Surat-Surat Soekarno Kepada A.Hassan: Kekaguman Pada Wahabi

761

Setelah lebih mendalam mempelajari Islam dan menggenal Allah SWT dari balik jeruji besi di Penjara Sukamiskin, Sukarno tak berhenti untuk terus mengkaji Islam. Di Kota Ende Kepulauan Flores, Sukarno mengutarakan pandangannya mengenai Islam serta korelasinya dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Sukarno tiba di Ende pada Februari 1934. Sebagai seorang berstatus tahanan politik, gerak-geriknya selalu diawasi ketat oleh pemerintah Belanda. Meski begitu, Sukarno tak dilarang melakukan kegiatan lain, termasuk berkorespondesi dengan rekan-rekannya di Persatuan Islam (Persis), saat ia tinggal di Bandung.

Hal tersebut karena pemerintah Belanda tak memandang Persis sebagai organisasi politik, namun lebih pada organisasi pendidikan dan keagamaan. Dalam surat-suratnya kepada rekan-rekannya di Persis, yang kemudian dikenal sebagai “Surat-Surat Islam dari Ende” di buku “Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) Jilid 1”, kita bisa melihat bagaimana Islam yang ideal dalam pemikiran Soekarno.

Surat-Surat Soekarno Kepada A.Hassan: Kekaguman Pada Wahabi

Kepada A. Hassan, Soekarno bercerita keinginannya membaca buku “Utusan Wahabi”. Ia juga bercerita  telah menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud.Soekarno mengatakan, “Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati,” ujar Bung Karno.

Sepucuk surat nun jauh dari tanah seberang dikirimkan kepada Tuan A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis). Sang pengirim bukanlah orang sembarang. Ia tokoh muda bangsa yang kala itu berada dalam pengasingan di Endeh, Nusa Tenggara Timur. Soekarno, nama pengirim surat itu, tak lain adalah sosok yang kemudian hari menjadi  founding father dan presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno sosok yang berapi-api, cerdas, dan ambisius. Pada masanya, ia juga dikenal sebagai orang yang sangat melek dengan berbagai literatur, terutama literatur Barat. Karena intelektualitasnya yang cemerlang, ia banyak berkenalan dengan orang-orang intelek, termasuk dengan A. Hassan. Soekarno begitu mengagumi pemikiran-pemikiran A. Hassan, terutama dalam soal-soal fikih.

Pada era tahun 1930-an A. Hassan dikenal di kalangan elit intelektual modern sebagai sosok yang cerdas dalam soal-soal agama. Majalah yang dikelolanya di Bandung, yaitu Al-Lisan dan Pembela Islam banyak dibaca oleh berbagai kalangan, termasuk elit-elit sekular ketika itu. Soekarno tertarik dengan cara berpikir A. Hassan dan mengagumi karya-karyanya, serta menganggapnya sebagai sahabat sekaligus guru dalam mempejari Islam. Hassan Bandung atau Hassan Bangil, begitu ia biasa dikenal.

Perkenalan A. Hassan dan Soekarno bermula pada saat keduanya berjumpa di percetakan Drukerij Economy milik pengusaha Cina di Bandung. Saat itu Soekarno sedang mengurus cetakan Surat Kabar Fikiran Rakjat yang menjadi media propagandanya, sementara A. Hassan yang dikenal sebagai penulis, sedang mengurus cetakan buku-bukunya. Dalam setiap pertemuan terjadi dialog dan tukar pikiran. Soekarno tertarik dengan kedalaman pemahaman keislaman A. Hassan, karenanya sedikit demi sedikit ia terbuka untuk mempelajari secara mendalam ajaran Islam. Ketika dalam pembunangan di Endeh, surat-surat dari A. Hassan begitu menghiburnya dalam kesepian dan menggugag pikirannya terhadap Islam.Demikian kisah yang dituturkan oleh Tamar Djaja dalam bukunya “Riwayat Hidup A. Hassan.”

