Staffan de Mistura Desak Putin untuk Menggelar Pemilu Suriah

493

Moslemtoday.com : Utusan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Suriah, Staffan de Mistura menyerukan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memiliki keberanian untuk meyakinkan sekutunya di Damaskus mengadakan pemilihan baru di negara yang dilanda perang berkepanjangan tersebut.

Staffan de Mistura, yang sedang menengahi perundingan perdamaian di Jenewa, mengatakan bahwa kemenangan militer rezim Assad dalam perang sipil enam tahun di Suriah tidak cukup bagi Bashar al-Assad dan bahwa pemilihan baru diperlukan untuk mencapai perdamaian.

“Ada kebutuhan, langsung, menjadi proses politik yang mencakup semua orang untuk mencapai sebuah konstitusi baru dan pemilihan baru,” ungkap de Mistura seperti dilansir dari Al Arabiya, Kamis, (14/12/17).

Rusia turut ikut campur dalam perang Suriah mendukung rezim Bashar Assad sejak tahun 2015, memberikan dukungan pasukan darat dan udara untuk pasukan pemerintah untuk memerangi kelompok oposisi Suriah dan faksi mujahidin Suriah yang mereka sebut sebagai “teroris”.

Pada hari Selasa, (12/12/1), Putin memerintahkan penarikan pasukan Rusia dari medan perang Suriah dengan mengatakan bahwa misi mereka telah selesai sebagian dalam memberangus kelompok teroris ISIS. Putin meyakinkan rezim Bashar Assad bahwa tidak ada waktu untuk kalah.

Perundingan damai bulan ini, dari delapan putaran perundingan yang telah diperantarai oleh PBB antara pemerintah Suriah dan faksi pemberontak, telah tersangkut pada masalah satu masalah “masa depan Assad”. Kelompok oposisi Suriah yang didukung sekutunya, Turki dan Arab Saudi menegaskan bahwa presiden Assad harus mundur dan tidak mengikuti pemilihan sebagai persyaratak kesepakatan damai. Namun delegasi rezim Assad menolak persyaratan tersebut.

Sebuah diskusi paralel yang diprakarsai oleh Moskow-Teheran-Ankara akan memulai kembali pertemuan pada minggu depan di Astana, Kazakhstan mengenai masa depan Suriah.

Lebih dari 340.000 orang telah terbunuh dan jutaan warga mengungsi sejak konflik tersebut meletus pada bulan Maret 2011 saat demonstrasi menentang rezim Bashar Assad memicu tindakan keras yang brutal dari militer Suriah terhadap para demonstran. (DH/MTD)

Sumber : Al Arabiya
Redaktur : Hermanto Deli

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here