Media Islam: “Antara Mimpi, Dalil dan Ego Manhaj” (Part 1)

43
Gambar Ilustrasi. Sumber : Google.com

Media Islam: “Antara Mimpi, Dalil dan Ego Manhaj” (Part 1)

6 tahun sejak mundur dari Tendean, saya mempelajari langsung bagaimana Media Islam bekerja. Bahkan ketika diminta gabung di iNews, saya tetap meminta izin untuk bisa mempelajari bagaimana developing media Islam untuk bisa -minimal- bersaing dengan media mainstream. Kenapa gak berkembang, kenapa gak bisa raih rating, kenapa gak ditonton banyak orang, kenapa gak bisa sekaya media mainstream? Padahal kalo ditanya apa sih mimpi bikin media Islam? jawabnya Dakwah untuk Umat Indonesia yg mayoritas Islam.

Ohya.. kita definisikan dulu apa itu media Islam dan mainstream ya.
Media Islam adalah ketika kepemilikan beragama Islam, output program Islam, sistem manajemen terbatas tanpa standar gaji rata2 nasional, sistem revenue infaq, dan kreatifiras di dalamnya terikat dengan aturan Islam, lebih ketat dari KPI. Bahkan audiencenya juga berbasis audience Islam. Walau kenyataannya juga tidak menolak jika ada audience non muslim ikutan menonton. Baik itu ditayangkan secara Free to air satelite, cable, VOD, OTT, atau Internet basis. Dari Web, Radio, TV, sampai channel youtube semua lini, dengan catatan.. sebagian menumpang diatas platform mainstream. Sebagian belum mandiri secara basis siaran.

Sementara Media Mainstrean dimiliki oleh murni pengusaha dg latar agama bebas, sistem manajemen modern dan standar gaji rata2 nasional, sistem revenue berbasis Iklan dg parameter Nielsen, output program bebas kreatif, terikat hanya pada aturan KPI, dan audience semua latar agama dari anak sampai dewasa. Disiarkan di semua basis teknologi saat ini.

Kalo bicara teknis, saya jawab semua sama saja. Teknik ambil gambar, jenis kamera, teknik penulisan naskah, bagan studio, lighting studio, support audio dan lighting, teknik editing, spesifikasi komputer editing, semua plek sama!

Namun kalau teman2 baca lebih detil, dimana titik bedanya? Sini saya bredel dengan telanjang di dua point krusial, yaitu: KEPEMILIKAN dan MANAJEMEN REVENUE.
Pertama adalah Kepemilikan. Pemilik media Mainstream akan lugas mengatakam bahwa pemilik Transcorp adalah CT, MNC group adalah HT, Viva media adalah ARB. Jadi jelas rules of game terikat pada pemilik, dan pemilik terikat pada aturam Siaran KPI nasional, kreatifitas bebas berbasis pasar penonton, dan standar output bebas selama aturan KPI ditaati. Jadi secara Indistri, sangat baik memenuhi ekosistem A to Z media. Sekaramg coba tanya siapa pemilik Media Islam ? Hampir rata2 manajemen berkata: Milik Umat. Tapi kenyataan di dalamnya, para Ustadz akan mendominasi aturan main, dan terikat hanya kepada manhaj organisasi tempatnya bernaung. Secara industri, tidak bisa memenuhi ekosistem media.