Awal pertemuan di percetakan tersebut berlanjut lewat surat-menyurat keduanya.Dari tanah pengasingan yang sepi di Endeh, Soekarno berkirim surat kepada Tuan Hassan, begitu A. Hassan biasa disapa Soekarno. Kepada Tuan Hassan, Soekarno berkirim kabar dan bercerita panjang lebar mengenai berbagai hal, diantaranya soal taqlid, takhayul, kejumudan umat Islam, dan lain sebagainya. Ia juga menceritakan keinginannya untuk mendapatkan bahan-bahan bacaan Islam, terutama karya-karya A. Hassan. Diantara karya A. Hassan yang ingin sekali ia baca adalah buku berjudul, “Utusan Wahabi”. Sayang, buku ini termasuk karya A. Hassan yang langka dan sulit didapat. Penulis sudah berusaha mencari di Perpustakaan milik A. Hassan di komplek Pesantren Putri Persis Bangil, namun tak diketemukan. Pada masa lalu, isu mengenai Wahabi memang menjadi perbincangan.

Sepucuk surat itu ditulis Soekarno pada A. Hassan dengan ketulusan…

Endeh, 1 Desember 1934

Assalamu’alaikum,

Jikalau saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini : Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al-Muchtar, Debat Talqien. Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.

Kemudian, jika saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid” (kalangan sayyid atau habaib, red). Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusrikan itu. Alasaan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!

Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.

 Wassalam,

Soekarno

Pada kesempatan lain, Soekarno juga berkirim kabar kepada A. Hassan, agar sudi kiranya guru Persatuan Islam itu membantu perekonomian keluarganya, dengan membeli karya terjemahannya mengenai Ibnu Saud (Raja Saudi Arabia yang pada masa lalu disebut wilayah Hejaz). Soekarno menceritakan kekagumannya pada Ibnu Saud setelah menerjemahkan sebuah karya berbahasa Inggris mengenai sosok tersebut. Ia mengatakan pada Tuan Hassan, “Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s (Syiah, pen) akan kehilangan akal nanti sama sekali,” tulisnya.

Kepada Tuan Hassan, ia menceritakan kesulitan ekonomi keluarganya lewat sepucuk surat    …

Endeh, 12 Juli 1936

Assalamu’alaikum,

 Saudara! Saudara punya kartu pos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah SWT punya usul Tuan terima!.

Buat menganjal saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya sudah sesak sekali buat mempelajari segala saya punya keperluan, maka sekarang saya lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud. Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati. Tebalnya buku Inggris itu, format Tuan punya tulisan “Al-Lisaan”, adalah 300 muka (halaman, pen), terjemahan Indonesia akan menjadi 400 muka. Saya saudara tolong carikan orang yang mau beli copy (terjemahan, pen) itu barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan rumah tangga saya yang disempitkan korting itu.

Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menjalin ini buku, adalah suatu confenssion bagi saya bahwa, walaupun tidak semua mufakat tentang system Saudisme yang juga masih banyak feudal itu, toch menghormati dan kagum kepada pribadinya itu yang “toring above all moslems of his time; an Immense man, tremendous, vital, dominant. A gian thrown up of the chaos and agrory of the desert, to rule, following the example of this great teacher , Mohammad”. Selagi menggoyangkan saya punya pena buat menterjemahkan biografi ini, jiwa saya ikut bergetar karena kagum kepada pribadi orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menjelaskan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya. Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati. Inspirasi bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, yang mengira, bahwa Sunah Nabi SAW itu hanya makan kurma di bulan puasa dan cela’ mata dan sorban saja !.

Saudara, please tolonglah. Terimakasih lahir-batin, dunia – akherat.

 Wassalam,

Soekarno

A_Hassan
A. Hassan, Guru dan Sahabat Soekarno

Dalam surat yang lain sebelumnya, kepada A. Hassan juga menceritakan kesulitan hidupnya, dan memberikan tahniah (ucapan selamat) atas berdirinya pesantren yang dikelola oleh A. Hassan dan organisasi Persatuan Islam (Persis). Padahal ketika itu Persis dicap sebagai organisasi pembawa pemahaman baru ala Wahabi yang keras dalam memberantas praktik-praktik yang dianggap takhayul, bid’ah dan khurafat.

