Presiden Erdogan Hanya Diam tentang Uighur Selama Pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping

350

Moslemtoday.com : Aktivis Uighur mengkritik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan karena tidak berbicara tentang penindasan Muslim Uighur selama pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, Selasa, (4/7/2019).

Sebaliknya dalam pertemuan tersebut, Presiden Erdogan memuji hubungan baik antara Turki dan China. Presiden Erdogan menekankan bahwa mereka sepakat untuk memperkuat hubungan antara Turki dan Cina di semua bidang dengan perspektif strategis dan jangka panjang.

“Saya percaya ada potensi besar untuk memperkuat kerja sama antara Turki dan Cina, yang dibangun di atas peradaban kuno yang dihubungkan oleh Jalur Sutra dan memiliki hubungan sejak ribuan tahun yang lalu. Kebijakan ‘One China’ sangat penting secara strategis bagi Turki,” kata Presiden Erdogan, seperti dilansir dari situs Kepresidenan Turki.

“Memperkuat hubungan Turki-Cina akan sangat berkontribusi pada stabilitas regional dan global,” tambah Erdogan.

Sementara itu, Dolkun Isa, Pemimpin World Uighur Congress (Kongres Uighur se-Dunia), sebuah organisasi advokasi yang berbasis di Jerman mengatakan bahwa Erdogan telah melewatkan “peluang sempurna” untuk meningkatkan kesadaran tentang kebijakan represif China terhadap kaum Uighur disamping berbicara tentang kerjasama ekonomi di antara kedua negara.

“WUC dan diaspora Uighur sangat sedih dan kecewa dengan tindakan Erdogan karena dia selalu mengaku sebagai pemimpin dunia Muslim, yang membela populasi Muslim di seluruh dunia, tetapi dia tidak bisa berbicara untuk Muslim Uighur di Xinjiang,” kata Dolkun Isa, seperti dilansir dari Middle East Eye, Kamis, (4/7/2019).

“Orang-orang Uighur dan Turki memiliki budaya, sejarah, dan bahasa yang sama; karenanya dibandingkan dengan negara-negara lain, Turki seharusnya menjadi yang pertama untuk menyampaikan keprihatinan atas perlakuan China terhadap Uighur. Tapi Erdogan hanya diam,” tambah Dolkun Isa.

Menurut laporan Amnesty International dan Human Rights Watch, sekitar satu juta orang sebagian besar warga Muslim Uighur ditahan secara sewenang-wenang di kamp-kamp di Xinjiang. Sementara itu, China menggambarkan kamp-kamp itu sebagai “sekolah kejuruan” dan mengatakan kamp itu dimaksudkan untuk mengatasi “terorisme dan ekstremisme agama”. (DH/MTD)

Sumber : tccb.gov.tr, Middle East Eye | Redaktur : Hermanto Deli

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here