Parlemen Libya Tetapkan Ikhwanul Muslimin Sebagai Organisasi Teroris

335

Moslemtoday.com : Parlemen Libya telah melarang cabang Ikhwanul Muslimin Libya dan menetapkannya sebagai kelompok teroris dalam sidang parlemen yang diadakan di Tobruk, pada hari Selasa 14 Mei 2019, seperti dilansir dari Al Arabiya.

Menurut sumber-sumber lokal, keputusan itu dibuat berdasarkan kejahatan Ikhwanul Muslimin melawan tentara Libya, dan hasutannya terhadap parlemen, serta dukungannya untuk milisi bersenjata dan kelompok-kelompok teroris di Tripoli.

Sidang Parlemen tersebut merupakan sidang pertama yang diadakan setelah gencatan senjata diumumkan antara kelompok saingan Tentara Nasional Libya (LNA), yang dipimpin oleh Khalifa Haftar, dan pemerintah Fayez al-Sarraj.

Ikhwanul Muslimin telah ditetapkan sebagai kelompok teroris di beberapa negara, termasuk Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Rusia.

Sebelum pemungutan suara, juru bicara LNA, brigadir Jenderal Khaled Mahjoub, mengatakan bahwa: “Dukungan Qatar dan Turki untuk Ikhwanul Muslimin telah meningkat setelah operasi Tripoli. Doha dan Ankara bahkan tidak ragu untuk mendukung Ikhwanul Muslimin dan itu berarti telah memprovokasi Tripoli.”

Pada Januari, sebuah laporan yang diterbitkan oleh Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi (ICSR) Kings College menyimpulkan bahwa Ikhwanul Muslimin Libya memiliki dukungan yang relatif kecil dari rakyat setelah digulingkannya diktator Muammar Gaddafi.

Laporan, yang berjudul: “Hantu Masa Lalu: Ikhwanul Muslimin dan Perjuangannya untuk Legitimasi di Libya pasca-Gaddafi,” menjelaskan sejarah perkembangan organisasi Ikhwanul Muslimin Libya, dan meneliti cara-cara di mana kelompok itu mencoba untuk memantapkan dirinya sebagai aktor politik yang sah sehubungan dengan kredensial di bidang politik Libya 2011.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa gerakan ini tampaknya gagal mencapai tujuannya untuk mengambil alih kekuasaan di negara ini. Dikatakan bahwa banyak pengamat, serta anggota Ikhwanul Muslimin sendiri, kecewa dengan hasil pemilihan pada tahun 2012 dan 2014, yang mengungkapkan bahwa kelompok tersebut memiliki dukungan yang relatif sedikit dari rakyat Libya.

Sumber : Al Arabiya, Libya Herald | Redaktur : Hermanto Deli

 

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here