Dalam sepenggal surat, Soekarno mengatakan,

Endeh, 22 April 1936

Assalamu’alaikum,

Tuan, post paket yang pertama sudah saya terima, post paket yang kedua sudah datang pula dikantor pos, tetapi belum saya ambil, karena masih ada satu dua kawan yang belum setor uang kepada saya padahal saya sendiri dalam keadaan “kering”, sebagai biasa, sehingga belum bisa menalanginya. Tapi dalam tempo tiga empat hari lagi , niscayalah kawan-kawan semua sudah setor penuh. Di dalam paket yang pertama itu, ada “ektra” lagi dari Tuan , yaitu biji jambu mede. Banyak terimakasih. Kami seisi rumah, itu hari pesta lagi biji jambu mede, seperti dulu. Juga saya mengucapkan banyak terimakasih atas Tuan punya hadiah buku serta pinjaman buku.

Kabar tentang berdirinya pesantren,sangat menggembirakan hati saya. Kalau boleh saya memajukan sedikit usul: hendaknya ditambah banyaknya “pengetahuan barat” yang hendak di kasihkan kepada murid-murid pesantren itu. Umumnya sangat saya sesalkan, bahwa kita punya Islam scholars masih sangat kurang sekali pengetahuan modern science. Walau  yang sudah bertitel “mujtahid” dan ulama sekalipun banyak sekali yang masih mengecewakan, pengetahuannya banyak sekali yang kuarang berkualitas. Dan jangan tanya lagi bagaimana kita punya kiai-kiai muda! Saya tahu, Tuan punya pesantren bukan universitas, tapi alangkah baiknya kalau western science di situ di tambahkan banyak. Demi Allah “Islam Science” bukan hanya pengetahuan Al- Qur’an dan hadis saja; “Islam Science” adalah pengetahuan Alquran dan hadis plus pengetahuan umum. Walau tafsir-tafsir Al-Qur’an masyur pun dari jaman dulu orang sudah kasih title Tafsir yang “keramat” seperti misalnya Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Baidlawi, Tafsir Al-Mazhari dan lain-lain. Masih bercacat sekali, cacat-cacat yang saya maksudkan ialah misalnya bagaimanakah orang bisa mengerti betul-betul firman Tuhan, bahwa segala barang sesuatu itu di bikin olehnya “berjodoh-jodohan”, kalau tidak mengetahui biologi, tak mengetahui electron, tak mengetahui posotif dan negative, tak mengetahui aksi dan reaksi? Bagaimanakah orang bisa mengerti firmannya, bahwa “kamu melihat dan menyangka gunung-gunung itu barang keras, padahal semua itu berjalan selaku awan”, dan bahwa “sesungguhnya langit-langit itu asal mulannya serupa zat yang bersatu, lalu kami pecah-pecah dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air”, kalau tak mengetahui sedikit astronomi? Dan bagaimanakah mengerti ayat-ayat yang meriwayatkan Iskandar Zulkarnain, kalau tidak mengetahui sedikit histori dan arkhaeologi? Lihatlah itu blunder-blunder Islam sebagai “Sultan Iskandar” atau “Raja Firaun yang satu” atau perang badar yang membawa kematian ribuan manusia hingga orang berenang di lautan darah”! semua itu karena kurang penyelidikan histori, kurang scientific felling.

