Putra Mahkota MBS : “Kami Akan Melenyapkan Ideologi Ikhwanul Muslimin dari Arab Saudi”

8254

Moslemtoday.com : Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman telah mengkonfirmasi bahwa Arab Saudi sepenuhnya akan melenyapkan seluruh pemikiran dan ideologi Ikhwanul Muslimin yang berkembang di kerajaan tersebut.

“Sekolah-sekolah di Arab Saudi telah dimasuki oleh anggota-anggota Ikhwanul Muslimin, beberapa di antaranya bahkan menjadi pengajar, namun dalam waktu dekat mereka akan kami keluarkan,” ungkap Pangeran MBS dalam sesi wawancara dengan CBS, seperti dilansir dari Eremnews, Selasa, (20/3/18).

Pada pertengahan Juni 2017 lalu, Arab Saud telah menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan teroris dan secara bersamaan merilis daftar nama 59 individu dan 12 organisasi yang disebut terlibat dengan aktivitas terorisme.

Di antara nama yang paling menonjol yang masuk dalam daftar tersebut adalah ulama kharismatik gerakan Ikhwanul Muslimin yang berbasis di Qatar, Syaikh Yusuf Qardhawi dan sejumlah pemimpin IM Mesir seperti Mohammed Islambouli, Wagdy Ghoneim dan Tarek al-Zumar.

Ikhwanul Muslimin atau yang lebih dikenal dengan “IM” adalah gerakan pembaharuan Islam yang didirikan Hasan al Banna di Mesir dengan menganut pemahaman Islam Modernis. Hasan Al Banna terpengaruh oleh pemikiran Muhammad Rasyid Ridha yang membenci praktik bid’ah namun bersikap luwes terhadap pengamalan Al-Quran dan As-Sunah, bahkan memberi kritik terhadap praktik kekhilafahan pada masa Usman bin Affan yang dinilainya nepotis.

Baca juga :

Rasyid Ridha menghalalkan demokrasi. Baginya, sistem demokrasi dapat menciptakan kontrol terhadap kekuasaan sesuai dengan Islam. Ridha banyak terinspirasi dari gurunya, Dekan Filsafat Universitas Al-Azhar Muhammad Abduh, yang jauh lebih liberal dan pemikirannya sering bermasalah dengan kebijakan Al-Azhar yang konservatif.

Arab Saudi dikenal sebagai kerajaan yang mengusung pemahaman Salafi. Dibanding Salafi, IM dikenal lebih luwes dalam memahami teks secara kontekstual dan mengakomodasi istilah-istilah Barat ke dalam terminologi Islam, seperti demokrasi, revolusi, dan demonstrasi. Sementara Salafi dikenal sangat puritan, dan sangat berhati-hati dalam memahami tekstual konsep keislaman.

Di negara-negara Timur Tengah yang dikuasai paham salafi, seperti Arab Saudi dan Kuwait, tidak ada demokrasi dan pemilu. Sementara, negara-negara yang dikuasai IM, seperti Tunisia dan Mesir era Mursi, demokrasi dan pemilu diterapkan.

Dalam kekuasaan, Salafi melarang mengkritik penguasa secara terbuka, seperti aksi demonstrasi. Sementara IM menciptakan karakter pemikiran yang progresif dan mengadopsi gagasan-gagasan Barat sehingga pemikiran IM melawan kekuasaan dengan cara yang lazim digunakan di Barat. Tema-tema keadilan sosial dan revolusi yang menjadi tema kritik oposisi, menjadi cakrawala dan gagasan pemikiran IM dalam politik.

Puncaknya, pada 1964, seorang pemimpin IM, Sayyid Qutb, menulis manifesto Ma’alim fi al-Tariq (petunjuk jalan) dari bilik penjara. Buku Qutb ini memiliki pengaruh yang luar biasa bagi gerakan Islam di seluruh dunia karena berhasil menciptakan dimensi baru tentang tauhid hakimiyah, yaitu negara wajib melaksanakan hukum Islam demi terciptanya keadilan sosial. Menurut Buku Qutb, Pemerintahan Muslim yang dianggap lalai terhadap kewajiban ini maka ia telah keluar dari Islam dan berhak diperangi. (DH/MTD)

Sumber : Eremnews, Al Arabiya, Republika.co.id | Redaktur : Hermanto Deli
Copyright © 1439 Hjr. (2018) – Moslemtoday.com

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here