Jakarta โ Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kunjungannya ke luar negeri bersama Presiden RI Prabowo Subianto bertujuan untuk mengamankan pasokan energi nasional, bukan sekadar perjalanan seremonial. Langkah tersebut dilakukan di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi distribusi minyak dunia.
Bahlil menjelaskan bahwa dinamika global, seperti perang dagang dan ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah mendorong banyak negara berlomba mencari sumber energi alternatif. Kondisi ini turut meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak, termasuk di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
โKalau saya temani Bapak Presiden berangkat untuk cari minyak itu bukan jalan-jalan. Kita jalan kerja memikirkan 280 juta nyawa yang ada di bangsa ini,โ ujar Bahlil di Jakarta, Ahad (3/5/2026).
Ia memaparkan bahwa kondisi energi Indonesia saat ini berbeda jauh dibandingkan era 1996โ1997. Pada masa itu, lifting minyak nasional mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, sementara konsumsi hanya sekitar 500 ribu barel per hari. Kini, konsumsi telah meningkat menjadi sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara lifting berada di kisaran 605 ribu barel per hari.
Kesenjangan tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Bahlil menegaskan bahwa sebagian besar impor tersebut berupa minyak mentah (crude oil), yang menjadi tantangan utama dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan, pemerintah melakukan diversifikasi sumber impor. Bahlil menyebut sejumlah negara yang telah dijajaki, di antaranya Angola, Nigeria, Amerika Serikat, hingga Rusia.
โBagaimana cara mengalihkan dari Middle East? Saya kontak Afrika, Angola, Nigeria, Amerika Serikat dan beberapa negara lain, terakhir kemarin kita ambil dari Rusia,โ jelasnya.
Menurut Bahlil, pendekatan fleksibel dalam mencari sumber energi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah situasi global yang tidak menentu. Ia juga menyinggung capaian Indonesia dalam ketahanan energi yang dinilai cukup baik.
Mengutip survei JP Morgan, Bahlil menyebut Indonesia berada di peringkat kedua dari 52 negara dalam aspek ketahanan energi. Capaian tersebut didukung oleh peningkatan lifting, diversifikasi impor, serta kebijakan substitusi energi seperti biodiesel.
โUntuk stok crude satu tahun ke depan insya Allah sudah selesai,โ kata Bahlil menegaskan. *