Kisah Seputar Dauroh-19 Batu, Malang : Menatap Langsung Akhlak Para Ulama Rabbani

228

🍒 Kisah Seputar Dauroh-19 Batu-Malang : 

*Jadi, Ceritanya Begini….*
—————-

Jangankan berinteraksi langsung dengan para ulama Rabbani, melihat mereka saja bisa menambah keyakinan kita akan kebenaran ilmu di atas manhaj Salaf ini. Kenapa demikian? Karena kita bisa menyaksikan secara langsung buah ranum nan indah dari keberkahan pohon ilmu yang ada dalam dada-dada mereka. Buah yang tidak kita dapatkan ketika kita mendalami ilmu yang tidak mereka dalami. Bagi yang telah malang melintang pindah harokah, halaqoh, dan haluan hizb, lalu kecantol dengan kajian Salaf, saya yakin bisa merasakan hal tersebut. Ada sesuatu yang beda di hati, manakala “ilmunya para sahabat Rasul” ini, kita dalami.

***

Jadi ceritanya begini. Selama mengikuti Dauroh Syar’iyyah ke-19 di Batu-Malang sejak 02 Juli 2018 sampai dengan hari ini, saya menyaksikan beberapa hal yang menakjubkan dari sosok Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi _hafizhahullah_ selaku narasumber.

Syaikh Abdurrahman at-Tamimi _hafizhahullah_ ketika itu tepat berada di samping kiri beliau. Syaikh Abdurrahman _hafizhahullah_ tiba-tiba mengambil air botolan, lantas membuka segel dan penutupnya. Ternyata Syaikh Abdurrahman _hafizhahullah_ tidak bermaksud minum dari air botolan tersebut. Dengan penuh tawaadhu’ Syaikh Abdurrahman ternyata hendak menuangkan air ke gelas kosong yang tepat berada di hadapan Syaikh Sindi. Dengan sigap Syaikh Sindi mengambil botol air yang ada di tangan Syaikh Abdurrahman, lalu menuangkan sendiri air botolan tersebut.

Allahu Akbar…!! Pelajaran akhlak yang amat singkat, namun saya yakin, kejadian tersebut tak akan pernah terlupakan oleh siapa saja yang menyaksikannya. Pelajaran akhlak yang tak perlu menghabiskan waktu tahunan dan biaya miliaran untuk menyusun kurikulumnya. Pelajaran akhlak yang andai dituliskan dalam ribuan paragraf kalimat, belum tentu mampu memberikan bekas dan perubahan bagi pembacanya. Pelajaran akhlak yang didapat hanya dengan berada di sekeliling ulama dan berinteraksi dengan mereka.

Di situ ada akhlak memuliakan ulama, ada kurikulum hidup tentang ketawaadhuan yang ditunjukkan oleh Syaikh Abdurrahman _hafizhahullah_ yang lebih senja usianya dibanding Syaikh Sindi _hafizhahullah_. Di situ juga ada akhlak memuliakan yang lebih tua, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Syaikh Sindi kepada Syaikh Abdurrahman _hafizhahullah_. Di situ ada pelajaran tentang _al-hirsh fii tahshiil al-ajr_ (hasrat mendulang pahala) dari amal kebajikan (memberi air minum) dan akhlak yang mulia.

***

Hampir setiap saat dalam penyampaian materinya, Syaikh Prof. Sindi menyapa peserta dengan doa. Bagi yang mengikuti durus beliau di Masjid Nabawi, baik secara langsung maupun melalui rekaman kajian beliau di YouTube di di web resmi beliau (salehs.net), tentunya tak asing dengan kalimat sapaan beliau yang khas; _”Yaa ro’aakallaah….”_ (Duhai engkau, semoga Allah memeliharamu). Ungkapan yang benar-benar melukiskan kelembutan seorang guru pada murid-muridnya, disertai harapan besar agar murid-muridnya mendapatkan penjagaan dari Allah. Inilah manifestasi dari apa yang pernah disabdakan baginda Nabi ﷺ:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

_”Para penyayang, disayangi yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk di bumi, niscaya yang berada di langit akan menyayangimu”_ [at-Tirmidzi: 1924, Abu Dawud: 4941, ash-Shahiihah: 922]

***

Di lain kesempatan, Syaikh pernah mengingatkan para peserta yang masih berdering HP-nya, padahal sudah berada di kelas. Kata Syaikh; _”majelis ilmu punya kehormatan. Tidak layak diganggu dengan kesibukan lain selain ilmu. Matikan atau aktifkan mode silent…!!”._

Pada pertemuan berikutnya; dering HP terdengar lagi di kelas saat Syaikh Prof. Sindi menyampaikan materi. Syaikh menginterupsi; _”jika antum merasa tidak bisa lepas dari HP, berarti antum tidak layak berada di majelis ilmu, silakan meninggalkan majelis ini…!!”._ Kurang lebih seperti itu ungkapan Syaikh kepada kami semua yang hadir ketika itu (bukan hanya kepada person tertentu yang HP-nya kebetulan berdering karena lupa di-silent). Jujur, bagi saya pribadi yang selalu meng-on-kan mode silent sebelum masuk kelas, kalimat tersebut bagai petir di siang bolong, berat rasanya menengadahkan muka untuk melihat wajah Syaikh. Kami semua benar-benar malu. Hanya bisa tertunduk. Kendati Syaikh melirihkannya dengan nada yang datar dan suara yang lembut. Kejadian tersebut membuat saya berazam untuk selalu menonaktifkan HP (mode airplane, bukan sekedar silent) sebelum masuk kelas.

