Pengaruh Pemikiran Syekh Achmad Soerkati terhadap Pergerakan Nasional

1052

Moslemtoday.com : Syeikh Achmad Surkati nama lengkapnya ialah Achmad bin Muhammad as-Surkati al-Kharazraji al-Anshari, dilahirkan di Desa Udfu, Dunggulan, Sudan, pada tahun 1874. Ketika masih muda Syeikh Achmad Surkati belajar di Lembaga Al-Qur’an di Masjid Al-Qaulid.

Kecerdasan dan ketekunannya dalam belajar membuat ia berhasil menjadi seorang hafiz (orang yang hafal Al-Qur’an) dalam waktu relatif singkat. Ia kemudian belajar dasar-dasar ilmu fikih dan tauhid kepada ayahnya.

Surkati sebenarnya bercita-cita melanjutkan studinya ke Al-Azhar, tetapi tidak terwujud karena ayahnya wafat. Tambahan pula, situasi politik saat itu tidak mendukung, karena saat itu pemerintah Sudan dan Mesir sedang terlibat ketegangan, setelah Sudan terlepas dari kekuasaan Mesir tahun 1881.

Sekalipun ia tidak dapat mewujudkan cita-citanya, semangat untuk melanjutkan studinya tidak pernah mengendur. Pada tahun 1896 Surkati berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Kesempatan ini dipergunakannya untuk mencari ilmu.

Setelah tinggal beberapa waktu di Mekkah, ia kemudian pergi ke Madinah untuk melanjutkan belajar ilmu agama Islam dan bahasa Arab. Di sana Surkati belajar kepada beberapa ulama, seperti Syeikh Salih dan Syeikh Umar Hamdan.

Kedua ulama ini merupakan ahli hadits yang berasal dari Maroko. Setelah itu, ia juga belajar kepada Syeikh Achmad al-maghribi, dan lain-lain. Setelah 5 tahun belajar di Madinah, pada tahun 1901 Surkati kembali ke Mekkah untuk melanjutkan studinya. Di Mekkah ia belajar pada Syeikh As’ad, Syeikh Abdul Rahman, Syeikh Muhammad bin Yusuf al-Khayyath.

Berkat ketekunan dan kecerdasan, Achmad Surkati akhirnya menjadi seorang ulama terkenal dengan memperoleh gelar Al-‘Allamah dari Majelis Ulama Mekkah. Gelar tersebut diperoleh setelah mempertahankan tesisnya tentang Al-Qadha wal-Qodar.

Oleh karena ia dinilai memiliki ilmu yang tinggi, pada tahun 1906 ia dianugerahi sertifikat tertinggi guru agama dari pemerintah di Istanbul. Gelar dan sertifikat itu merupakan suatu penghargaan yang istimewa baginya, karena ia merupakan orang Sudan pertama yang mendapatkannya.

Sejak menerima penghargaan tersebut, Surkati mendirikan madrasah swasta di Mekkah dan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Selain mengajar di madrasahnya, ia juga mengajar secara tetap di masjid Al-Haram, Mekkah. Tampaknya sejak berada di Mekkah Surkati banyak membaca tulisan-tulisan Syeikh Muhammad Abduh yang ditulis di majalah Al-Manar yang isinya banyak membuat ide-ide pembaruan pemahaman ajaran Islam. Surkati juga melakukan surat menyurat dengan para ulama Al-Azhar untuk mencari seorang guru, ulama Al-Azhar menunjuk namanya dan menyarankan kepada utusan itu untuk berhubungan langsung dengan Surkati di Mekkah. Dari hasil pertemuan mereka, Surkati menerima tawaran mengajar dari Jamiat Khair tersebut. Pada bulan Oktober 1911 ia meninggalkan Mekkah menuju Indonesia.

Kehadiran Syaikh Achmad Surkati di Jumiat Khair Jakarta telah membawa semangat baru bagi kemajuan madrasah itu. Ketinggian ilmu dan kemuliaan akhlaknya menyebabkan ia berhasil memberikan pimpinan dan bimbingan.

Hanya dalam waktu satu tahun madrasah itu telah mencapai kemajuan yang pesat. Dengan segera Surkati menjadi tokoh panutan yang sangat dikagumi dan dihormati, sekalipun ia tidak menyukai penghormatan yang berlebihan.

