Saudi Tidak Pernah Menculik dan Membunuh Musuh-musuhnya

645

Sebagian orang mengonsumsi sumber-sumber tulisan dan berita penuh dengan dusta dan tudingan tidak berdasar tentang Arab Saudi. Andai saja mereka sudi mengutip beberapa sumber dari Saudi tentang negaranya, niscaya akan didapati kelengkapan informasi yang memadai. Tetapi hati kadang telah tertutup. – editor

SEJAK berdirinya Kerajaan Arab Saudi modern pada tahun 1902, tidak pernah ada kasus penculikan warga Saudi dan pembunuhan seorang oposisi. Terlepas dari kenyataan bahwa Saudi berdiri melalui banyak pertempuran dan menghadapi banyak persaingan atau lawan demi penyatuan wilayahnya.

Hematnya, cara Arab Saudi memperlakukan warganya yang memberontak dan mengkhianati negaranya, tampak bagaimana para pemimpinnya berpikir dan mengapa mereka selalu memilih opsi damai.

Pada akhir 1950-an, 1960-an, dan 1970-an, negara-negara Arab telah menjadi tempat persembunyian bagi para pemberontak dan sel-sel oposisi rahasia yang meneriakkan nasionalisme, ba’athisme, dan komunisme. Seperti banyak negara lain, dampaknya terasa ke Arab Saudi.

Tidak pernah ada hari di mana darah tidak tumpah di Baghdad, Damaskus, Libya, Sana’a, dan Beirut. Selalu ada pembunuhan setelah pembunuhan.

Aktivis oposisi di Baghdad pernah dieksekusi secara terbuka di depan umum. Muammar Gaddafi mengejar dan membunuh warga Libya di beberapa kota Eropa, dengan menyebut mereka sebagai “anjing liar.”

Partai Sosialis Ba’ath Suriah yang paling keji menghabisi lawan-lawan mereka di dalam tanki dengan asid fluoride . Sementara Iran mengirim Garda Revolusi Islamnya untuk membunuh anggota organisasi Mujahidin-e Khalq di Eropa.

Dalam sejarahnya, Arab Saudi selalu menjadi korban propaganda melalui media dari negara-negara lawan politiknya. Mereka tidak pernah lelah memprovokasi warga Saudi untuk melawan pemerintahnya dan memberontak. Namun Arab Saudi selalu berusaha menghindari pertumpahan darah dan tidak menggunakan strategi kekerasan ketika berhadapan dengan lawannya.

Dalam keadaan tertentu, kekuatan militer dikerahkan seperti adanya intervensi dari pihak luar di beberapa wilayah Arab Saudi.

Beberapa gerakan pengacau keamanan pernah ditangkap dan sebagian lainnya berhasil melarikan diri. Mereka yang berhasil diringkus, diajukan ke persidangan, diadili dan dipenjara, atau dibebaskan setelah menjalani hukuman atau mendapat keringanan.

Yang paling penting dari semua itu adalah bahwa Arab Saudi tetap berbelas kasih dan manusiawi saat berurusan dengan orang-orang menjadi target penangkapan (buronan). Penguasa di Arab Saudi hingga hari ini tetap berpegang pada ajaran Al-Qur’an, “Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (35:18).

Ada banyak cerita menarik yang menunjukkan cara yang manusiawi dan penuh belas kasihan Arab Saudi dalam menangani orang-orang yang membahayakan negara, terutama warga yang melarikan diri ke luar negeri.

Saya tidak akan menyebutkan nama untuk menghormati keluarga mereka.

Pada akhir 1960-an, salah satu komplotan berhasil melarikan diri ke Mesir, yang merupakan negara utama yang mendukung oposisi Saudi pada waktu itu. Dia mendirikan program radio yang sangat menyinggung dan menargetkan Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya. Selama bertahun-tahun dia melakukan propaganda tersebut, sampai tiba hubungan antara Mesir dan Arab Saudi membaik.

Kemudian dia pindah ke Libya pasca Revolusi Gaddafi tahun 1969, mencoba mencari tempat tinggal alternatif, tetapi ternyata tidak bisa tinggal di sana lebih lama. Akhirnya dia meminta izin ke Raja Faisal, yang awalnya ingin digulingkannya, untuk kembali ke Arab Saudi. Raja Faisal saat itu menjawab, “ini negaranya dan tidak ada yang bisa mencegahnya kembali.”

Pria itu kembali dan menjalani kehidupan normal penuh martabat dengan keluarganya. Yang menakjubkan, di kemudian hari salah satu putranya menjadi pejabat senior di pemerintahan Arab Saudi.

Kisah lain terjadi pada tahun 1970-an. Ini terkait dengan seorang Saudi yang belajar di London dengan biayanya sendiri. Secara kebetulan, di suatu hari ia bertemu seorang pejabat pemerintah Saudi dan terjadi percakapan yang sangat intens di antara mereka.

Pelajar tersebut mengkritik Saudi dan kebijakannya. Tetapi pejabat mendengarnya dengan sangat sabar.

Beberapa hari kemudian, siswa tersebut menerima telepon dari Kedutaan Saudi yang akan memberikan program beasiswa. Beberapa minggu kemudian, istri dan anggota keluarganya masuk dalam program tersebut dan menerima support finansial dari pemerintah Arab Saudi. Dia kemudian kembali ke Arab Saudi dan menjadi kepala salah satu rumah sakit paling terkenal di Saudi.

Ketika Juhayman al-Otaibi, seorang ekstremis Saudi yang mantan tentara, bersama pengikutnya mencoba membajak Masjid al-Haram di Mekah pada tahun 1979, Raja Fahd, yang saat itu masih sebagai putra mahkota sedang menghadiri KTT Liga Arab di Tunisia.

Presiden Irak Saddam Husain menyarankan kepada Pangeran Fahd untuk menghabisi seluruh anggota keluarga dari para teroris itu sebagaimana yang dilakukan di Irak.

Tentu saja, Pangeran Fahd tidak melakukannya. Hanya mereka yang terlibat dalam serangan dan diajukan ke persidangan yang mendapat hukuman. Anak keturunan mereka yang terlibat dalam insiden mengerikan itu, di kemudian hari menjadi pejabat terhormat di Saudi.

*) Diterjemahkan dari tulisan Mohammed Al-Saaed yang dimuat di Okaz Newspaper dan Saudigazzete.

Sumber : Saudinesia.com

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here