Membantah Dusta Rahmat Baequni: Silsilah Raja Arab

7487

Moslemtoday.com : Dari sekian ceramah Rahmat Baequni (RB) yang tersebar di dunia maya, tuduhan Raja Arab Saudi sebagai keturunan Yahudi merupakan kebodohan yang paling nyata. Apakah umat Islam terlalu mudah dibodohi?

RB mengatakan bahwa Raja Arab Saudi merupakan keturunan Yahudi berasal dari Irak. Dia menulis di white board saat berceramah, nama pendiri Arab Saudi, Abdurrahman bin Abdulaziz Al Su’ud adalah cucu dari seorang Yahudi Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe.

Di kesempatan lain, dia menyebut nama pendiri Arab Saudi adalah Abdulaziz bin Abdurrahman Al Su’ud, terbolak-balik.

Dalam ceramahnya, RB selalu mengutip buku “Simbol-simbol Iluminati di Tanah Haram,” karya Muhammad Abu Ezza. Menurutnya, buku tersebut sudah ditarik peredaran, padahal masih bisa dipesan di toko online.

Yang unik lagi, referensinya adalah cerita dari orang-orang yang pernah tinggal di Arab Saudi dan seorang tamu majhul dari Pakistan saat mengikuti daurah dakwah di Jakarta dan Makassar.

RB juga mengaku merujuk ke Ahmad Sakhir, tokoh sejarah Arab Saudi, yang menurutnya, sejarawan tersebut dan seluruh keluarganya dibunuh setelah mengungkap asal keturunan raja Arab Saudi seperti di atas (?).

Dengan sangat berani pula, RB mengutip perkataan Raja Faisal, tahun 1960-an, entah 1965 atau 1967, dia sendiri ragu, konon dimuat di Washington Post: “Sesungguhnya kami bangga menjadi komunitas kecil Yahudi yang berada di tanah Arab.”

Benarkah apa yang dikatakan RB di atas dalam ceramah-ceramahnya yang disampaikannya di berbagai tempat tersebut?

Untuk menjawabnya, perlu diketahui terlebih dahulu, bahwa bangsa Arab merupakan bangsa yang sangat memperhatikan dan menjaga nasab, serta hubungan kekerabatan, karena mereka tidak lupa nenek moyang mereka.

Nasab atau silsilah keturunan merupakan perkara penting bagi bangsa Arab. Mereka mengandalkan kekuatan hafalan, selain menjadikan lebih terhormat, kala itu kebanyakan mereka buta huruf.

Data pembukuan silsilah keturunan mulai menjadi tradisi di kalangan Arab, pasca seringnya terjadi peperangan antar kabilah.

Hafalan dan pembukuan inilah yang dilakukan pula oleh Alu Su’ud, pendiri kerajaan Arab Saudi.

Seharusnya RB merinci Abdurrahman atau Abdulaziz yang dimaksud raja di masa Kerajaan Arab Saudi yang ke berapa? Mengingat Saudi mengalami 3 fase; Saudi pertama (1744 M), Saudi kedua (1824 M), dan generasi ketiga saat ini yang dimulai tahun 1902 M.

Pembahasan asal usul Al Saud sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para peneliti dan sejarawan. Di antara mereka terdapat ikhtilaf, berbeda pendapat.

Banyak buku yang telah ditulis dan bukti-bukti dokumen yang dipaparkan. Dari sekian seminar dan simposium yang telah dilakukan, memperjelas garis keturunan pendiri kerajaan Arab Saudi yang sebenarnya.

Di antaranya, manuskrip di bawah ini yang menunjukkan garis silsilah Al Su’ud:

Manuskrip tersebut bertuliskan: Saud bin Abdulaziz bin Muhammad bin Saud bin Muhammad bin Muqrin bin Markah bin Ibrahim bin Musa bin Rabia bin Manea bin Rabiaa Al-Rubai Al-Waazid Al-Yazidi dari Al-Waazid Bani Hanifah.

Di bagian kanan naskah adalah referensi waktu penulisan, yaitu pada masa pemerintahan Imam Turki bin Abdullah Al Saud (1240-1249 H), yang mengatakan: Dan Abdullah Abu Turki, yang terkenal saat ini.

Manuskrip tersebut di antara puluhan dokumen yang menunjukkan garis keturunan mereka dari Bani Hanifah, tersimpan baik di Daarah Malik Abdulaziz, Riyadh, sebuah yayasan penelitian dan pelestarian sejarah Arab Saudi.

Selain yang tertulis di atas, masih banyak bukti lain bahwa leluhur raja Saudi adalah berasal dari Bani Hanifah dari Wail bin Rabi’ah yang tiba di Diri’yah sejak 850 H.

Yang menarik terkait dengan keturunan dan sejarah Arab Saudi adalah peristiwa yang terjadi pada tahun 1365 H (1946 M) di Mina. Saat itu, Raja Abdulaziz menerima kepala delegasi jamaah haji, mempertegas dasar negara Saudi, dengan mengatakan:

“Mereka mengatakan bahwa kami adalah kaum wahhabi dan sebenarnya adalah bahwa kami adalah kaum salafi yang mempertahankan agama kita dan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Jika demikian, wajar Saudi menjadi biladul mustahdaf (“negara target”), sebagaimana penuturan banyak warganya hari ini. jll

Sumber : Saudinesia.com

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here