Soal Gaj Ahmada, Sejarawan: Itu Sejarah Semu Oleh Amatir

2361

Moslemtoday.com : Sebutan Mahapatih Majapahit Gajah Mada menjadi viral di media setelah nama awalnya disebut Gaj Ahmada dalam buku berjudul ‘Majapahit Kerajaan Islam’ yang ditulis oleh Herman Sinung Janutama.

Kepala Jurusan Sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Sri Margana yang juga seorang sejarawan mengatakan tulisan dalam buku tersebut sudah diklarifikasi oleh penulisnya. Tidak ada sebutan awal Gaj Ahmada sebelumnya.

Soal kontroversi Gaj Ahmada tersebut, Margana mengaku tidak mau terlibat lebih jauh. Namun ia menyimpulkan bahwa tulisan yang ada di buku Herman itu adalah sebuah pseudo history (sejarah semu).

Ya menurut saya tulisan mas Herman Sinung Janutama bisa digolongkan sebagai pseudo history, yang sering dilakukan oleh banyak sejarawan amatir. Sejarawan amatir itu menurut saya, sejarawan yang tidak dididik dan tidak memiliki latar pendidikan tentang sejarah,” kata Margana saat dihubungi oleh detikcom, Minggu (18/6/2017) malam.

Menurutnya sejarawan amatir belajar sendiri, dengan metode sendiri sering melahirkan sebuah tulisan yang disebut pseudo history. Dalam pseudo history, sejarawan banyak melakukan kesalahan pada katagori metodologi. Hal ini dikutipnya dari tulisan David H Fischer yang membuat 11 kategori kesalahan sejarawan.

“Nah hampir semua argumentasi yang dibangun di bukunya pak Herman itu, itu hampir semua mengandung 11 kategori kesalahan itu menurut saya,” tuturnya. “Antara lain yang paling penting, dia adalah kesalahan semantik distortion, distorsi ya dalam bahasa Indonesia, ya distorsi semantik,” sambung Margana.

Kesalahan ini adalah kesalahan yang menyalahartikan makna, kata, atau fakta sejarah. Kemudian selanjutnya adalah kesalahan analogi yang membuat pengandaian atau pembanding yang salah. “Ya memang, ada banyak tulisan dan cara penulisan yang berbeda, ada tulisan ‘Gaja Mada’ tanpa H, ini contoh saja ada banyak tokoh dalam masa Majapahit,” jelasnya.

“Sering sekali orang Jawa mempunyai literatur baru, pada masa abad 17 dan 18, tapi itu tidak ada perbedaan temantik yang berarti, dan itu bisa diterima, dan tidak pernah ada tulisan lain seperti ‘Gaj Ahmada’ dan tidak ada sebutan syeikh pada Gajah Mada,” tutur Margana.

Sumber : Detikcom

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here