Ini Penjelasan Terkait Potongan Video Ustaz Yazid Tentang Fatwa Hijrah Palestina

6553

*Meluruskan yang Bengkok*

(Postingan Akun Fanpage Muslimina Tentang Potongan Video Ustadz Yazid)


Setiap muslim yang beriman pasti mengecam apa yang dinyatakan oleh Donald Trump dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12) yang menyatakan secara sepihak bahwa “Sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibukota Israel”.
Masalah Palestina merupakan salah satu hal yang wajib untuk diperhatikan dan membebaskannya merupakan perkara syari’at agama kita khususnya bagi salafiyyun, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzhahullah:
” يؤمنُ السَّلفيّون بِأن قَضيّة فلسطين من القضايا التي يجب العناية بها ، وأن تحريرها من الأمور الشرعية الواجبة ، وذلك لما لها من منزلة في الشرع الحنيف ، وقد تتابع السلفيون على بيان ما لها من حقوق ، و أبدوا – كغيرهم – توجّعًا وتألّمًا لما يجري – قديمًا وحديثًا – لأهلها وعلى أرضها ….”
“Salafiyyun mengimani bahwa masalah Palestina merupakan salah satu perkara yang wajib untuk diperhatikan, dan membebaskannya merupakan bagian dari perkara syari’at yang wajib, hal tersebut karena ia memiliki kedudukan (yang tinggi) dalam syari’at yang hanif, dan Salafiyyun terus menjelaskan (kepada umat) tentang hak-haknya seperti yang lainnya, menampakkan keprihatinan dan rasa sakit (yang mendalam) dari apa yang terjadi -sejak dulu dan sekarang- pada penduduknya dan negerinya…” [ As Salafiyyun wa Qadhiyyatu Filisthin, hal.10]

Palestina dan permasalahannya secara khusus apa yang dihadapi sekarang adalah Al-Quds (Yerusalem) adalah bagian dari masalah kita yang tidak terpisahkan.
Perhatian salafiyyun terhadap Palestina yang diduduki Yahudi (Ya, Yahudi bukan Israel) sangat nampak, bahkan penamaan Israel untuk Yahudi yang dianngap sepele sebagian orang mendapat perhatian yang sangat serius, perlu diketahui bahwa penamaan mereka dengan Israel adalah penamaan yang munkar yang harus kita jauhi, kita gunakan nama Yahudi, karena Israel adalah nama Rasul yang mulia yaitu Ya’qub ‘Alahissalam yang tentunya beliau (Ya’qub) berlepas diri dari daulahnya Yahudi yang khabits. Tidak ada (dari sisi Din) hubungannya sama sekali antara Nabiyullah Ya’qub dengan orang-orang Yahudi yang kafir, menamakan orang-orang Yahudi dengan nama Israel adalah menyakiti beliau ‘Alahissalam. [ Lihat penjelasannya pada As Salafiyyun Wa Qadhiyyatu Filisthin, footnote: 3, hal.12-13 ].

Masalah ini adalah masalah yang besar, yang mana lebih bijaknya bagi orang-orang awam untuk berada di belakang ulama dan umara-nya. Semoga Al-Quds (Yerusalem) bisa kembali ke tangan kaum muslimin.

Dalam risalah singkat ini saya tidak akan berpanjang lebar berbicara masalah ini. Yang saya inginkan dari tulisan singkat ini adalah untuk mengingatkan dan meluruskan tuduhan dari sebagian orang yang jahil, tidak bertanggung jawab, yang mana jika dilihat dari perkataannya sangat menyudutkan salah satu du’at Sunnah, guru kami Al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzhahullah, bahkan dengan menjuluki beliau dengan julukan “Rabi Salafi”, ini adalah ejekan dan celaan yang keji. Tahukah pembaca apa arti Rabi itu?, dalam bahasa Ibrani klasik, Ribbi berarti guru atau arti harfiyyahnya ‘Yang Agung’ berasal dari kata Ibrani RAV yang dalam bahasa Ibrani alkitabiyyah artinya “besar atau “terkemuka” (dalam pengetahuan). Maukah anda dijuluki dengan rabi atau pendeta?
Di dalam akun Muslimina pertanggal 10 Desember 2017 dipostinglah potongan ceramah Ustadz Yazid sekitar tahun 2010 tentang masalah jihad dan diberi komentar sebagai berikut:
“Ketika saudara-saudara kita di Palestina mempertahankan Masjidil Aqsha sampai tetesan darah terakhir, Rabi Salafi ini mengatakan lebih baik tinggalkan saja Palestina, adapun soal tanah / Masjidil Aqsha kita serahkan pada Allah”.
Saya memiliki beberapa catatan untuk postingan tersebut:

