dalam al Baqarah 216:

“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu Tidak mengetahui.”

Berkat rahmat Allah semata, di kantor cabang baru beliau dipertemukan dengan kawan-kawan yang melek soal agama. Beliau yang semula hanya sekedar menjalankan ritual shalat, yasinan, tahlilan mulai katut belajar apa itu aqidah, sunnah, bid’ah.

Hingga pada suatu saat beliau berpesan pada ibu saya,

“Nanti, siapapun di antara kita yang meninggal lebih dulu, yang masih hidup janganlah bikin acara tahlilan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah bikin, sahabat juga tak pernah bikin yang semacam itu.”

Saat ibu menyampaikan kekhawatiran jadi gunjingan tetangga, beliau tegaskan untuk tidak takut omongan orang apalagi dalam soal agama.

Qaddarallahu tak lama kemudian beliau wafat.

Kawan-kawan beliau sesama pengurus dan perintis mushola NU di kampung kami mendatangi keluarga untuk menanyakan tentang acara tahlilan. Ibu sampaikan wasiat beliau apa adanya.

“Baiklah, kalau memang itu wasiat almarhum, biarlah kami kirimkan alfatihah saja bersama jamaah mushola.” Jawab ketua takmir.

Maka di 3 kesempatan ba’da maghrib berikutnya, imam memimpin jamaah mushola untuk mengirimkan alfatihah pada almarhum bapak saya sesuai dengan keyakinan mereka.

Saya salut dengan respon kawan-kawan seperjuangan bapak. Tentu mereka paham alasan bapak melarang keluarganya mengadakan tahlilan, toh demikian mereka tetap menghormati dan mengirimkan doa menurut cara yang mereka yakini.

Tapi sayangnya sebagian tetangga lebih suka rasan-rasan.

“Mati ga ditahlili kok seperti nguburkan kucing!”

Saya tumbuh besar tanpa tahu cerita itu. Bahkan ada masanya saya cukup aktif ikut tahlilan. “Ayo, jadi pengganti bapakmu..” kata para tetangga yang mengajak. Padahal kemudian saya mengetahui dari ibu bahwa bapak selalu menghindari undangan tahlilan sejak belajar agama dengan kawan-kawannya.

– Tahun 2007 –

Saya pertama kali mendengar nama Syaikh al Albani dan Syaikh Bin Baz melalui cerita dan buku milik 2 orang kawan.

Tak lama dari itu saya menemukan buku peninggalan bapak yang berjudul “Bersihkan Tauhid Anda Dari Noda Syirik” karya Muhammad bin Abdul Wahhab. Konon ini buku terjemahan bahasa indonesia pertama dari Kitab Tauhid yang dialihbahasakan oleh KH Bey Arifin dkk.

Saat saya mulai menumbuhkan jenggot, memakai celana di atas mata kaki, ibu sempat khawatir putranya mengidolakan Amrozi dan Imam Samudera.

Beliau mendudukkan saya dan tanya, “Kamu ngaji apa?”

Saya jawab saja, “Ngaji seperti bapak dulu.”

Alhamdulillah meski bapak tak sempat mengajari saya, insyaAllah sekarang ini saya berada di jalan yang sama dengan jalan yang pernah beliau lalui.

Banyak-banyaklah mendoakan anak-anak kita, karena kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Tinggalkan pula buku-buku yang bermanfaat, siapa tahu kelak akan jadi penyambung lidah kita pada anak keturunan.

Semoga Allah menjadikan kita istiqomah, menambah ilmu kita dan memanjangkan umur kita supaya sempat mendidik anak-anak kita.

Oleh : Akhi Satrio Rachmad

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here