Sebagai seorang pendidik, terlebih ustadz yang mengajarkan ilmu din, sikap tegas Syaikh Prof. Sindi yang dikombinasikan dengan sikap lembut beliau, wajib dicontoh.

***

Syaikh Prof. Sindi adalah sosok yang sangat menghargai waktu. Beliau selalu hadir ke kelas tepat waktu sesuai jadwal. Beberapa kali beliau bahkan sudah berada di kelas sebelum seluruh peserta hadir menduduki bangkunya. Peserta yang telat, jadi tersipu malu melihat Syaikh telah duduk di depan, dan papan tulis telah beliau isi dengan tema inti yang akan beliau sampaikan.

Pernah di salah satu sesi, listrik padam beberapa kali. Sound system off semua. Sambil melihat jam tangannya, Syaikh beranjak dari kursinya lalu berdiri dan berjalan agak mendekat ke kursi peserta di baris depan, _”sa-arfa’u shouti”_ (saya akan menaikkan suara) kata beliau, sambil melanjutkan materi. Benar-benar tidak rela ada waktu yang terbuang percuma di kelas.

Saat listrik dan sound system kembali on, beliau terlihat enggan kembali duduk untuk memanfaatkan mic yang melekat di meja. Bagi beliau, lumayan makan waktu berjalan kembali ke kursi, karena waktu untuk sesi beliau sebentar lagi kelar. Beliau memilih melanjutkan materi yang tinggal sedikit lagi akan tuntas tanpa mic. Ini semua menunjukkan betapa beliau sangat apik memenej waktu, dan betapa persiapan materi dengan alokasi waktu yang tersedia menjadi hal yang urgen di mata beliau.

Demikianlah seharusnya seorang guru sejati; sebisa mungkin memenej waktu untuk alokasi materi yang akan disampaikan. Guru seperti ini sudah barang tentu telah mempersiapkan dan merencanakan materi ajarnya sebelum tampil di kelas. _Baarakallaahufiik Yaa Syaikhonaa…_, engkau telah memberi kami pelajaran berharga.

***

Syaikh Prof. Sulaiman ar-Ruhaily _hafizhahullah_ juga demikian. Tetap energik dengan suara khas beliau yang lantang. Padahal beliau sedang sakit lho..?!! Infeksi saluran pencernaan dan diabet dengan kadar gula yang tinggi (Syafallaahu Syaikhonaa syifaa-an kaamilaa). Kendati demikian, beliau sedikitpun tak pernah mengeluh. Bahkan selalu tepat waktu hadir di kelas.

***

Allahu Akbar…!! Merenungi itu semua, saya bergumam melemparkan pertanyaan ke dalam hati; apa yang menjadikan para Masyaikh ini begitu mulia, begitu kokoh karakter dan akhlaknya…?? Apa yang telah menjelmakan mereka menjadi figur berakhlak luhur dan berkarakter, tentu bisa menjadikan kita, anak-anak didik kita–di rumah maupun di madrasah–memiliki keluhuran akhlak yang sama.

Pastinya, mereka punya satu kesamaan. Ya, kesamaan ilmu dan kesamaan sumber ilmu, juga kesamaan pemahaman terhadap sumber ilmu tersebut. Ilmu Aqidah dan manhaj yang lurus. Aqidah dan manhajnya para sahabat. Ilmu al-Quran dan Sunnah di atas pemahaman yang satu, pemahaman Salafuna ash-Shaalih. Inilah pasokan energi yang mampu mengikis kerak-kerak negatif dalam jiwa manusia, lantas menggerakkan semua potensi positif yang ada.

Ilmu tentang Aqidah para Sahabat, akan mengundang petunjuk dan taufik dari Allah. Jika petunjuk dan taufik Allah menyertai, maka nantikanlah perubahan besar yang akan terjadi.

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ

_Maka jika mereka telah beriman (beraqidah) sebagaimana yang kamu (wahai para Sahabat) imani, sungguh, *mereka telah mendapat petunjuk*. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu),…_ [QS. Al-Baqarah: 137]

Ilmu jenis inilah yang harus ada di setiap madrasah anak-anak kita, dan wajib ada pada diri guru bagi anak-anak kita. Yaitu ilmu al-Quran dan as-Sunnah yang dengannya Rasulullah ﷺ menyucikan jiwa-jiwa para Sahabat:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

_Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, *menyucikan (jiwa) mereka* dan *mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah)*, meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata._ [QS. al-Jumu’ah: 2]

__________
Batu-Malang, 05072018
Muhibbukum fillaah

Oleh : Abu Ziyan Johan Saputra Halim (Ma’had Abu Hurairah – Lombok)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here