1. Akhlaq yang tidak terpuji dari si pemosting, dengan memberikan julukan kepada seorang muslim apalagi seorang guru dan da’i sunnah dengan julukan Rabi Salafi, kemudian postingan tersebut menyebakan pro dan kontra, menimbulkan ejekan, cacian, ghibah dari banyak orang, sehingga kehormatan seorang yang berilmu dirusak oleh orang-orang yang tidak mengerti permasalahan, apakah si pemosting tidak sadar kalau dia membuat orang lain berdosa, dan dia pun akan menanggung dosanya, apakah ia mau menjadi orang yang bangkrut pada hari kiamat kelak?, kalau ia tidak sadar atas apa yang ia lakukan maka itu merupakan musibah baginya, tetapi kalau ia melakukannya atas kesadaran dan sengaja Fal Mushibatu A’dzhamu (maka musibah baginya lebih besar lagi).

2. Si pemosting ingin mencari-cari celah untuk membuat situasi kacau dan membuat gambaran yang buruk tentang da’i salaf dan dakwahnya. Pertanyaan saya:
Apa hubungannya antara kasus yang terjadi sekarang dari klaim sepihak Donald Trump atas perkataannya yang keji dan dzhalim terhadap kaum muslimin Palestina dengan fatwa jihad yang ditanyakan oleh si penanya kepada Ustadz Yazid hafidzhahullah pada 7 tahun yang lalu, yang bisa jadi terkesan seolah-olah itu merupakan ceramah beliau yang baru yang berhubungan dengan kasus sekarang, sehingga membuat sebagian orang yang tidak tahu permasalahan menjadi marah dan menggunjing beliau.

Ingat, masalah sekarang lain dan masalah fatwa hijrah lain, kalau si pemosting menyamakan antara keduanya, maka memang betul-betul bodoh, saya sarankan kepada si pemosting dan para pencela, silahkan baca fatwa-fatwa ulama khususnya fatwa Syaikh Albani tentang hijrah dengan kepala dingin dan lihat dalil-dalil yang digunakan, serta lihat kaedah-kaedah yang disampaikan. Jangan berkomentar dan memposting kalau tidak mengerti hukum dan kaedah-kaedahnya, kapan hijrah itu, apa sebabnya-sebabnya dan seterusnya, saya ingatkan berilmu-lah sebelum berbicara atau berbuat.
Sekali lagi antara masalah sekarang dengan kondisi munculnya fatwa hijrah berbeda, 2 kondisi ini yang tidak dipahami oleh pemosting,sehingga membagikan postingan di atas tanpa melihat kondisi dan kemudian memberikan komentar dengan tanpa ilmu.

Perhatikanlah dengan baik potongan video tersebut, Ustadz Yazid hafidhzahullah sedang menjawab pertanyaan orang yang bertanya tentang fatwanya Syaikh Bin Baz dan Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahumallah, kemudian beliau menjelaskannya tentunya dengan global, sedikit rincian dan waktu yang sangat terbatas, walaupun sangat jelas yang beliau sampaikan dan itu bukan perkataan beliau sendiri tapi nukilan dari Ulama, tapi sayangnya si pemosting mengesankan bahwa itu adalah perkataan Ustadz Yazid seorang. Kemudian dengan sadisnya menjuluki beliau dengan Rabi Salafi.

