Lima Hal yang Harus Anda Ketahui tentang Masjid Al-Aqsa

1216

Moslemtoday.com : Berikut ini adalah rincian mengapa kompleks Masjid al-Aqsa di kota Jerusalem menjadi titik inti pertengkaran abadi dalam konflik Israel-Palestina :

1. Mengapa al-Aqsa begitu penting

Al-Aqsa adalah nama masjid berkubah perak di dalam kompleks seluas 35 hektar yang disebut al-Haram al-Sharif, atau Tempat Suci, oleh umat Islam, dan sebagai Bukit Kuil oleh orang Yahudi. Kompleks ini terletak di Kota Tua Jerusalem, yang telah ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia oleh UNESCO dan menjadi tempat penting bagi tiga agama Ibrahimiyah (Islam-Kristen-Yahudi).

Situs ini telah menjadi bagian wilayah yang paling banyak diperebutkan di Tanah Suci Jerusalem sejak Israel menduduki Yerusalem Timur, termasuk Kota Tua, pada tahun 1967, bersama dengan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Namun, konflik tersebut bahkan jauh lebih rumit sebelum munculnya negara Israel.

Pada tahun 1947, PBB menyusun sebuah rencana pembagian untuk memisahkan Palestina. Kemudian dibawah kendali Inggris, Palestina dibagi menjadi dua negara: satu untuk orang Yahudi, dan satu lagi untuk orang-orang Palestina. Negara Yahudi tersebut ditetapkan sebagai 55 persen dari tanah tersebut, dan 45 persen sisanya untuk negara Palestina.

Jerusalem, yang disana terletak kompleks al-Aqsa, saat ini berada dalam pengawasan komunitas internasional di bawah pantauan PBB. Kota ini diberikan status khusus untuk kepentingan tiga agama Ibrahimiyah, (Islam-Kristen-Yahudi).

Perang Arab-Israel yang pertama pecah pada tahun 1948 setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya, mencaplok sekitar 78 persen tanah Palestina, dan hanya menyisakan wilayah di Tepi Barat, Jerusalem Timur dan Gaza yang berada dibawah kontrol Mesir dan Yordania.

Agresi Israel  meningkat pada tahun 1967, setelah perang Arab-Israel kedua, yang mengakibatkan pendudukan Israel di Yerusalem Timur, dan akhirnya mengklaim kepemilikan tanah Jerusalem termasuk kota Tua dan kompleks Al-Aqsa.

Agresi ilegal Israel terhadap Jerusalem Timur, termasuk Kota Tua, melanggar beberapa prinsip hukum internasional, yang menyatakan bahwa kekuasaan pendudukan tidak memiliki kedaulatan di wilayah yang didudukinya.

Selama bertahun-tahun, Israel terus mengambil langkah lebih lanjut untuk mengendalikan dan merebut Kota Tua dan Yerusalem Timur secara keseluruhan. Pada tahun 1980, Israel mengeluarkan sebuah undang-undang yang menyatakan bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel, yang mendapat kecaman dari dunia internasional. Saat ini, tidak ada negara di dunia satupun yang mengakui kepemilikan Israel atas kota Jerusalem atau upayanya untuk mengubah susunan geografi dan demografi kota.

Warga Palestina di Jerusalem, yang jumlahnya sekitar 400.000, hanya memiliki status warga permanen, bukan kewarganegaraan, meski lahir di sana – berbeda dengan orang Yahudi yang lahir di kota tersebut. Dan sejak tahun 1967, Israel telah memulai sebuah pendeportasian kota Jerusalem dan menerapkan kondisi sulit bagi warga Palestina untuk mempertahankan status tempat tinggal mereka.

Israel juga telah membangun setidaknya 12 permukiman ilegal Yahudi di Jerusalem, yang menampung sekitar 200.000 orang Israel. Disisi lain, Israel menolak memberikan izin bangunan Palestina dan menghancurkan rumah mereka sebagai hukuman karena bangunan tidak sah.

