Pengungsi Palestina di Lebanon : “Ini Seperti Tinggal di Penjara”

888

Moslemtoday.com : Mahmoud Mashwra berusia 12 tahun saat dia melarikan diri dari penindasan Israel di wilayah Palestina bertahun-tahun yang lalu dengan harapan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Lebanon. Namun dia malah menemukan ekonomi yang suram, kekurangan bantuan internasional dan diskriminasi terhadap orang-orang Palestina. Ia bekerja seharian untuk membantu keluarganya bertahan hidup.

“Saya pikir, saya akan kembali ke sekolah saat saya nanti kembali ke Palestina,” ungkap Mashwra, 16 tahun kepada Al Jazeera. Namun harapan tersebut telah hilang setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump menyatakan Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Sekitar 280.000 pengungsi Palestina yang tinggal di Lebanon, banyak di antaranya berharap suatu hari bisa pulang ke tanah Palestina.

Pengungsi Palestina di Lebanon diperlakukan sebagai penduduk kelas dua, yang dilarang bekerja di ladang, dilarang untuk memiliki properti, dipaksa tinggal di kamp-kamp yang rusak dan dilarang mendapatkan pendidikan formal.

“Ini seperti tinggal di penjara. Pemerintah mengontrol tempat tinggal saya dan tempat saya bekerja,” ungkap Mohammed Jabbar, salah seorang pengungsi Palestina.

Warga Palestina tidak dapat memiliki bisnis di Lebanon dan dilarang melakukan profesi dengan gaji yang layak, termasuk jaminan kesehatan dan undang-undang. Diperkirakan dua pertiga hidup dalam kemiskinan. Pemerintah tidak akan memberikan hak kewarganegaraan kepada pengungsi Palestina, karena khawatir hal itu bisa membuat mereka tinggal selamanya.

“Ini adalah hipotesis yang kejam dan salah. Tidak ada yang melarang Lebanon untuk menghormati hak asasi manusia Palestina sementara menahan kewarganegaraan negara. Namun, generasi telah tumbuh tanpa perlindungan dasar,” ungkap Bassam Khawaja, juru bicara Human Rights Watch yang bermarkas di Beirut, mengatakan kepada Al Jazeera.

Saat ini, warga Palestina bersaing dengan hampir dua juta pengungsi Suriah di Lebanon untuk mendapatkan pekerjaan dan bantuan. “Sebagian besar bantuan kemanusiaan internasional yang masuk ke Lebanon hanya difokuskan pada krisis pengungsi Suriah, yang berarti kita mengabaikan pelanggaran HAM lama yang telah dihadapi orang-orang Palestina di sini selama beberapa dekade,” kata Bassam Khawaja.

Badan Bantuan Kemanusiaan PBB menangani bantuan untuk orang-orang Palestina adalah UNRWA. Sementara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Suriah adalah UNHCR. Terdapat perbedaan mencolok dari kedua badan tersebut untuk mengalokasikan bantuan kepada pengungsi Palestina dan Suriah.

“UNHCR memberi 150.000 orang Syria di Lebanon sebesar $ 175 per bulan per keluarga. Sementara UNRWA hanya dapat memberi 61.000 warga Palestina sebesar $ 10 untuk setiap anggota keluarga setiap tiga bulan,” ungkap Bassam Khawaja.

Tidak seperti warga Lebanon, warga Palestina tidak bisa mendapatkan pengobatan gratis di rumah sakit. Mereka juga dilarang masuk sekolah negeri. UNRWA telah membuka 67 sekolah dan 27 klinik di Lebanon, namun klinik hanya untuk pemeriksaan umum, sementara pengungsi dengan penyakit serius, seperti kanker, harus mencari bantuan dari LSM lain.

Lebanon memiliki 12 kamp pengungsi untuk menampung generasi-generasi orang-orang Palestina yang melarikan diri dari rumah mereka setelah tahun 1948 Israel berdiri. Mereka banyak mendapatkan kekurangan kebutuhan dasar, seperti jaringan listrik, kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan di Lebanon. (DH/MTD)

Sumber : Al Jazeera
Redaktur : Hermanto Deli

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here