PM Mahathir Batalkan Dua Mega Proyek Infrastruktur China di Malaysia yang Bernilai Triliunan Rupiah

2274
Mega Proyek Infrastruktur China di Malaysia

Moslemtoday.com : Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad membatalkan dua mega proyek infrastruktur China di Malaysia. Dua mega proyek itu adalah proyek East Coast Rail Link (ECRL) dan proyek pipa gas alam di Sabah. Kedua proyek itu diperkirakan bernilai $ 20 miliar dolar AS atau setara Rp. 300 triliun.

PM Mahathir mengatakan bahwa dia telah menyampaikan pembatalan ini kepada pemerintah China dalam kunjungan kerjanya ke negeri tirai bambu tersebut.

“Saya yakin China sendiri tidak ingin melihat Malaysia menjadi negara bangkrut,” Kata PM Mahathir dalam konferensi pers di akhir perjalanannya ke China hari ini, seperti dilansir dari The New Straits Times, Selasa, (21/8/2018).

Dr Mahathir dijadwalkan terbang kembali ke Malaysia sore ini. Dr Mahathir menegaskan bahwa mengurangi utang dan pinjaman adalah prioritas pemerintahannya saat ini. Dr Mahathir menambahkan bahwa tujuan kunjungan langsungnya ke China adalah mencari cara untuk menyelesaikan utang yang timbul dimasa pemerintahan Datuk Seri Najib Razak.

“Kami tidak ingin ada situasi di mana terbentuk versi baru kolonialisme terjadi karena negara-negara miskin tidak dapat bersaing dengan negara-negara kaya,” ungkap Dr Mahathir.

Dari Sri Lanka ke Djibouti, dari Myanmar ke Montenegro, banyak menerima pinjaman besar untuk pembiayaan infrastruktur dari China. Investasi China telah membawa misi yang kurang sedap, termasuk proses penawaran tertutup yang menghasilkan kontrak yang meningkat dan masuknya tenaga kerja Cina dengan mengorbankan pekerja lokal.

Ketakutan tumbuh bahwa China menggunakan belanja luar negerinya untuk mendapatkan pijakan di beberapa tempat paling strategis di dunia, dan mungkin bahkan dengan sengaja memikat negara-negara berkembang ke dalam perangkap utang untuk meningkatkan dominasi China di saat pengaruh Amerika Serikat memudar di negara berkembang.

Sementara itu, Menteri keuangan baru Malaysia, Lim Guan Eng mengambil contoh Sri Lanka, di mana sebuah pelabuhan laut dalam yang dibangun oleh Cina gagal menarik banyak bisnis. Sri Lanka yang berhutang itu terpaksa menyerahkan pelabuhan itu kepada China dengan sewa 99 tahun dan lebih banyak tanah di dekatnya. Hal itu telah memberikan Beijing posisi terdepan di dekat salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

“Kami tidak ingin situasi seperti Sri Lanka di mana mereka tidak bisa membayar dan Cina akhirnya mengambil alih proyek itu,” kata Lim.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan The New York Times, Dr Mahathir menjelaskan apa yang dia pikirkan tentang strategi Cina. “Mereka tahu bahwa ketika mereka meminjamkan uang dalam jumlah besar ke negara miskin, mereka tahu bahwa pada akhirnya mereka akan mengambil alih proyek itu sendiri,” ujar Dr Mahathir. (DH/MTD)

Sumber : The New Straits Times | Redaktur : Hermanto Deli
Copyright © 1439 Hjr. (2018) – Moslemtoday.com

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here