Penghormatan yang berlebihan itu dikhawatrikan akan menimbulkan kultus individu. Suatu hal yang terlarang dalam ajaran Islam dan bertentangan pula dengan keyakinannya sebagai seorang ulama.

Meskipun Surkati sangat dihormati dan diperlukan, kehadirannya di Jumiat Khair relatif singkat. Menjelang tahun ketiga, terjadi perselisihan antara dirinya dengan pihak sayid yang banyak menjadi pengurus Jamiat Khair. Perselisihan tersebut timbul karena ada fatwa Surkati tentang masalah perkawinan yang bertentangan dengan pendirian golongan sayid.

Peristiwa itu bermula dari kunjungan Surkati ke kota Solo untuk memenuhi undangan golongan sayid. Dalam suatu pertemuan yang diadakan di rumah al-Hamid, seorang mustami’ bernama Said bin Sungkar bertanya tentang masalah hukum perkawinan antara seorang syarifah (putri sayid) dengan pria non-sayid.

Pada saat itu Surkati memberikan jawaban yang singkat dan tegas, “Boleh menurut hukum syara’ yang adil.” Jawaban itu kemudian dikenal dengan sebutan fatwa Solo. Fatwanya itu ternyata mengundang reaksi keras dari pihak sayid yang berabad-Abad mempertahankan hukum kafa’ah.

Berita seperti itu sampai kepada para sayid yang ada di Jakarta, sehingga ketika Surkati kembali ke Jakarta, ia disambut secara dingin oleh mereka. Golongan sayid menentang fatwa Surkati itu, karena mereka berpendapat bahwa seorang syarifah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria non-sayid.

Oleh karena itu, syarifah hanya dapat dinikahi oleh kalangan sayid. Mereka meminta kepada Surkati agar menarik kembali fatwanya itu. Permintaan itu dijawab Surkati bahwa apa yang dikatakannya itu benar, baik dilihat dari Al-Qur’an maupun hadits.

Surkati tidak mau menarik kembali fatwanya tersebut dan ia tidak mau mencampuri urusan mereka tentang setuju atau tidaknya. Melihat pendirian Surkati yang tidak mungkin berubah, pihak sayid mengucilkannya.

Surkati tidak pernah mendapat undangan lagi dalam rapat-rapat yang mereka adakan. Lebih menyakitkan lagi, Surkati tidak lagi mendapat kebebasan untuk memberikan ilmunya. Bahkan, murid-muridnya dilarang untuk menghafal sairnya yang berjudul Ummahat al-Akhlak:

“Tidaklah kebanggan itu karena pakaian atau keturunan, dan bukan pula karena uang atau emas, tetapi kemuliaan itu karena ilmu dan adab, dan agama adalah pelita bagi orang yang berakal.”

Meskipun pihak sayid tidak menyukai kehadirannya lagi, untuk beberapa waktu Surkati masih tetap bertahan untuk mengajar di madrasah Jamiat Khair. Akan tetapi, sikap golongan sayid makin lama makin menjauhi dan mengucilkannya.

Surkati menyadari bahwa kehadirannya sudak tidak diinginkannya lagi oleh mereka, setelah kurang dari tiga tahun mengajar, Surkati akhirnya meninggalkan Jamiat Khair secara resmi tanggal 15 Syawal 1332 atau bertepatan dengan tanggal 6 September 1914.

Bebrapa waktu sebelum Surkati secara resmi meyatakan keluar dari Jamiat Khair, ia ditemui tiga orang sahabatnya dari kalangan non-sayid, yaitu Syeikh Umar Manggus, Saleh Ubaid, dan Said Salim Mashabi.

Kepada mereka Surkati menyatakan niatnya untuk kembali ke tanah Suci Mekkah, dengan alasan bahwa pihak sayid tidak menyukai kehadirannya. Pengungkapan niatnya itu mengejutkan mereka.

Mereka sangat menyayangkan bila ketinggian ilmu yang dimiliki Surkati tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran dan kecerdasan umat Islam Indonesia. Mereka meminta Surkati agar merenungkan kembali niatnya dan kalau dapat membatalkannya sama sekali.

Oleh karena saat itu bulan puasa, Surkati diminta tinggal dahulu selama bulan suci tersebut. Mereka juga memberikan harapan  bahwa Surkati masih dapat meneruskan kegiatan mengajarnya di madrasah yang akan didirikan, Surkati menerima dengan baik saran dan ide tersebut.

Sumber : Media Center Perhimpunan Al Irsyad

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here