Puluhan Masjid di Myanmar Terancam Digusur

687
A Rohingya Muslim student stands at a window of a local mosque as he memorizes the Koran, near Sittwe April 29, 2013. Myanmar authorities have begun segregating minority Muslims from the Buddhist majority in troubled areas of a country in transition. Picture taken April 29, 2013. To match Special Report MYANMAR-ROHINGYA/REUTERS/Damir Sagolj (MYANMAR - Tags: CONFLICT RELIGION POLITICS) - RTXZMOK

Moslemtoday.com : Warga Muslim Myanmar di Negara Bagian Rakhine akhir-akhir ini tidak bisa menikmati hidupnya dengan tenang. Sebab, seorang pejabat setempat mengumumkan akan meratakan puluhan masjid, 35 sekolah, dan sekira 2.500 rumah mereka dengan tanah.

Pengumuman itu disampaikan lewat jurnal online milik pemerintah Negara Bagian Rakhine. Mengutip pejabat setempat, Kolonel Htein Lin, bangunan-bangunan di Maungdaw dan Buthidaung -wilayah mayoritas Muslim- tersebut masuk ke dalam rencana penggusuran.

Pengumuman itu ditentang oleh Juru Bicara Partai Liga Nasional Demokratik (NLD) Win Htein. Pemerintah Arakan diingatkan agar tidak bertindak di luar batas dengan melakukan penggusuran tersebut.

“Itu melawan regulasi dan peraturan yang berlaku. Mereka tidak punya wewenang untuk menghancurkan masjid-masjid,” ujar pria asal Meiktila, seperti dimuat Time, Jumat (23/9/2016).

Negara Bagian Rakhine menjadi saksi bisu kerusuhan berdarah antara umat Buddha dengan Islam pada 2012. Sejak itu, tensi antara kedua umat beragama tersebut memanas. Lebih dari 100 orang tewas dan 140 ribu lainnya terpaksa mengungsi akibat kekerasan tersebut.

Warga yang paling menderita adalah Muslim Rohingya. Bagi warga Myanmar, mereka adalah imigran ilegal yang berasal dari Bangladesh. Sementara di Bangladesh, keberadaan mereka tidak diakui oleh negara.

Pengumuman tersebut muncul setelah tokoh nomor satu Myanmar, Aung San Suu Kyi, berpidato di hadapan peserta Sidang Tahunan Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS). Perempuan berusia 71 tahun itu sadar Negeri Seribu Pagoda menjadi sorotan dunia atas kekerasan terhadap Muslim Rohingya.

Sumber : TIME

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here