SAS, Terorisme dan Phobia Wahabi

304

Moslemtoday.com : Bukan Said Aqil Siraj (SAS) kalau tidak mengingatkan Wahabi sebagai bahaya yang harus dicermati. Kali ini, dia menyatakan bahwa Wahabi bukan hanya sebagai paham yang patut diwaspadai, tetapi juga perlu ditenggelamkan apabila ingin bebas dari terorisme. Yang terkini, ketua ormas Islam besar ini mengungkapkan bahwa Wahabi sebagai pintu masuk munculnya terorisme. Pandangan ini bukan hanya berpotensi menimbulkan goncangan internal, tetapi akan mengundang pihak eksternal untuk memecah belah kekuatan Islam. Kapasitas SAS sebagai seorang muslim terdidik bukannya memberi pandangan yang teduh dam menyejukkan umat Islam, tetapi justru memberi amunisi bagi pihak lain untuk menciptakan keterbelahan umat dan bangsa. Meski Saudi Arabia mengecam dan memerangi terorisme namun tidak meredakan pihak-pihak yang phobia terhadap Wahabi untuk terus mengkapitalisasi kebencian.  

Wahabi : Ancaman dan Harapan

Pernyataan SAS terbaru tentang ancaman Wahabi kembali memantik konflik internal umat Islam. Betapa tidak, tokoh lulusan negara Wahabi melontarkan Wahabi sebagai penanam benih terorisme. Dia menyarankan bahwa untuk memberantas terorisme, maka harus menghabisi Wahabi. Tentu saja apa yang dilontarkan SAS kembali membuka luka lama terkait bahaya Wahabi. Kalau sebelumnya dia menyatakan bahaya paham Wahabi secara umum dan keharusan untuk mewaspadainya, kali ini SAS menyampaikan rekomendasi untuk menghabisi. 

Pernyataan ini jelas memanaskan situasi dan membelah opini di tengah masyarakat. Dengan pernyataan ini, seolah memberi amunisi kepada berbagai elemen di masyarakat untuk sibuk dalam perdebatan dan bersilang sengketa. Sebagaimana umumnya, perdebatan yang berkepanjangan bukan hanya membelah potensi, tetapi memporakporandakan berbagai sumberdaya umat dan bangsa. 

Sebelum perdebatan yang kontra-produktif, muncul pandangan yang cukup mendinginkan sehingga bisa menetralisir situasi. Kalau SAS merekomendasi untuk menghabisi Wahabi, namun Syafiq A. Mughni menunjukkan bahwa Wahabi bukanlah mazhab yang monolitik, tetapi banyak varian. Sehingga tidak bisa menggebyah-uyah bahaya Wahabi. 

Dalam pandangan ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kalau ada teroris berpaham Salafi, tidak berarti Salafiyah identik dengan terorisme.  Jika ada teroris yang beragama Islam, tidak berarti Islam mendorong terorisme. Jika ada teroris berbangsa Indonesia, tidak berarti Indonesia itu teroris. Menurutnya, terorisme bisa masuk lewat pintu agama, ideologi, ekonomi dan lain-lain. Bahkan dia menegaskan bahwa Muhammadiyah menyuarakan Islam berkemajuan karena Islam yang benar akan mendorong umatnya untuk maju, bukan memecah belah.  

Merujuk pada gagasan yang disampaikan Syafiq, apa yang disampaikan SAS sangat merisaukan dunia akademik. Betapa tidak, sebagai seorang yang berpendidikan tinggi melontarkan gagasan yang menggeneralisir sehingga pandangannya tentang Wahabi bersifat monolistik dan tunggal. Sementara Wahabi sangat banyak variannya dengan karakteristik yang berbeda-beda. 

Bahkan tafsiran tunggal bahwa terorisme disebabkan oleh oleh paham Wahabi jelas mengesampingkan elemen lainnya. Terorisme yang muncul di berbagai belahan dunia juga disebabkan oleh faktor ketidakadilan. Ketidakadilan itu bisa jadi karena faktor ekonomi, politik, atau ketimpangan hukum. Oleh karena itu, ketika menyatakan menghabisi Wahabi untuk mengakhiri terorisme jelas sebuah pandangan yang menutup mata terhadap adanya ketidakadilan sosial di tengah masyarakat.   

Phobia Wahabi

Pernyataan Wahabi sebagai penanam benih terorisme sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh negara yang dituduh sebagai sarang Wahabi. Negara Saudi Arabia justru mencanangkan dan berjuang di garis terdepan dalam memerangi terorisme. Mengutip pernyataan Syaikh Shalih bin Fauzan yang mengkritik para pelaku pengeboman. Dia menyatakan bahwa sangat aneh bin ajaib terhadap para pelaku pengeboman tersebut yang menyebut aksi mereka sebagai jihad fi sabilillah. Karena aksi pengeboman ini mengoyak rambu-rambu Islam, menhilangkan nyawa-nyawa yang haram dibunuh, menghancurkan harta, menghilangkan keamanan manusia, dan merobohkan bangunan-bangunan yang sangat dibutuhkan oleh manusia. 

Bahkan para dai lulusan negeri Makkah dan Madinah juga ikut memerangi dan menyatakan bahwa aksi teroris, dengan bom bunuh diri, bukanlah jihad. Para pengebom dinyatakan tidak mati syahid, dan pelakunya bukan mujahid. Bahkan pelaku terorisme divonis telah melakukan kezhaliman ketiak tidak menghentikan perbuatannya. 

Kalau bom bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang yang terpapar paham terorisme akan menghilangkan nyawa dan merusak bangunan, namun kerusakan yang diakibatkan oleh mereka yang memainkan isu terorisme jauh lebih dahsyat dan massif. Kerusakan yang dahsyat dan massif itu bisa kita lihat dengan terbunuhnya manusia secara sia-sia, serta hilangnya marwah agama Islam ini. 

Berbagai upaya yang dilakukan oleh pengikut Wahabi untuk melakukan perbaikan-perbaikan, dengan menunjukkan penyimpangan para penganut ideologi terorisme, tidak pernah dianggap. Hal ini tidak lain, karena adanya kebencian terhadap Wahabi (Phobia Wahabi) yang sudah pada tingkat paling akut. Kalau selama ini, phobia terhadap Wahabi dilakukan oleh kaum penjajah. Mereka merasa sangat khawatir dengan tersebarnya Islam yang menginspirasi tergeraknya spirit beragama kaum muslimin. Namun saat ini yang terjadi sebaliknya, dimana phobia Wahabi terinfiltrasi ke dalam sanubari seorang muslim terdidik dan tokoh Islam. 

Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari (Dosen politik Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here