Alangkah baiknya Tuan punya mubaligh-mubaligh nanti bermutu tinggi, seperti Tuan M Natsir, misalnya! Saya punya keyakinan yang sedalam-dalamnya ialah, bahwa Islam di sini, dan di seluruh dunia masih mempunyai sikap hidup secara kuno saja, menolak tiap-tiap “kebaratan” dan kemoderenan” . Al –Qur’an dan Hadis adalah kita punya wet yang tertinggi, tetapi Al-quran dan hadis itu, barulah bisa membawa kemajuan, suatu api yang menyala, kalau kita baca Al-Qur’an dan Hadislah yang mewajibkan kita menjadi cakrawala di lapangan segala science dan progress, di lapangan segala pengetahuan dan kemajuan. Kekolotan, kekunoan, kebodohan dan kemesuman itu menjadi sebab utama Hedjaz dulu memaksa Ibnu Saud merombak kembali tiang radio Medinah. Kekunoan, kebodohan dan kemesuman itulah pula yang menjadi sebab banyak orang tak mengerti sahnya beberapa aturan-aturan baru yang di jadikan oleh Kemal Ataturk atau Riza Khan Pahlawi atau Jozep Stalin! Cara kuno dan mesum itulah, juga di atas lapangan ilmu tafsir, yang menjadi sebabnya seluruh dunia barat memandang Islam itu sebagai satu agama yang anti kemapanan dan yang sesasat. Tanyalah kepada itu ribuan orang Eropa yang masuk Islam di dalam abad kedua puluh ini; dengan cara apa dan darisiapa mereka mendapat pengetahuan baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab; bukan dari guru-guru yang habnya menyuruh muridnya “beriman” dan “percaya” saja, bukan dari mubaligh-mubaligh yang tarik muka angker dan hanya tahu putaran tasbih saham tetapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal, karena berpengetahuan umum. Mereka masuk Islam, karena mubaligh-mubaligh yang menghela mereka itu ialah mubaligh-mubaligh yang modern dan scientific, dan bukan mubaligh “ala Hadramaut” atau “ala kiai bersorban”. Percayalah bahwa , bila Islam di propragandakan dengan c ara yang masuk akal dan up to date, seluruh dunia akan sadar kepada kebenaran Islam itu. Saya sendiri, seorang terpelajar, barulah lebih banyak mendapat penghargaan kepada Islam, sesudah saya mendapat membaca buku-buku Islam yang modern dan scientitif. Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagaian besar ialah oleh karena Islam tak mau membarengi zaman, dan karena salahnya orang-orang yang mempropagandakan Islam, mereka kolot, mereka orthodox, mereka anti pengetahuan dan mereka memang tidak berpengetahuan, tahayul , jummud, menyuruh orang bertaqlid begitu saja, menyuruh orang “percaya begitu saja, mesum mbahnya mesum!

Kita ini kaum yang anti taqlidisme? Bagi saya anti taqlidisme itu berarti bukan saja “kembali” kepada Al-Qur’an dan Hadis, tetapi “Kembali kepada Al-Qur’an dan hadis dengan menggunakan kendaraan pengetahuan umum”.

Tuan Hassan, maafkan saya bila saya punya obrolan ini. Benar satu obrolan , tapi satu obrolan yang keluar dari sedalam-dalamnya saya punya qalbu. Moga-moga Tuan suka perhatikannya berhubungan dengan Tuan punya pesantren. Hiduplah Tuan punya pesantren itu !

Wasalam,

Soekarno

Sebagai seorang sahabat, A. Hassan membantu kesulitan ekonomi Soekarno dengan berusaha mencari penerbit yang bersedia menerbitkan karya Soekarno. Dalam surat tertanggal 18 Agustus 1936, Soekarno mengatakan, “Surat Tuan sudah saya terima. Terimakasih atas Tuan punya kecapaiannya  telah mencarikan penerbit buku saya ke sana-ke sini…”

Soekarno sependapat dengan A. Hassan soal tidak bolehnya melakukan bid’ah, percaya pada takhayul dan khurafat, serta melakukan taqlid buta terhadap persoalan agama tanpa mengetahui sumber rujukannya. Bahkan, kepada A. Hassan dia berjanji akan menulis persoalan taqlid tersebut, yang dianggap sebagai penghambat kemajuan umat Islam. Corak pemikiran seperti itu, pada saat ini seringkali dilekatkan dengan “paham Wahabi”.

Soekarno menulis soal taqlid dalam surat tertanggal 14 Desember 1936,

Assalamu’alaikum

Kiriman “Al-lisaan”, telah saya terima mengucapkandiperbanyak terima kasih kepada saudara. Terutama nomor ekstra persoalan “debat taqlid”, adalah sangatmenarik perhatian saya. Saya ada maksud insya Allahkapan-kapan, akan menulis suatu artikel pemandanganatas nomer extra taqlid itu, artikel yang nanti boleh saudara muat pula ke dalam “Al-lisaan’. Sebab cocokdengan anggapan Tuan, Soal taqlid ini sangat mahapenting bagi kita kau Islam umumnya. Taqlid adalah salahsatu sebab yang besar dari kemunduran Islam sekarangini. Semenjak ada aturan taglid, di situlah kemunduruanIslam cepat sekali. Tak heran ! Dimana genius dirantai, dimana akal pikiran diterungku, di situlah datang kematian.

Saudara telah cukuplah keluarkan alasan-alsan dalil Quran dan hadis. Saudara punya alasan-alasan itu , sangat meyakinkan.

