Perbedaan Idul Adha, Buya Gusrizal Gazahar: Sebaiknya Ikuti Keputusan Bersama

231
Buya Gusrizal Gazahar

Moslemtoday.com : Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar menanggapi adanya perbedaan hari raya Iduladha. Menurutnya, jika terdapat perbedaan pelaksanaan, sebaiknya umat mengikuti keputusan bersama.

“Demi kebersamaan umat bila telah diambil keputusan bersama, sebaiknya diikuti. Selama keputusan bersama dapat merangkul kebersamaan, sebelum adanya kesepakatan lain, untuk saat ini patuhilah keputusan yang telah diambil bersama-sama itu,” ucap Buya, seperti dilansir dari Harian Haluan, Selasa, (21/8/2018).

“Buya mengajak agar umat islam di Indonesia terkhusus di Sumbar agar mengikuti keputusan bersama yang memutuskan hari raya iduladha jatuh pada Rabu, (22/8),” ucap Buya Gus.

Berkaitan dengan hal tersebut, Buya yang juga telah resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Penasehat Dai Ranah Minang (Daram) beberapa waktu lalu ini berpesan, umat tidak perlu bertengkar menyikapi perbedaan pelaksanaan Iduladha yang ada di Sumbar.

“Walaupun dalam hati kecil buya ingin adanya kesamaan dalam Iduladha dan sebaiknya memang disamakan. Namun, jangan sampai itu membuat kita untuk bertengkar, beko malah ndak jadi barayo,” ucapnya sedikit berseloroh.

“Mau dia puasa dari Senin, Selasa jangan perbedaan itu yang dititikberatkan, Puasa saja dari tanggal 1 Dzulhijjah. Jangan perbedaan dalam masalah ini yang nanti membawa pertikaian yang mengarah kepada perpecahan umat.

Lebih lanjut Buya Gusrizal menjelaskan, bahwa perbedaan pendapat (ikhtilaf) seperti pelaksanaan Iduladha sudah terjadi dari dulu.

“Ikhtilaf atau perbedaan pendapat fiqh dalam penetapan awal bulan qamariyah telah terjadi semenjak sahabat nabi. Waktu terbenam matahari karena perbedaan letak geografis menjadi alasan perbedaan karena ada dua kelompok dalil yang bisa dijadikan hujjah masing-masing,” tuturnya.

Menurut Buya, Ada kelompok ahli fiqh yang memandang bahwa perbedaan mathla’ (waktu terbit dan terbenam matahari) membawa kepada perbedaan dalam penetapan awal bulan.

“Ada pendapat ulama yang tidak menjadikan itu sebagai alasan perbedaan. Bagi kelompok kedua, rukyah atau penetapan bulan suatu daerah, menjadi keputusan untuk daerah lain walaupun di daerah itu belum terlihat bulan baru. Jika ditanyakan perbedaan itu sesat atau tidak, maka dengan tegas dikatakan bahwa itu tidak sesat,” katanya.

Sumber : Harian Haluan

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here