Kepemilikan yang ambigu ini berimplikasi banyak hal, termasuk Manajemen Kreatifitas program. Memilah batasan audience yang sejatinya 70% rakyat Indonesia, alias 220 manusia adalah beragama Islam. Ternasuk membatasi kreator program yg terikat pada persetujuan ustadz. Juga ketika harus mengundang dan bekerjasama dg pihak talent atau narasumber yang berbeda manhaj. Rigiditas manajerial tercermin dari Pemahaman Keislaman. Media berbasis Nahdliyin akan mustahil mengundang narasumber berbeda Manhaj, apalagi mengundamg narasumber Salaf. Begitu sebaliknya. Media Islam di Indonesia masih berkutat pada Berita dg disain Live Report, Talkshow, dan agenda atau magazine. Paling Sementara kalo bicara lini Produksi non News, gak jauh dari Tilawah murotal Quran. Kalaupun ada geliat Animasi Nusa Rara, itu juga pelaku kreatifitas PH yang tidak terikat oada sosok Ustadz dan Manhaj organisasi. Lepas! Disisi kreatifitas, jangan bermimpi membuat Reality atau Sketsa humor seperti Lapor pak! Di media Islam. Bicara Rundown aja masih jadi pe-er. Maka tak heran kalo hari Raya Islam, ketika Media Mainstream berjaya dengan Multi Program special Ramadhan: Arus Mudik, Komedi spesial, Talkshow spesial, Film spesial, semua kreatifitaa bermain dan meraih penonton dg jangkauan luas. Sementara Media Islam masih siaran dari studio dengan narasumber -lagi2- ustadz dan Murotal. Hampir gak ada bedanya antara hari raya dengan hari biasa. Ini belum bicara event besar seperti Olahraga sekelas MotoGP di Mandalika, F-1 di Bahrain, atau kejadian Internasional seperti Perang Rusia – Ukraina, kecuali media Islam berbasis kemanusiaan.

Sekarang bahas hal sensitif, yaitu manajemen revenue. Jreng!
Kita semua tau bagaimana Media Mainstream meraih cuan lewat Iklan. Sebuah program prime time berdurasi 60 menit dg rating minimal 1.0 alias 600 ribuan pemirsa, bisa mendapatkan revenue 1 Milyar per episode hanya dari Iklan. Bayangkan kalau 30 hari bisa berapa, dan prime time itu sehari antara jam 18.00 sampai 22.00. 4 jam sehari utk Prime time. Jejaring Tim sales sangat kompak dan bertabur diskon utk memenuhi target manajemen. Tak heran jika 3 Media besar sekelas Trans, MNC dan Emtek, bisa beromzet minimal 2 Trilyun dalam setahun. Ini non pandemi ya.

Media Islam punya cara lain. Manajemen revenue utama adalah berbasis Infaq jamaah. Maka tak heran bila media Islam yang survive akan menempelkan narasi Bencana alam, Kemanusiaan, Quran, Pembangunan masjid plus pesantren, juga anak-anak yatim sebagai program utama yang 10% nya diambil untuk menghidupi media, itupun setelah dipotong cost operasional program di atas, yah paling tinggal sisa sekitar 2% utk media. Kalaupun ada adsense web dan digital sekelas youtube, ini baru 2-3 tahun dilakukan setelah memenuhi kriteria Subcscriber dan View penonton. Direct Iklan produk tidak berbasis Rating, tapi berbasis pada sponsor yang ditempelkan pada ketokohan sang Ustadz. Biasanya produk fashion, travel haji-umroh, atau endorser makanan. Belum lah bicara Bank syariah, atau Consumer goods seperti Unilever atau Kino yg belanja Iklan setahun bisa trilyunan. Maka jangan tanya berapa revenue media Islam hari ini. Terbayang 1% saja dari revenue media mainstream sudah sangat bagus. Jika bicara gaji, .. ah jangan deh. Gak tega buka datanya hehehe. Hal ini juga yang membuat media Ustadz saling bersaing antara mereka dalam menjaga kolam jamaahnya. Mereka punya database para donatur kaya sendiri. Susahnya berkolaborasi dan memusingkan crew di bawah dalam membuat program.

Akhirnya saya paham Pain Point nya. Kenapa media Islam belum bisa disandingkan dg media mainstream. Tapi dari deretan case di atas, temen2 pasti bisa membaca bagaimana solusinya. Iya khan? Salah satunya adalah berkumpulnya para wartawan khusus bencana kemanusiaan. Menjadi jembatan berita si miskin dan si kaya.

Bersambung …

Oleh : Selo Ruwandanu (Praktisi Media)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here