2. Kota Suci Tiga Agama

Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa merupakan tempat suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kompleks Masjid Al-Aqsa diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam melakukan peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Sementara, Orang-orang Yahudi percaya bahwa kompleks itu adalah Kuil Sulaiman yang pernah ada, namun hukum Yahudi dan Rabbi Israel melarang orang Yahudi untuk masuk ke dalam masjid Al-Aqsa dan berdoa di sana, karena perbedaan keyakinan dengan Islam.

Tembok Ratapan yang berada di sebelah barat Al-Aqsa dikenal sebagai tempat suci bagi orang-orang Yahudi, dan diyakini sebagai sisa terakhir Kuil Sulaiman Kedua. Sementara umat Islam menyebutnya sebagai Tembok Burhan dan percaya di sanalah Nabi Muhammad mengikat Buraq dalam peristiwa Isra’ dan Miraj.

3. Status Quo

Sejak 1967, Yordania dan Israel sepakat bahwa umat Islam akan memiliki kendali atas masalah-masalah di dalam kompleks tersebut, sementara Israel akan mengendalikan diluar kompleks Al-Aqsa. Orang-orang non-Muslim diizinkan masuk ke tempat itu selama jam kunjungan, tapi tidak diizinkan untuk beribadah di dalam kompleks.

Namun, gerakan-gerakan Yahudi Ortodhox mengecam kesepakatan tersebut. Mereka menentang larangan itu dan berusaha untuk terus masuk ke kompleks Al-Aqsa dan berusaha membangun kembali kuil Yahudi ketiga di dalam kompleks tersebut.

Kelompok tersebut didanai oleh anggota parlemen Israel, meski mengklaim keinginan untuk mempertahankan status quo di lokasi tersebut.

Saat ini, pasukan Israel secara rutin mengizinkan kelompok-kelompok tersebut untuk memasuki kompleks Al-Aqsa yang membuat ketakutan bagi orang-orang Palestina atas pengambilalihan Israel atas kompleks tersebut.

Pada tahun 1990, The Temple Mount Faithful menyatakan bahwa mereka akan meletakkan batu penjuru untuk Kuil Ketiga di tempat Dome of the Rock, yang menyebabkan kerusuhan dan pembantaian di mana 20 orang Palestina dibunuh oleh polisi Israel.

Pada tahun 2000, politisi Israel Ariel Sharon memasuki tempat suci yang disertai oleh sekitar 1.000 polisi Israel, dengan sengaja mengulangi klaim Israel ke daerah yang diperebutkan sehubungan dengan perundingan damai yang diperantarai Perdana Menteri Israel Ehud Barak dengan pemimpin Palestina Yasser Arafat, yang mencakup diskusi tentang bagaimana kedua belah pihak bisa berbagi Jerusalem. Masuknya Sharon ke kompleks tersebut melepaskan Intifadah Kedua, di mana lebih dari 3.000 orang Palestina dan sekitar 1.000 orang Israel terbunuh.

Dan yang paling baru di bulan Mei tahun ini, Parlemen Israel mengadakan pertemuan mingguannya di terowongan di bawah Masjid al-Aqsa, pada peringatan 50 tahun pendudukan Israel di Yerusalem Timur, “untuk memperingati pembebasan dan penyatuan Jerusalem” – sebuah langkah yang membuat orang-orang Palestina marah.

Israel terus membatasi masuknya orang Palestina ke dalam kompleks tersebut melalui beberapa metode, termasuk membuat tembok pemisah, yang dibangun pada awal tahun 2000an, yang membatasi masuknya orang-orang Palestina dari Tepi Barat ke Israel.

