Lima Perkembangan Terkini Sejak Pengumuman Trump atas Kota Jerusalem

7163

Moslemtoday.com : Kekerasan, aksi protes dan penangkapan terus meningkat setelah pengumuman keputusan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Jerusalem sebagai ibukota Israel. Donald Trump membuat pengumuman pada 6 Desember dan mengatakan AS akan memulai proses perpindahan kedutaannya dari Tel Aviv ke kota suci tersebut.

Sementara itu, masyarakat internasional tidak pernah mengakui klaim Israel atas seluruh kota Jerusalem. Di bawah Pengawasan PBB, Kota Jerusalem diberikan “status quo” dan berada di bawah kedaulatan dan kontrol internasional.

Status ini didasarkan pada status religius kota terhadap tiga agama Ibrahimisme, (Islam-Yahudi-Kristen).

Warga Palestina menyatakan bahwa Jerusalem adalah ibukota negara Palestina merdeka dan menolak agresi Israel atas kota tersebut. Disisi lain, Israel menegaskan bahwa kota ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari negara Israel.

Inilah lima perkembangan terkini sejak pengumuman Trump:

1. Aksi Gelombang Protes

Gelombang kemarahan menyebar dari Timur Tengah ke seluruh dunia pada hari-hari setelah pengumuman Presiden Trump. Lebih dari seminggu, puluhan ribu aksi terus berjalan.

Demonstrasi solidaritas terus menyebar dari Istanbul hingga Jakarta, dari Karachi hingga Rabat, dari Chicago sampai Tokyo. Di Timur Tengah, para pemrotes turun ke jalan-jalan di Amman, Beirut, Tepi Barat, Jerusalem dan Gaza.

Sementara di hari Jumat adalah hari kunci untuk demonstrasi di dunia Muslim, para pemrotes telah turun ke jalan setiap hari di wilayah Palestina yang mendorong penggunaan kekuatan secara berlebihan oleh Tentara Israel.

Pada tanggal 14 Desember, Israel menutup penyeberangan perbatasan Gaza untuk barang dan pejalan kaki hingga bantuan kemanusiaan.

Bulan Sabit Merah Palestina telah memberikan bantuan medis kepada lebih dari 1.933 orang di wilayah Palestina sejak pengumuman Trump [Mohamad Torokman / Reuters]

2. Roket dan serangan udara mematikan

Israel meluncurkan serangkaian serangan udara, beberapa di antaranya mematikan, melawan sasaran Palestina pada hari-hari setelah pengumuman Trump. Pejabat Israel mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap roket dari dalam Jalur Gaza .

Pada tanggal 14 Desember, Israel menyerang sejumlah markas Hamas, termasuk sebuah fasilitas angkatan laut dan sebuah pangkalan militer di dekat kamp pengungsi al-Shati di utara Gaza.

Lebih dari 10 serangan dilakukan secara total, menyebabkan setidaknya dua kematian dan kerusakan pada markas dan rumah di dekatnya, menurut sumber keamanan Palestina.

Pasukan keamanan Israel telah menahan lebih dari 260 warga Palestina sejak keputusan Trump [Mohammed Salem / Reuters]

3. Kematian dan luka-luka

Sedikitnya delapan warga Palestina telah terbunuh oleh Israel sejak pengumuman Trump, menurut kementerian kesehatan Palestina.

Empat demonstran, termasuk seorang penyandang cacat di Gaza ditembak mati oleh pasukan Israel pada 15 Desember. Pada tanggal 8 Desember, dua anggota Hamas tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza. Orang-orang yang terbunuh diidentifikasi sebagai Mahmoud al-Atal, 28 dan Mohammed Safadi, 30.

Pasukan Israel menembak dan membunuh dua orang Palestina lainnya pada hari yang sama di tengah demonstrasi di perbatasan Israel-Palestina.

4. Penangkapan dan Penjara

Pasukan keamanan Israel telah menahan lebih dari 260 orang Palestina dari Tepi Barat, Jeursalem sejak pernyataan Trump, menurut sebuah pernyataan yang dibuat oleh Masyarakat Tahanan Palestina pada tanggal 13 Desember.

Beberapa dari mereka yang ditangkap adalah anak-anak, termasuk Fawzi al-Junaidi  16 tahun. Foto remaja ini yang ditutup matanya dan dikelilingi oleh lebih dari 20 tentara pendudukan Israel, secara luas mendapat kecaman dari media sosial Timur Tengah awal pekan ini. Fawzi ditangkap dengan tuduhan melempar batu ke tentara Israel. Fawzi membantah tuduhan tersebut dan saat ini sedang dalam proses pengadilan Israel.

5. Deklarasi KTT OKI 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan pertemuan puncak KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam pada 13 Desember menyusul keputusan Trump tentang Jerusalem.

Dalam pertemuan tersebut di Istanbul, 57 negara anggota sepakat mencela langkah Trump dan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk “mengakhiri pendudukan Israel” di Palestina. KTT luar biasa OKI mendeklarasikan bahwa kota Jerusalem adalah ibukota Palestina.

Para pemimpin Muslim memperingatkan bahwa pemerintahan Trump akan bertanggung jawab atas “semua konsekuensi jika tidak mencabut keputusan ilegal ini”.

Didirikan pada tahun 1969, OKI menyatakan dirinya sebagai “suara kolektif dunia Muslim”.

Presiden Erdogan mengatakan akan membawa keputusan ini ke PBB. “Kami bertekad untuk menyelesaikan masalah ini, kami akan menuntut mereka karena melanggar hukum internasional.”

“Kami akan berupaya membatalkan keputusan yang tidak sah ini, pertama di Dewan Keamanan dan kemudian di Majelis Umum PBB. Saat ini, 137 negara di dunia sudah mengakui negara Palestina. Insya Allah, jumlah ini akan semakin meningkat seiring upaya kami,” tambah Erdogan. (DH/MTD)

Sumber : Al Jazeera
Redaktur : Hermanto Deli

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here