Ribut Perkara Minyak, Mungkinkah AS dan Arab Saudi Putus Hubungan?

29

Amerika Serikat dan Arab Saudi tengah ribut terkait pengurangan produksi minyak.

Beberapa pekan lalu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC+) menyatakan bakal memangkas target produksi minyak sebesar dua juta barel per hari.

Keputusan ini menuai kritik dari AS. Presiden AS, Joe Biden sampai-sampai menilai Riyadh bekerja sama dengan Rusia untuk mengurangi produksi minyak.

Biden lalu menekankan Saudi akan menerima konsekuensi terkait keputusan produksi minyak itu.

AS meminta Saudi, selaku anggota OPEC, menaikkan produksi minyak agar 15 persen pasokan minyak dari Rusia bisa tergantikan.

Saudi membantah tuduhan tersebut. Mereka juga menegaskan keputusan itu diambil sesuai kesepakatan organisasi.

Terlepas dari itu, apakah perkara minyak ini membuat Saudi-AS memutuskan hubungan diplomatik?

Pengamat kajian Timur Tengah dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Ubaedillah, mengatakan kedua negara itu tak akan memutuskan hubungan diplomatik gegara minyak.

“Untuk memutus hubungan Saudi-AS sepertinya tidak lah. Ini hanya reaksi sesaat dengan situasi politik Rusia-Ukraina, itu saja,” kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (18/10).

Ubaedillah lalu menerangkan sikap Saudi terkait minyak ingin menunjukkan dirinya sebagai negara yang punya pengaruh di kawasan Timur Tengah.

Senada, pengamat Timur Tengah di Indonesia Muhammad Syauqillah, mengatakan perselisihan AS-Saudi hanya dinamika hubungan dan sebagai bentuk penegasan eksistensi Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS).

“Menurut saya, MbS ingin memperlihatkan kekuatan politik kepada negara-negara Arab bahwa dia punya posisi tawar ke AS,” ujar Syauqillah.

Perubahan Hubungan Diplomatik

Sementara itu, pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, mengatakan akan ada perubahan hubungan diplomatik tanpa pemutusan di antara keduanya.

“Hubungan diplomatik akan dipertahankan. Tidak akan diputus. Hanya Kedutaan Besar kedua negara akan dipimpin diplomat senior yang pangkat diplomatiknya di bawah duta besar,” ujar Rezasyah.

Ia menilai ketegangan gegara minyak ini hanya sebentar. AS disebut tak ingin memperparah karena konflik Rusia-Ukraina saja sudah menyebabkan krisis.

Jika krisis energi terus berlanjut harga minyak akan melonjak tajam.

“Bagi AS dan Uni Eropa, mereka sangat mengharapkan suplai [minyak] yang berlimpah dengan harga normal,” kata Rezasyah lagi.

Senada dengan Rezasyah, pengamat kajian Timur Tengah dari Universitas Muhammadiyah Riau, Fahmi Salsabila, mengatakan hubungan diplomatik Saudi-AS tak akan putus.

“Belum sampai ke sana [putus hubungan diplomatik], karena keduanya sama-sama memiliki ketergantungan,” ujar Fahmi.

Saudi dan AS sebetulnya memiliki hubungan yang mesra dan terikat.

Pengikat pertama yakni minyak bumi Saudi yang diproses dan diekspor ke AS serta sekutu.

Ikatan yang memperkuat selanjutnya adalah soal jual beli senjata. Di sektor pertahanan Saudi bergantung dengan AS. Mereka bahkan kerap membeli senjata dengan nilai yang fantastis.

Menurut Fahmi, AS memasok 70 persen persenjataan ke negara Timur Tengah itu.

Selain itu, AS dan Saudi sama-sama menilai Iran ‘berbahaya’ bagi mereka karena dianggap bisa mengganggu stabilitas dan keamanan dunia, dengan pengayaan nuklir yang dimilikinya.

Di mata Fahmi, AS juga tak akan memaksa keputusan Saudi. Mereka takut kejadian 1973 terulang.

“Bisa meruncing nanti seperti tahun 1973, Saudi mengembargo minyak AS,” ucap Fahmi lagi.

Ketika itu, Saudi melakukan embargo minyak dan menyebabkan ekonomi AS serta Uni Eropa terganggu.

Riyadh melakukan embargo sebagai tanggapan karena AS dan sekutunya membela Israel dalam perang 1973. Ketika itu, harga minyak juga naik empat kali lipat.

Fahmi sepakat dengan OPEC bahwa mengurangi produksi bisa membuat harga minyak stabil. Jika produksi minyak bertambah, industri minyak di AS malah bangkrut.

“Kondisi produksi diturunkan malah [membuat] perusahaan-perusahaan minyak AS untung,” kata dia.

Sumber : CNNIndonesia.com

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here