Myanmar Belum Izinkan Tim Penyelidik PBB Kunjungi Rakhine

840
Marzuki Darusman, President of the Fact-Finding Mission on Myanmar, in Geneva, Switzerland September 19, 2017. REUTERS/Denis Balibouse
Akses lebih mudah… Download Web Apps Moslemtoday.com via Google Play Store: Klikhttps://play.google.com/store/apps/details?id=com.moslemtoday.moslemtoday

Moslemtoday.com : Penyelidik PBB mulai mengumpulkan kesaksian dari para pengungsi Muslim Rohingya atas pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh pasukan militer dan keamanan Myanmar. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Investigasi PBB, Marzuki Darusman, Selasa, (19/9/2017).

Marzuki Darusman mengatakan bahwa tim PBB-nya masih berusaha mendapatkan izin dari Myanmar. Marzuki Darusman mengatakan, pihaknya belum bisa bekerja secara maksimal untuk melakukan penyelidikan adanya tindakan kekerasan terhadap etnis Rohingya dikarenakan mereka belum mendapatkan izin dari pemerintah Myanmar untuk dapat mengunjungi Rakhine.

“Kami belum bisa melangkah lebih jauh dalam merencanakan kehadiran tim pencari fakta di lapangan sampai ada sinyal jelas dari pemerintah Myanmar bahwa misi pencari fakta sebenarnya mendapatkan akses ke negara tersebut,” ucap Marzuki, seperti dilansir dari Reuters, Selasa, (19/9/2017).

“Informasi awal telah diberikan bahwa beberapa tuduhan yang telah dijabarkan dalam resolusi tercermin dalam temuan awal tim dalam wawancara mereka, apa yang dilaporkan media internasional mencerminkan apa yang telah terjadi disana,” ungkap Darusman.

“Resolusi Dewan HAM PBB perlu untuk membentuk misi pencarian fakta untuk melihat dugaan pelanggaran hak asasi manusia baru-baru ini oleh militer dan pasukan keamanan dan pelanggaran di Myanmar, khususnya di Negara Bagian Rakhine”, tambahnya.

Temuan awal akan dirilis dalam waktu sekitar 10 hari, kata Darusman. Timnya seharusnya menyampaikan laporan penuhnya pada bulan Maret, namun Darusman mengatakan kepada Dewan yang berbasis di Jenewa bahwa kerangka waktu “sama sekali tidak mencukupi” dan meminta perpanjangan enam bulan. (DH/MTD)

Sumber : REUTERS

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here