Presiden Iran Rouhani tidak menerima pengunduran diri Menteri Luar Negeri Javad Zarif

49
© Pers Global Look / Morteza Nikoubazl / ZUMAPRESS.com

Moslemtoday.com : Presiden Iran Hassan Rouhani telah menolak untuk menerima pengunduran diri Menteri Luar Negeri Javad Zarif, yang telah mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri melalui Instagram.

Teks pernyataan presiden tentang keputusannya, juga diterbitkan di Instagram, disertai dengan gambar yang menunjukkan Rouhani dan Zarif bersama dan tersenyum, serta tagar “#Zarif_is_not_alone” dan “#Zarif_is_staying” di Farsi. Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga mengatakan bahwa pengunduran diri diplomat top itu ditolak.

 

“Semua interpretasi dan analisis seputar alasan di balik pengunduran diri Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, di luar apa yang dia posting di akun Instagram-nya, tidak akurat dan, seperti yang dikatakan kepala staf presiden Iran hari ini, pengunduran diri belum diterima, ”kata juru bicara Bahram Qasemi menurut Kantor Berita Fars.

 

Zarif mengumumkan pengunduran dirinya dalam sebuah pernyataan di Instagram pada hari Senin.

“Saya meminta maaf kepada Anda atas semua kekurangan … dalam beberapa tahun terakhir selama saya menjabat sebagai menteri luar negeri … Saya berterima kasih kepada bangsa dan pejabat Iran,” tulisnya di halaman Instagram-nya, jzarif_ir.

Sebelumnya, mayoritas anggota parlemen Iran menandatangani surat kepada Presiden Iran Hassan Rouhani menuntut Zarif melanjutkan masa jabatannya sebagai diplomat top Iran, media lokal melaporkan, mengutip Ali Najafi Khoshroudi, juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen.

Seorang anggota parlemen konservatif, Javad Karimi-Ghodousi, mengatakan kepada wartawan bahwa menteri luar negeri telah berusaha untuk mundur 13 kali, tetapi semua pengunduran dirinya telah ditolak.

Zarif telah menjabat sebagai menteri luar negeri sejak 2013. Dia memimpin delegasi Iran pada pembicaraan tentang program nuklir Iran dan dianggap sebagai penulis bersama kesepakatan nuklir Iran 2015, juga dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JPCOA).

Sebelum mengemban tugasnya sebagai menteri, ia menjabat sebagai wakil permanen Iran untuk PBB antara tahun 2002 dan 2007. Diplomat top Republik itu juga tinggal di AS selama bertahun-tahun, di mana ia menerima gelar BA dan MA dalam ilmu hubungan internasional, serta PhD dalam ilmu hukum dan kebijakan internasional.

Sumber : RT | Redaktur : Fairuz Syaugi
Copyright © 1440 Hjr. (2019) – Moslemtoday.com

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here