Nasib Muslim Rohingya: Terjebak Antara Junta Militer Myanmar dan Pemberontak Tentara Buddha Arakan

74

Moslemtoday.com : Setelah menderita puluhan tahun penindasan, Muslim Rohingya di Myanmar sekarang terjebak di antara dua tembakan dari junta militer negara yang represif dan Tentara Arakan Budha yang memberontak.

PBB dan organisasi hak asasi manusia internasional lainnya menyebut kekerasan terhadap Rohingya di negara itu sebagai “pembersihan etnis” atau “genosida”, dengan mengatakan kelompok Muslim tersebut adalah “minoritas yang paling teraniaya di dunia.”

“Selain pelanggaran hak asasi manusia, banyak kampanye militer telah dilakukan untuk menghilangkan dan membuat Muslim Rohingya tidak memiliki kewarganegaraan di negara mereka sendiri dan di negara tetangga di mana mereka telah merebut tempat berlindung mereka,” ungkap Mohammed Rafik, aktivis Rohingya, seperti dilansir dari Anadolu Agency, Kamis, (1/12/2022).

Pada tahun 1978, sekitar 300.000 Muslim Rohingya dideportasi ke Bangladesh dengan Operasi Raja Naga (Nagamin). Pada tahun 1982, undang-undang kewarganegaraan disahkan dan kewarganegaraan Muslim Rohingya dicabut dalam semalam.

“Hak-hak dasar seperti layanan kesehatan, pendidikan, dan hak atas properti dicabut, Rohingya juga dibiarkan rentan terhadap penyiksaan dan pelecehan,” ujar Mohammed Rafik.

“Jenderal Than Shwe juga memaksa lebih dari 200.000 Rohingya, termasuk saya dan keluarga saya, untuk meninggalkan negara itu dengan Operasi Clean and Beautiful Nation pada 1991-1992,” tambahnya.

Rafik menggarisbawahi bahwa Presiden Thein Sein, yang menjabat dari 2011 hingga 2016 setelah pemilihan yang diadakan oleh tentara, juga menggusur 120.000 Muslim Rohingya dengan “kebijakan sistematis”.

“Sekitar 100.000 dari mereka tinggal di kamp-kamp pengungsi internal. Hak-hak Muslim Rohingya, yang memiliki hak untuk memilih dan dipilih dari kemerdekaan pada tahun 1948 hingga 2015, dicabut seluruhnya. Antara 2016 dan 2017, dua lagi kampanye genosida besar dilakukan. Karena dua kampanye ini, 75% populasi Arakan (negara bagian Rakhine) mengungsi dan menjadi pencari suaka di Bangladesh,” ujar Mohammed Rafik menjelaskan.

Selama bentrokan antara Tentara Buddha Arakan dan junta militer Myanmar, desa Arakan di negara bagian Rakhine yang merupakan tanah Muslim Rohingya telah menjadi medan perang. Sebagian besar desa Muslim Rohingya telah dikosongkan, dan mereka yang masih tinggal di desa-desa yang kini menjadi medan pertempuran juga terpaksa mengungsi.

“Tentara Arakan, kelompok militan Buddha, saat ini menguasai sebagian besar negara bagian Arakan dan sering bentrok dengan tentara Myanmar,” ujar Rafik.

Rafik mengungkapkan bahwa Tentara Buddha Arakan “dengan cepat merebut provinsi tersebut dan mendeklarasikan badan legislatif, yudikatif, dan administrasinya sendiri. “Tentara Buddha Arakan mulai mengumpulkan pajak dari Muslim Rohingya, yang juga harus membayar pajak kepada pemerintah yang dikendalikan militer. Sekarang ada pajak berganda untuk masyarakat di Arakan,” ungkap Rafik.

Sumber : Anadolu Agency | Redaktur : Hermanto Deli

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com. Join us: WA Grup & Telegram Channel, Follow us: @Instagram

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here