Mengapa Erdogan Sampai Memiliki Masalah dengan Organisasi Militan Kurdi (PKK/YPG)?

2231
Gambar : Abdullah Ocalan, Kepala Pemberontak Kurdi (PKK)

Moslemtoday.com : Turki meluncurkan Operasi Militer “Zaitun” sejak Sabtu, (20/1) untuk memberantas pasukan bersenjata Kurdi di wilayah Afrin, Suriah Utara yang berbatasan dengan Turki.

Tapi mengapa Turki sampai memiliki masalah dengan orang Kurdi dan mengapa Truki menyebut mereka sebagai organisasi “teroris”?

Pada hari Sabtu, 20 Januari, angkatan bersenjata Turki melancarkan operasi militer, yang disebut Operasi Zaitun melawan pasukan Kurdi di distrik Afrin, Suriah yang terletak di utara kota Aleppo.

Staf Umum angkatan bersenjata Turki mengatakan operasi di Afrin telah menyebabkan kematian “260 teroris” dan satu tentara Turki.

“Dengan meluncurkan operasi Zaitun, kami telah menghentikan permainan dari berbagai kekuatan yang berusaha merusak wilayah kami. Kami akan benar-benar membersihkan wilayah ini dari Teroris yang dimulai kota ini sampai ke seluruh wilayah perbatasan kami, operasi ini diluncurkan untuk menjamin keamanan kita,” ungkap Presiden Erdogan, seperti dilansir dari Sputnik, Kamis, (25/1/18).

Free Syrian Army (FSA) yang menentang pemerintahan Presiden Assad, juga telah ikut ambil bagian dalam operasi ini mendukung Erdogan untuk melawan YPG .

Ankara menganggap pejuang YPG Kurdi sebagai organisasi “teroris” yang memiliki hubungan dengan pemberontak Kurdi (PKK) di Turki.  Sementara itu, AS memandang YPG sebagai kekuatan tempur yang sangat efektif melawan ISIS.

Siapakah Tentara Kurdi di Suriah Utara?

Pasukan Bersenjata di Afrin dan juga menguasai wilayah timur di Manbij merupakan pasukan afiliasi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang dibentuk pada tahun 2014 untuk melindungi suku Kurdi dari serangan ISIS.

Meskipun populasi Kurdi Suriah sangat kecil dan sebagian besar berada di ujung timur laut negara tersebut, YPG berhasil melawan ISIS dan menguasai wilayah yang luas di sepanjang perbatasan Turki.

Namun Turki percaya bahwa YPG merupakan perpanjangan dari PKK, organisasi teror Kurdi yang dilarang di Turki.

Siapa PKK itu?

Partai Pekerja Kurdistan atau dikenal juga Partai Komunis Kurdi (PKK) adalah kelompok bersenjata (serupa dengan Tentara Republik Irlandia (IRA) atau ETA (Euskadi ta Azkatasuna) di Basque Country, atau Pasukan Kriminal Bersenjata di Papua, Indonesia). PKK dipimpin oleh Abdullah Ocalan yang telah dipenjara sejak 1999.

PKK telah bertempur di Turki Tenggara selama tiga dekade yang telah menewaskan ratusan tentara Turki dan warga sipil.

Tuntutan mereka adalah sebuah negara Kurdi yang merdeka dan independen, namun dalam beberapa tahun terakhir ini, tuntutan mereka berkurang dan hanya menuntut wilayah otonomi khusus dan penarikan tentara Turki dari wilayah tersebut.

Pada bulan Desember 2016 lalu, 38 orang tewas ketika serangan bom bunuh diri dari  anggota PKK yang meledakkan dirinya pada sebuah pertandingan sepak bola di kota Istanbul.

Siapa Suku Kurdi itu?

Ada sekitar 30 juta suku Kurdi yang tersebar di daerah pegunungan Armenia, Turki tenggara, Irak utara, barat laut Iran dan timur laut Suriah. Mereka dijuluki juga sebagai “Suku Bangsa Tanpa Negara”.

Kurdi belum pernah memiliki negara, tapi seruan untuk mendirikan “Negara Kurdistan” mulai tumbuh pada awal abad ke 19 dan Inggris dan Prancis pada saat itu memberikan dukungan atas gagasan tersebut dalam Traktat Tahun 1920 di Sevres, yang disusun menyusul kekalahan dari Kekaisaran Turki Usmani.

Namun Kemal Ataturk, pada saat itu yang mendirikan negara Turki modern, menolak gagasan tersebut dan menyebut identitas Kurdi bagian dari Turki yang tinggal di wilayah “pegunungan tenggara Turki”, namun Turki melarang bahasa mereka diajarkan di sekolah-sekolah.

Bagaimana dengan orang Kurdi Irak?

PKK hanya berkuasa bagi suku Kurdi di Turki. Di seberang perbatasan di Irak ada dua organisasi saingan, PUK dan KDP, yang keduanya berperang melawan pemerintahan Saddam Hussein, Irak.

Serikat Patriotik Kurdistan (PUK) dipimpin oleh Jalal Talabani sementara Partai Demokratik Kurdistan (KDP) diperintahkan oleh Massoud Barzani. Mereka memiliki kekuatan bersama di pemerintahan daerah otonom Kurdi di kota Arbil, Irak utara.

Konstitusi Irak 2005 memberikan otonomi khusus kepada orang Kurdi namun dalam beberapa tahun terakhir wilayah ini telah menjadi seperti “Negara de facto Kurdistan” dan pada bulan September 2017 lalu, mereka melakukan referendum dan mayoritas memilih untuk kemerdekaan. Namun hasil referendum tersebut ditolak dengan tegas oleh Irak.

Bagaimana dengan Kurdi Iran?

Tidak saja di Turki dan Irak, Lebih dari enam juta orang Kurdi juga tersebar di wilayah Iran Barat Laut, namun mereka kurang bersuara dibandingkan dengan saudara mereka di Turki dan Irak, karena kuatnya pengaruh rezim teokrasi Iran di negara tersebut.

Namun para militan dari Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) Iran tetap melancarkan operasi. Pada tahun 2016 mereka melakukan serangan terhadap pasukan keamanan pemerintah Iran di Sanandaj selama Parade Hari Angkatan Darat, dengan tuntutan wilayah otonomi.

Pada 21 Januari 2017, Presiden Iran Hassan Rouhani bertemu dengan Perdana Menteri pemerintah otonomi Kurdi di Irak, Nechirvan Barzani, di tengah upaya untuk memperbaiki hubungan.

Namun Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, memperingatkan agar tidak mendukung pemberontak Kurdi Iran.

“Kami tidak dapat mentolerir kelompok tersebut menggunakan wilayah Kurdi untuk membunuh tentara dan warga negara kita dan mendirikan negara Kurdi,” kata Shamkani. (DH/MTD)

Sumber : Sputnik | Redaktur : Hermanto Deli
Copyright © 1439 Hjr. (2018) – Moslemtoday.com

Info Donasi : Dukung kami dengan cara donasi melalui Paypal di alamat : [email protected] atau BCA no. 3121012381 an. Deli Hermanto. Dukungan kita sangat penting bagi operasional Moslemtoday.com. Jazakumullahu khairon katsiron.

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here