  Wassalam,

Soekarno

Kepada A. Hassan, Soekarno juga bercerita mengenai ibu mertuanya yang telah meninggal dan kritik yang dialamatkan kepadanya karena ia dan keluarga tidak mengadakan acara tahlilan (kenduri bagi orang mati) untuk almarhumah ibu mertuanya. Baginya, mendoakan almarhumah ibu mertuanya dalam setiap shalat sudahlah cukup.

Dalam surat tertanggal  14 Desember 1935, Soekarno menulis,

“Kaum kolot di Endeh, di bawah ajaran beberapa orang Hadaramaut, belum tenteram juga membicarakan halnya tidak bikin “selamatan tahlil” buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu, mereka berkata bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu. Biarlah! Mereka tak tahu menahu, bahwa saya dan saya punya istri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampunan bagi ibu mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan Rahmat-Nya dan Berkat-Nya…”

Begitulah cuplikan surat-surat Soekarno kepada sahabatnya, Tuan A. Hassan. Sahabatnya yang pada masa lalu mendapat stigma “Wahabi” dan dianggap membawa paham baru soal Islam. Soekarno yang belakangan menjadi aktivis nasionalis-sekular ternyata pada masa lalu juga menyimpan kebanggan pada sosok pemimpin Kerajaan Saudi Arabia yang mendukung dakwah Muhammad bin Abdul Wahab, pendakwah yang kemudian menjadi label sebuah istilah “Wahabi”

Unik memang persahabat Soekarno dan A. Hassan. Karena pada masa selanjutnya, dua orang sahabat ini berbeda pandangan soal hubungan agama dan negara. Soekarno mendasarkan pemikiran poltiknya pada paham sekular, sementara bagi A. Hassan, pemerintahan harus berdasarkan Islam. Pemikiran politik kenegaraan Soekarno berkiblat pada sekularisme Turki, sementara A. Hassan mendasarkan pemikiran soal pemerintahan pada dasar Qur’an dan Sunnah.

Meski sahabat karib, A. Hassan tak segan-segan mengeritik Soekarno yang begitu mengidolakan sekularisasi yang diusung oleh tokoh sekular Turki, Mustafa Kamal Attaturk. Bagi A. Hassan, Islam tak bisa dipisahkan dari urusan negara. Kritik A. Hassan terhadap paham sekular Soekarno bisa dilihat dalam buku “Islam dan Kebangsaan“, sebuah karya fenomenal A. Hassan yang mengeritisi kelompok nasionalis-sekular pada masa itu. Toh, meski berbeda pandangan, ketika Soekarno dibui di Penjara Sukamiskin, Bandung, Tuan Hassan dan para anggota Persatuan Islam tetap membesuknya sebagai sahabat. Menghadiahinya buku-buku dan makanan ringan kesukaan Soekarno.

Begitupun sikap Soekarno pada A. Hassan. Meski berbeda pendapat yang tajam soal pemerintahan dan berpolemik keras dalam berbagai tulisan, ia masih takzim dan mengganggap A. Hassan sebagai kawan yang berjasa pada masa-masa awal pengembaraan batinnya dalam mendalami Islam. Sikap tak lupa pada kawan ditunjukkan oleh Soekarno ketika A. Hassan terbaring sakit di sebuah rumah sakit di Malang pada tahun 1953. Entah siapa yang memberi kabar, berita sakitnya A. Hassan sampai ke telinga Soekarno, yang saat itu sudah menjadi Presiden Republik Indonesia. Soekarno pun mengirimkan uang wesel sebesar Rp. 12.500 untuk A. Hassan. Mengetahui bahwa orang yang dirawat di rumah sakit tersebut dekat dengan Presiden Soekarno, para pegawai rumah sakit berubah menjadi lebih perhatian dalam merawat A. Hassan.

Begitu juga pada sekitar tahun 1956, Presiden Soekarno pernah berkirim surat kepada A. Hassan yang berisi ucapan terima kasih atas pengetahuan agama yang didapatnya selama berinteraksi dengan tokoh Persatuan Islam tersebut. Dalam surat itu, Soekarno mengakhiri tulisannya dengan kalimat, “Hutang emas dibayar emas, hutang budi dibawa mati…”.

Referensi :

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here