Menanti “Aliansi Baru” Kerjasama Tiga Negara antara Iran, Turki dan Rusia

1196

Moslemtoday.com : Perkembangan politik Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir membuat Iran-Turki-Rusia mengadakan pertemuan-pertemuan tingkat tinggi untuk membahas kerjasama di antara ketiga negara, khususnya di bidang militer dan pertahanan. Berbagai pertemuan tingkat tinggi digelar untuk mencapai kesepakatan strategis bagi kepentingan bersama di Timur Tengah.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Muhamad Hussein Baqeri bersama para pejabat tinggi politik dan militer melakukan kunjungan ke Ankara pekan lalu, Selasa-Kamis, (15-17/8/2017). Baqeri mengatakan bahwa kedua negara bertekad mempererat hubungan di semua bidang khususnya kerjasama militer dan pertahanan.

Baqeri mengatakan bahwa Ankara juga akan melakukan kunjungan balasan ke Teheran sebagai tindak lanjut kunjungan Baqeri ke Ankara. “Delegasi diplomatik militer tingkat tinggi Turki akan segera mengunjungi Teheran untuk memberikan sentuhan akhir pada kesepakatan strategis antara Ankara dan Teheran dalam membantu menstabilkan Timur Tengah,” ungkapnya seperti dilansir dari Asharq Al Awsat, Kamis, (24/8/2017).

Pada saat yang sama, juru bicara militer Turki mengumumkan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat Rusia, Jenderal Valery Gerasimov akan segera memimpin kunjungan delegasi tingkat tinggi Moskow ke Ankara untuk membahas kerja sama tiga negara antara Iran, Turki dan Rusia.

Rincian kesepakatan yang dicapai antara Iran dan Turki selama kunjungan Ankara Baqeri belum terungkap. Namun demikian, berdasarkan pernyataan Baqeri saat melakukan konferensi Persnya mengungkapkan tiga domain utama kesepakatan dengan Ankara :

Yang pertama menyangkut keamanan tiga wilayah sensitif yang membentuk perbatasan Turki, Irak dan Iran di dataran tinggi yang dihuni kelompok Kurdi. Pada waktu yang bersamaan, ketiga negara harus menghadapi tantangan dari Kurdi yang ingin memisahkan diri dan membentuk negara sendiri.

Kekhawatiran tentang separatis Kurdi telah meningkat di Iran sebagai hasil keputusan baru-baru ini oleh Partai Demokratik Kurdistan Iran yang secara terbuka berkomitmen untuk memperjuangkan perubahan rezim di Teheran. Sampai sekarang, kelompok Kurdi seperti pasukan Komalah, partai Marxis dan PJAK, cabang PKK Iran, terus melancarkan serangan terhadap Iran.

Sementara itu, Turki mencoba menerapkan tiga rencana untuk mengatasi masalah Kurdi.

Yang pertama adalah membangun tembok sepanjang 65 kilometer di sepanjang perbatasannya di segitiga Kurdi dengan Iran dan Irak. Teheran sangat mendukung kebijakan ini karena ini juga membuat lebih sulit bagi orang-orang Iran yang melarikan diri ke pengasingan untuk mencapai Turki.

Rencana kedua adalah melakukan operasi militer terhadap PKK di wilayah Suriah dan Irak untuk memukul mundur pasukan kurdi dari wilayah tersebut. Rencana itu, didukung oleh otoritas Irak dan rezim Presiden Bashar al-Assad di Damaskus. Namun rencana itu mendapat kritikan tajam dari Partai Kurdi Suriah yang didukung oleh Amerika Serikat.

Rencana ketiga Turki adalah mempromosikan aliansi regional baru yang mencakup Iran, Rusia dan Irak. Idenya adalah bahwa aliansi semacam itu akan dapat mengimbangi kekuatan Barat yang dimpin AS dan sekutu Arabnya untuk mendapatkan kembali pengaruh Turki di Timur Tengah sejak jatuhnya Kekaisaran Ottoman selama satu abad yang lalu.

Di masa lalu, hubungan Iran dan Turki sangat erat dibawah kepemimpinan Shah Iran. Namun hubungan tersebut diputus oleh Ayatollah Khomeini saat memenangkan Revolusi Iran 1979 dan menuduh Turki bertindak sebagai “orang Amerika yang tidak berperasaan.” Namun sekarang dibawah kepemimpinan, Ayatollah Ali Khamenei, Iran ingin menghidupkan kembali setidaknya sebagian dari hubungan tersebut dalam konteks baru.

Pada pertemuan di Ankara tahun 2014, Iran dan Turki mencapai kesepakatan kerjasama keamanan perbatasan yang ditandatangani oleh gubernur Chaldaran dan Maku di Iran dan provinsi Agri dan Igdir di Turki. Kesepakatan tersebut mencakup tiga pertemuan keamanan bersama setiap tahun, ditambah mekanisme pertukaran informasi mengenai pergerakan kelompok teroris dan jaringan penyelundupan.

Domain kedua yang dibahas selama kunjungan Baqeri menyangkut masa depan Suriah yang menurut Teheran harus ditentukan oleh Iran, Turki dan Rusia dengan tidak melibatkan AS dan sekutu Arabnya. Namun menurut sumber Teheran, isu tersebut masih menyebabkan beberapa gesekan dengan Turki karena Presiden Recep Tayyip Erdogan masih menegaskan bahwa Assad harus lengser dari jabatannya.

Domain ketiga yang dibahas dalam kunjungan Baqeri tersebut adalah kerjasama ekonomi regional antara Iran-Turki-Rusia. Pekan lalu, Ghadir Investment Holding Iran, yang dikendalikan oleh Garda Revolusi Islam (IRGC) menandatangani sebuah kesepakatan senilai $ 7 miliar dengan Zarubezhneft milik Rusia dan pemegang Unit Internasional Turki, yang dikendalikan oleh orang-orang yang dekat dengan Erdogan, untuk mengembangkan ladang minyak dan gas baru di Iran untuk diekspor ke pasar global.

Turki yang memiliki perusahaan konstruksi terbesar di kawasan ini juga berharap dapat mengambil bagian dalam kontrak masa depan untuk membangun kembali Suriah dan Irak. Perusahaan konstruksi Turki mengalami kerugian besar, terutama di Libya, Tunisia dan Mesir, sebagai akibat dari Revolusi Musim Semi Arab dan menganggap pembangunan kembali Suriah dan Irak sebagai peluang kehidupan kedua.

Perundingan awal juga telah terjadi antara Rusia dan Turki dengan mengembangkan jalur pasokan untuk ekspor energi di Teluk Kaspia melalui pelabuhan Turki.

Akankah Aliansi antara segitiga Iran-Turki-Rusia benar-benar terbentuk? Dilihat dari suara yang berkembang di Teheran, Ankara dan Moskow jawabannya iya. Namun, aliansi ini tetap terlihat aneh dengan kebijakan kontradiktif dan kepentingan yang saling bertentangan di antara ketiga negara. Namun dengan kata lain, dalam dunia perpolitikan apa saja bisa terjadi. (DH/MTD)

Redaktur : Deli Abdullah
Sumber : Asharq Al-Awsat

comments

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here