Preseden Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Rasulullah

105
Image Source : Islamramah.co

Perkembangan zaman yang semakin modern, ternyata tidak menghilangkan kebudayaan patriarki yang masih kental ditengah-tengah masyarakat, terutama sebagian daerah di Indonesia. Kebanyakan masyarakat yang menjungjung patriarki mengatasnamakan aturan adat dan agama. Adanya aturan adat yang menjadikan posisi laki-laki lebih tinggi dan pandangan dalam agama yang memposisikan laki-laki sebagai pemimpin, menjadikan kedudukan laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Di masyarakat biasanya dalam hal pendidikan, laki-laki diperbolehkan meneruskan pendidikan lebih tinggi, sedangkan perempuan tidak diperbolehkan karena dianggap ujung-ujungnya dapur, kasur, sumur. Padahal di zaman modern ini, peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan tidak bisa dinafikan lagi. Dalam masyarakat banyak posisi yang perlu di isi oleh perempuan dalam melakasanakan tugasnya, sehingga perempuan perlu ditunjang dengan tingkat pendidikan yang memadai, dan keterampilan yang mumpuni, karena setiap perempuan mempunyai potensi yang besar jika diberikan ruang menunujukan kemampuannya. 

Sehingga pendidikan dan bekerja merupakan hak fundamental yang seharunya perempuan dapatkan. Dengan begitu bahwa perempuan bukan makhluk yang lemah dan perempuan bisa mencari nafkah sendiri.bahkan dengan hasil kerja kerasanya perempuan bisa kaya raya. Dalam Islam pun perempuan mempunyai hak untuk memiliki harta dan membelajakan, menggunakan, atau menyewakan hartanya sehingga dengan hartanya tersebut bisa memberikan manfaat untuk dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat.

Pada masa Rasulullah Saw sudah ada teladan perempuan yang menjadi saudagar sukses dan kaya raya yaitu Siti Khadijah. Khadijah telah membuktikan walaupun ia seorang janda tapi ia bisa menjadi perempuan mandiri menjadi tulang punggung bagi keluarga dan masyarakat. Dengan kerja kerasnya Khadijah membangun bisnis yang besar dan sukses. Khadijah pun menjadi wanita yang kaya raya dan merekrut banyak warga untuk berbisnis dengannya. Bukan hanya kaya raya tetapi Khadijah pun seorang perempuan derwaman yang menafkahkan hampir seluruh hartanya untuk perjuangan misi Islam. 

Selain Siti Khadijah ada lagi seorang perempuan yang juga kaya raya dan dermawan yaitu Ummu Syuraik Ra. seperti yang diceritakan oleh sahabat Fatimah binti Qais Ra yang tercatat dalam Shahih Muslim.

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتَ قَيْسٍ رَضِبيَ اللهُ عَنْهَاقَالَتْ: . . . وَأُمُّ شَرِيكٍ امْرَأَةٌ غَنِيَّةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ عَظِيمَةُ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَنْزِلُ عَلَيْهَا الضِّيفَانُ

Terjemah:

Fatimah binti Qais Ra. berkata, “. . . Ummu Syuraik adalah perempuan kaya raya dari kalangan Anshar, sering membelanjakan hartanya di jalan Allah, dan banyak tamu yang bertandang ke rumahnya . . .” (Shahih Muslim)

Hadis ini menceritakan Ummu Syuraik Ra. sebagai perempuan yang terkenal kaya dan dermawan. Nama lengkapnya Ghaziyyah binti Jabir bin Hakim. Ketika di Madinah, rumahnya sering menjadi tempat berkunjung koleganya, para tamu komunitas, juga menjadi tempat bagi orang-orang yang tidak memiliki rumah.

Dari preseden perempuan kaya dan demawan yaitu Siti Khadijah dan Ummu Syuraik menjadi teladan bagi perempuan pada masa sekarang, bahwa perempuan berhak atas pendidikan, bekerja, berusaha untuk memperoleh jabatan-jabatan sosial, ekonomi dan politik yang memungkinkan perempuan bisa menjadi kaya raya, bisa beramal dengan hartanya dan perempuan bisa terlibat dalam ruang publik sosial masyarakat. Dalam Islam tidak ada larangan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, bahkan perempuan diberi akses untuk melakukan aktivitas sosial, ekonomi dan politik. Sehingga tidak ada lagi alasan yang melarang atau menjauhkan perempuan dari hak-haknya.

Penulis : Risma Dara (Mahasiswi Jurusan Hadits IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here