Dari tiga juta orang Palestina di Tepi Barat yang diduduki, hanya mereka yang berusia di atas batas usia tertentu yang diizinkan masuk ke Jerusalem pada hari Jumat, sementara yang lain harus mengajukan permohonan izin keras dari pemerintah Israel. Pembatasan sudah menyebabkan kemacetan dan ketegangan serius di pos pemeriksaan antara Tepi Barat dan Jerusalem, di mana puluhan ribu orang harus melewati pemeriksaan keamanan untuk memasuki Jerusalem untuk sholat.

Langkah terakhir, pemasangan detektor logam baru, dilihat oleh orang-orang Palestina sebagai bagian dari upaya Israel untuk menerapkan kontrol lebih lanjut di lokasi tersebut, dan merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beribadah dan melanggar hukum internasional.

Presiden Mahmoud Abbas baru-baru ini mengumumkan bahwa pimpinan Palestina telah membekukan semua kontak dengan Israel karena ketegangan yang meningkat di kompleks al-Aqsa, mengatakan bahwa hubungan tidak akan berlanjut sampai Israel menghapus semua tindakannya tersebut.

4. Konflik Abadi

Ketegangan telah terjadi di dekat al-Aqsa selama dua tahun terakhir. Pada tahun 2015, bentrokan pecah setelah ratusan orang Yahudi mencoba memasuki kompleks masjid untuk memperingati hari libur Yahudi.

Setahun kemudian, demonstrasi juga meletus setelah kunjungan pemukim Yahudi di kompleks tersebut selama 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan yang bertentangan dengan tradisi Palestina.

Sebagian besar bentrokan di kompleks tersebut terjadi karena pemukim Israel mencoba untuk berdoa di dalam kompleks tersebut, yang secara langsung melanggar status quo.

Selama dua minggu terakhir, pasukan Israel menembakkan amunisi, gas air mata dan peluru baja berlapis karet ke arah orang-orang Palestina yang menunjukkan tindakan yang diberlakukan, termasuk pembatasan pria Muslim di bawah usia 50 tahun dari tempat suci tersebut.

Beberapa minggu terakhir ini terjadi demonstrasi dan konfrontasi harian antara pasukan Israel dan Palestina di kompleks tersebut.

5. Konteks yang lebih besar

Al-Aqsa hanyalah sebuah wilayah kecil di Palestina, tapi ini adalah bagian inti dari konflik abadi antara Israel dan Palestina.

Meskipun masjid itu sendiri sangat penting bagi umat Islam, bahkan orang-orang Kristen Palestina telah memprotes pendudukan Israel di kompleks tersebut.

“Isu al-Haram al-Sharif berdiri sebagai katalisator simbolis, namun menjadi sangat kuat dari rutinitas ketidakadilan dan penindasan yang dihadapi orang Palestina di Jerusalem, dan ini menyebabkan letusan kemarahan dan pemberontakan yang terus berlanjut.”

Bentrokan baru-baru ini antara Israel-Palestina di dekat kompleks al-Aqsa juga menyebabkan demonstrasi dan kekerasan di seluruh Tepi Barat dan Gaza.

Dengan lebih banyak pembatasan ditempatkan pada akses orang Palestina untuk memasuki kompleks Al-Aqsa ditambah dengan tindakan pasukan keamanan Israel yang mengizinkan orang Yahudi memasuki kompleks tersebut semakin membuat ketegangan terus meningkat karena Israel secara perlahan-lahan mencaplok keseluruhan kompleks tersebut.

Pemerintah Palestina telah memperingatkan bahwa semakin lama Israel tetap pada tindakannya tersebut, maka semakin lama situasi akan semakin buruk bagi umat Islam-Yahudi-Kristen di wilayah tersebut. (DH/MTD)

Sumber : Al Jazeera

📲 Akses lebih mudah… Install aplikasi Moslemtoday.com di Play Store: klik: https://play.google.com
📪 Mari gabung bersama media sosial Moslemtoday.com, silakan klik : Telegram : Grup, Channel, Instagram, WhatsApp: Grup 1, Grup 2, Grup 3, Grup 4, Twitter, Facebook

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here