3. Si pemosting tidak memahami arti hijrah, sebab-sebab dan kaedah-kaedahnya, mungkin karena pemahamannya yang belum sampai ke sana,sehingga inilah yang membuat rancu masalah. Saya dapat informasi dari postingan tersebut bermunculanlah komentar-komentar yang bodoh, diantaranya ada komentar yang maknanya seperti ini: “seandainya Belanda (penjajah) yang menjajah Indonesia, kemudian orang-orang Indonesia hijrah dari negeri ini maka Indonesia tidak akan merdeka”
Jawaban:
Jelas sangat nampak kebodohan bertumpuk dengan kebodohan, sehingga semakin jauhnya pemahaman manusia tentang hijrah atau fatwa hijrah, Allahul Musta’an.

Perlu diketahui bahwa fatwa ulama tentang hijrah memiliki asas hukum yang terbangun di atasnya hukum hijrah, artinya hukum hijrah terikat dengannya wujudan wa nafyan (ada dan tidak adanya hijrah).
Diantara asas hukum hijrah adalah :
Ketika seorang muslim tidak mendapati rasa aman di tempatnya, atau tidak sanggup menampakkan hukum-hukum syari’at Allah karena adanya gangguan atau siksaan (bahkan nyawanya bisa hilang) yang mana ia mempertaruhkan keimanannya di situ, maka disyari’atkan untuknya berhijrah, dan ketika gangguan di atas hilang dan kondisi kembali aman maka yang hijrah boleh kembali lagi.

Berikutnya perlu diketahui juga bahwa hijrah itu tidak harus keluar negeri atau keluar distrik tertentu, ketika masih ada daerah-daerah yang aman dalam negeri tersebut, maka ia hijrah ke daerah tersebut yang aman yang masih dalam satu negeri.
Dan inilah juga yang difatwakan oleh Syaikh Albani ketika ditanya tentang sebagian penduduk beberapa kota di Palestina yang dijajah oleh Yahudi tahun 1948M sehingga menjadi budak-budak yang terhina, beliau -rahaimahullah- menjawab:
“Apakah di desa-desa Palestina atau kota-kotanya ada sebuah desa atau kota yang mereka (kaum muslimin) bisa mendapatkan agamanya? Menjadikannya tempat tinggal, yang padanya mereka bisa menolak fitnah? Kalau ada, maka wajib bagi mereka untuk hijrah ke sana (desa atau kota yang aman tersebut) dan tidak keluar dari tanah Palestina, karena hijrahnya mereka dari satu tempat ke tempat lain di dalam Palestina masih bisa dilakukan, serta tujuan dari hijrah dapat terwujudkan.” [Lihat As Salafiyyun wa Qadhiyyatu Filisthin: 21-22]

Perhatikanlah saudara-saudaraku, ini adalah permasalahan ilmiyah yang sangat dalam yang disampaikan oleh ulama yang membantah dan mematahkan para penuduh dengan tuduhan keji bahwa fatwa hijrah merupakan kepanjangan tangan dari rencana Yahudi. Adillah wahai kaum dalam menghukumi !!! Jika anda bertanya kepada saya mengapa Ustadz Yazid tidak menjelaskan dalam potongan video tentang hal ini?
Saya jawab: Beliau menjawab sesuai dengan pertanyaan dan sebagaimana yang saya katakan bahwa waktu soal-jawab itu terbatas sehingga tidak semua permasalahan bisa disampaikan saat itu, kemudian siapa pun yang mengenal beliau sangat tahu tentang keilmuan-nya yang tidak diragukan.

Semoga Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina dan mengangkat penderitaan mereka, Amin.

Ditulis oleh hamba Allah yang faqir akan ampunan-Nya
Salah satu tilmidz Ustadz Yazid Jawas -hafidzhahullah- :
Akhukum Abu Ya’la Kurnaedi

Sumber : FB Ustaz Dika Wahyudi | Fanspage Muslimina

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here